
Malam ini terasa damai bagi Senja. Dia menikmati makan malam dengan menu sederhana yang dimasak dengan cara tradisional oleh istri dari kang Asep. Beliau adalah warga Badui Dalam yang rumahnya ditempati oleh rombongan Senja dan Sherli.
Rumah Kang Asep ini beralas dan berdinding bambu, serta hanya memiliki satu pintu. Satu pintu ini merupakan sebuah filosofi dimana artinya bahwa di Badui tidak boleh menikah lebih dari 1, sebuah konsep kesetiaan. Selain itu, tidak ada pula paku yang digunakan di rumah tersebut. Untuk menyatukan bahan bangunan mereka menggunakan tali atau semacam rotan.
Setelah selesai menikmati sajian penghilang lapar, mereka berkumpul sembari mengobrol tentang apapun yang ingin mereka tanyakan kepada tuan rumah.
"Kang Asep ini pernah ke Jakarta ya katanya, sudah kemana saja?" tanya Senja mengingat kembali obrolannya dengan kang Asep siang tadi.
"Banyak neng, sampai Bekasi juga pernah," jawab Kang Asep, walaupun dia penduduk asli Suku Badui Dalam namun dirinya sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik, karena sering berpergian untuk menjual madu khas Badui.
"Saya beli madu ya Kang, buat dibawa pulang besok, tolong disiapkan," pinta Senja ingin membawakan oleh-oleh madu Badui kepada teman-temannya.
"Siap neng," jawab Kang Asep.
Selanjutnya Kang Asep juga bercerita bahwa di Badui Dalam, tidak mengenal pacaran, karena sedari kecil mereka sudah dijodohkan. Apabila tidak ada kecocokan, maka sebelum proses lamaran, diperbolehkan menolak perjodohan tersebut. Di Badui juga tidak boleh ada perceraian, apabila demikian maka harus keluar dari Badui Dalam.
Tak terasa obrolan malam makin panjang. Hari semakin larut dan hujan turun tak disangka. Mereka mulai mengakhiri perbincangan dan bersiap untuk tidur. Perjalanan esok masih sangat panjang.
"Kak Senja, temani yuk," dini hari Sherli membangunkan Senja yang tengah tertidur pulas. Dirinya sudah ingin sekali membuang air kecil yang tertahan. Senja membuka mata kemudian meraih senter dan menemani Sherli ke sungai terdekat.
"Bawa payung gak kak?" tanya Senja.
__ADS_1
"Kayaknya udah gak hujan kak, gak usah aja gimana?" tanya balik Sherli.
"Okelah, yuk kak," ajak Senja.
Senja dan Sherli keluar dari rumah kang Asep. Jalanan di depan rumah tersebut sangat gelap karena memang di sana tidak boleh ada aliran listrik. Mereka menuju sungai terdekat. Sherli turun ke bawah dan Senja membantu memberi cahaya dari atas.
"Hati-hati kak," teriak Senja dari atas.
Di Jakarta dini hari ini baru mulai datang hujan. Petir menyambar dengan begitu kencang. Ryota yang baru terlelap setelah sibuk memikirkan sang kekasih terbangun kembali oleh suara petir.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" batin Ryota. Dia begitu khawatir dengan keadaan Senja.
Ryota akhirnya memutuskan untuk bangun dari tidur. Dia menuju kamar mandi. Satu-satunya cara untuk membuatnya tenang dari rasa bersalah ini adalah dengan ibadah malam. Dia harus merayu Tuhan di sepertiga malam seperti saat ini untuk keselamatan Senja juga untuk maaf dari Senja di esok hari saat keduanya bertemu.
Peringatan dari ketua rombongan belum hilang benar di ingatan namun Senja kini sudah tersungkur. Senja mendadak pusing, karena hari ini adalah hari kedua dia kedatangan si tamu merah, ditambah jalanan yang curam dan licin.
"Kak Senja gak papa? yuk duduk dulu," Sherli membantu Senja untuk berdiri dan segera meminta Senja untuk beristirahat sebentar sembali minum air putih yang banyak.
"Sudah enakan?" tanya Sherli.
"Sudah kak, yuk lanjut sudah kuat kok," Senja memaksa berdiri agar bisa segera menyusul teman rombongan lain. Senja sedikit pincang saat berjalan karena tadi kakinya terkilir. Kang Asep pun memberinya tongkat untuk membantunya berjalan.
__ADS_1
Pukul 12.00 rombongan tiba di Desa Cekuem dan setelahnya mereka akan menggunakan kendaraan ELF yang akan mengantarkannya menuju stasiun Rangkas Bitung untuk kembali ke Jakarta.
Sekitar pukul 15.00 mereka tiba di stasiun Rangkas Bitung. Rintik gerimis mulai menusuk, dan segera setelahnya KRL datang. Tuhan begitu baik pada mereka sore ini, mereka masih bisa duduk di KRL di tengah padatnya penumpang.
Senja menyalakan paket datanya setelah sejak kemarin dimatikan. Puluhan pesan membanjirinya kotak masuknya. Pesan dari Ryota akhirnya menjadi yang pertama dia buka. Dia dapat membayangkan jika sedari kemarin kekasihnya tersebut sangat khawatir akan dirinya yang tengah berjalan-jalan penuh suka di Badui
"Aku baik-baik saja Ta, ini perjalanan pulang ke stasiun Tanah Abang, maaf sudah membuat khawatir," Senja mengirimkan pesan singkat kepada Ryota. Setelahnya Senja menghubungi kedua orang tua dan kakaknyanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja saat ini
Sesaat setelah pesan dibaca oleh Ryota, pria berdarah Jepang Jawa itupun segera menelepon kekasihnya. Dia harus memastikan langsung via suara jika kekasihnya baik-baik saja.
"Maaf, maaf, maaf," ucap Ryota. Dia merasa jika dirinya begitu bersalah dan harus segera minta maaf pada Senja nya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Ta, sudah egois dan mengabaikan tanggung jawab, maaf, maaf dan maaf ya Ta," jawab Senja lirih agar tidak menganggu teman sebelahnya yang tengah tertidur.
"No, sayang. Aku yang salah gak bisa ngertiin kamu. Maaf, aku harusnya bisa bersikap lebih baik kemarin," ucap Ryota.
"Aku yang paling salah sayang. Aku bersikap gak dewasa kemarin itu. Aku yang salah jadi aku yang harus minta maaf," Senja pun merasa kesalahan terbesar ada di dirinya. Dirinya yang susah membagi waktu antara belajar untuk persiapan wawancara beasiswa S2 dan pekerjaan. Alhasil belajar selesai hingga larut malam, dan paginya dia menjadi tidak terlalu fokus untuk bekerja maksimal.
"Kita berdua salah sayang. Dan kita harus bisa berubah jadi lebih baik. Kejadian ini jadi pengalaman untuk kita dalam melangkah ke depan," putus Ryota. Dia dan Senja hanya berebut salah tanpa ujung. Pada akhirnya memang sikap keduanya tak ada yang bisa dibenarkan.
"Kamu benar" jawab singkat Senja. Senja sadar jika hubungan yang baik seharusnya saling mengakui kesalahan dan tak sungkan meminta maaf lebih dulu. Selain itu, masing-masing pribadi juga harus sadar dan siap untuk berubah agar hubungan ke depan menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Aku jemput di stasiun ya?" tanya Ryota. Dirinya sudah rindu sekali dengan sang kekasih yang sudah lebih dari 24 jam tak ada kabar sebelumnya.
"Baiklah, see you there (sampai jumpa di sana)." Keduanya menutup panggilan telepon dan Senja berniat menutup mata sebentar sebelum tiba di tempat tujuan.