
Kedatangan Ryota ke London menambah warna tersendiri untuk hari-hari Senja. Setiap hari mereka habiskan untuk mengunjungi banyak tempat wisata yang menarik di negara Inggris. Dinginnya musim bukan penghalang kedua insan yang sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya tersebut.
Hari ini tanggal 31 Desember. Ryota ingin menghabiskan seharian ini hanya di kamar Senja, sekedar main game atau menonton film. Pada malam hari, mereka akan mulai keluar untuk menyaksikan kembang api perayaan tahun baru di London Eye, yang terletak di sisi sungai Thames.
Sekitar pukul 09.00 pagi, Senja baru membuka matanya. Pembukaan mata itupun karena mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya tak berhenti. Siapa lagi kalau bukan Ryota pikirnya.
Senja membuka mata, mengucek matanya pelan dan melihat jam dinding sekilas. Setelah nyawanya cukup terkumpul dia kemudian duduk meminum air putih dan menggerutu dalam hati karena ketukan Ryota tak juga berhenti.
"Haish, Ryota ganggu aja ihh," ucap Ryota sambil berjalan menuju pintu.
"Good morning sayang," sapa Ryota dengan muka imutnya. Dia sadar telah menggangu Senja, maka mencoba menampilkan muka tanpa dosa agar kekasihnya tak makin kesal.
"Haish, aku masih ngantuk tau, yuk masuk," ucap Senja membuka pintu kamarnya lebar agar Ryota bisa masuk ke unit apartemennya.
"Sayang, aku masakin nasi goreng ya, kamu cuci muka aja, gak usah mandi, nanti aja sekalian kalau mau pergi." Demi Senjanya tak makin kesal, akhirnya sogokan memasak sarapan adalah ide terbaik Ryota di pagi ini. Senja membalasnya dengan acungan jempol tanda setuju.
20 menit berlalu, hidangan nasi goreng sudah tersaji dengan lezat di meja, namun Senja masih belum keluar dari kamar mandi.
"Sayang, are you okay?" tanya Ryota khawatir.
"Okay yang, aku hanya buang air besar kok," jawab Senja melegakan Ryota.
"Lama banget yang?" tanya Ryota saat melihat Senja baru saja keluar dari kamr mandi.
"Iya nih, jarang makan buah sepertinya," jawab Senja.
"Yaudah, yuk sarapan dulu," ajak Ryota.
Di sela-sela menikmati sarapan, Senja teringat beberapa hari lalu, dia melihat sebuah artikel yang membahas tentang kesiapan calon pasangan serta pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya saling dibahas sebelum hari pernikahan itu tiba. Hal ini penting sebagai bagian dari keterbukaan komunikasi antar pasangan.
__ADS_1
Senja teringat beberapa hari lalu, ayahnya menelepon bahwa mereka telah menentukan tanggal baik untuk acara pernikahan Senja, dan kemungkinan acara itu hanya berjarak sebulan setelah kepulangannya ke Indonesia, Ryota dan orang tuanya bahkan telah setuju dengan tanggal yang dipilih ayah Senja. Tentu saja, Senja tak punya pilihan lain selain mengikuti keputusan bersama.
"Yang," panggil Senja pada kekasihnya.
"Ya," Ryota menoleh kemudian menatap lekat gadis cantik yang saat ini belum mandi. Dia menggulung rambutnya asal, namun tetap terlihat menawan. Apakah ini pemandangannya kelak saat sudah resmi menjadi suami Senja. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati.
"Aku ingin ngobrolin soal artikel yang habis aku baca, mumpung saat ini kita ketemu," ucap Senja.
"Wahh artikel tentang apa yang?" tanya Ryota antusias.
Senja kemudian berdiri meletakkan piringnya ke wastafel karena sarapannya sudah selesai, kemudian mengambil laptop dan menyalakannya.
Ryota membaca bahasan dalam artikel tersebut, kemudian meletakkan piringnya.
"Yang, tunggu aku minum dulu sebelum kita diskusi." Ryota berdiri mengambil minum di dispenser kemudian meraih kertas dan pulpen dari meja belajar Senja.
"Ok, yuk mulai, kita mau bahas apa dulu yang?" tanya Ryota.
"Menurutku, pernikahan itu soal kesepakatan yang, kamu dari sini setuju gak?" tanya Senja memulai obrolan pagi menjelang siang ini.
"Setuju lah yang, sebagai pasangan tentu jangan sampai saling egois dan ingin menang sendiri, semua harus dibicarakan dengan kepala dingin dan pikiran terbuka," jawab Ryota.
"Okay aku juga setuju itu, baiklah pertama aku mau bahas soal harta dan utang, maaf kamu jangan salah sangka mengganggapku matre ya, kamu boleh skip kalau gak ingin jawab. Kalau aku hartaku gak banyak, hanya tabungan di beberapa bank, deposito, tabungan emas, tabungan saham, dan motor untuk nominalnya nanti aku share, yang jelas sangat sedikit dibandingkan punyamu, kalau utang aku gak ada," jelas Senja.
"Untuk utang aku juga gak ada yang, untuk harta aku sudah punya daftarnya, nanti aku tunjukkan ke kamu karena datanya di laptop, ada beberapa tabungan di beberapa bank, saham, kendaraan dan juga properti," jawab Ryota.
"Gak usah ditunjukin juga gak papa yang. Menurutmu kita nanti perlu pengatur keuangan gak, atau keuangan kita dipegang masing-masing aja?" tanya Senja.
"Aku rasa perlu, aku ingin kamu jadi bendahara rumah tangga kita nanti yang, jadi aku serahkan pendapatan yang aku terima, kamu atur untuk belanja, tabungan atau investasi yang penting nanti kita berdua sama-sama tahu larinya uang kita kemana, uangku kan uangmu juga nanti," jawab Ryota. Kekasihnya ini dulu di kantor memegang jabatan perencana keuangan
__ADS_1
Dia telah ahli mengatur uang perusahaan apalagi nanti urusan rumah tangga mereka kelak. Apalagi dia tahu Senja adalah pribadi yang hemat, maka dia tak salah kelak bersanding dengan gadis ini.
"Baiklah, pembahasan selanjutnya adalah soal anak dan istri bekerja, bagaimana pendapatmu?" tanya Senja.
"Gak masalah untuk istri bekerja yang. Ingat ya sayang, aku gak akan menuntutmu untuk hanya berdiam diri di rumah menunggu anak dan suami. Kamu mau jadi ibu rumah tangga silakan, mau bekerja pun tak masalah, aku yakin kita sama-sama paham peran kita tanpa saling meminta. Kemudian untuk anak, aku tidak akan memaksa kamu untuk mengandung jika kamu belum siap. Tujuan pernikahan jauh lebih luas dari sekedar hanya memiliki anak kan," jawab Ryota panjang dan lebar.
"Untuk urusan domestik, apakah kamu bersedia saling membantu dengan istri?" tanya Senja kembali.
"Tentu saja. Selain soal sepakat, menikah kan juga tentang kerja sama juga yang," jawab Ryota dan Senja hanya mengangguk paham.
"Terakhir ya, apa yang kamu suka dan gak suka dari aku, dan apa yang harus aku perbaiki?" tanya Senja kembali.
"Aku suka semuanya di kamu. Kamu tak hanya cantik di wajah namun juga di hati dan pikiran. Kadang aku merasa kamu terlalu sempurna untuk ku yang biasa aja," jawab Ryota jujur.
"Kamu itu Presiden Direktur yang, kok bilang biasa aja." Senja menggelengkan kepala heran dengan jawaban Ryota.
"Itu hanya jabatan dunia sayang, yang bisa diambil kapanpun oleh pemilik semesta. Lanjut yang tadi ya, aku gak ada yang tak ku suka dari mu, dan menurutku gak ada yang perlu kamu ubah juga. Saat menikah nanti, kita pasti akan belajar dan berproses dengan sendirinya pasti bisa menjadi lebih baik," jawab Ryota.
"Iyap betul sekali, ohya sekarang giliran kamu bertanya atau membahas apapun," ujar Senja mempersilakan kekasihnya mengajukan bahan diskusi.
"Cuma satu kok, apakah ada yang kamu takutkan untuk kita melangkah ke jenjang pernikahan kelak?" tanya Ryota.
"Banyak yang, namun ketakutan itu hilang setelah aku mendengar jawaban dan penjelasanmu tadi. Awalnya aku takut pernikahan itu membuatku terjebak sehingga tak bisa bergerak, terlebih posisimu yang tinggi dan jabatanmu yang disegani orang banyak. Namun, kini aku yakin bersama pasangan yang tepat, semua drama kehidupan ke depan pasti bisa dilalui dengan selamat. Kuncinya adalah sepakat, kerja sama, keterbukaan komunikasi, saling mendukung dan tentu saja di atas itu semua dipayungi oleh rasa cinta dan kasih sayang. Bantu aku ya nanti, agar bisa jadi istri yang baik, menantu yang baik, serta ibu baik, ingatkan aku jika jalanku mulai salah," pinta Senja kemudian memegang erat jemari Ryota. Kedua matanya nampak berkaca-kaca menahan haru di dadanya. Dia merasa Ryota adalah calon suami idaman, tidak hanya berparas tampan serta hartawan namun juga memiliki pemikiran yang terbuka dan mendukung perempuan.
"Pasti yang, ingatkan dan bantu aku juga ya, agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita. Aku sangat-sangat sayang dan cinta sama kamu, terima kasih sudah menerimaku, dan kurang dari satu tahun, kamu akan resmi menjadi tulung rusukku, jangan ragukan aku ya," pinta Ryota kemudian memeluk erat Senja. Keduanya kini saling menangis. Senja menangis haru karena rasa takutnya yang sirna, sedangkan Ryota menangis senang karena Senja telah menerimanya serta hubunganya yang makin membaik saat ini.
"Udahh ahh nangisnya," Senja melepas pelukan.
Dan kemudian Ryota reflek mencubit hidung Senja karena gemas.
__ADS_1
"Hish mulai deh," Senja membalas menjewer telinga kiri Ryota.