
Senja keluar dari KRL dengan sedikit tertatih. Ransel besar di punggungnya bertambah berat dengan madu khas Badui untuk teman-temannya. Ryota tentu saja sudah menunggu di parkiran stasiun sesuai permintaan Senja di pesan tadi.
"Pulang sendiri atau dijemput kak?" tanya Sherli.
"Dijemput kak, sudah ada di parkiran cowokku," jawab Senja.
"Okedeh kak, kita pisah di sini ya, hati-hati ya," Sherli melambaikan tangannya dia harus mencari KRL arah bogor untuk mengantarnya pulang. Setelah perpisahan itu Senja segera mencari mobil Ryota di tempat parkir.
Ryota melihat Senja sedikit kesusahaan saat berjalan. Senja masih membawa tongkat dari Badui untuk membantunya berdiri sempurna. Dia segera keluar dari mobil bermaksud membantu sang kekasih.
"Ya ampun, kakimu kenapa yang, sini aku bawa aja ranselnya," Ryota meminta Senja melepas ranselnya dan membawanya.
Senja menceritakan jika tadi dirinya terjatuh karena merasa kepalanya begitu pusing serta jalanan di sana yang curam dan licin. Ryota yang mendengarnya saja begitu miris. Dia tahu bagaimana keadaan Senja jika hari-hari awal tamu merah datang, dan saat ini si merah datang di saat kekasihnya tersebut tengah berjalan menuruni kaki gunung. Sungguh tak bisa dia bayangkan apalagi membawa ransel yang menurutnya saja sudah sangat berat.
"Mau dipanggilkan tukang pijat?" tanya Ryota. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju kosan Senja.
"Gak usah Ta, aku ada minyak urut," jawab Senja. Ryota hanya mengangguk paham.
Dila, Alya dan Rinta langsung melakukan panggilan ponsel sesaat setelah Senja membalas pesan di grup Empat Sekawan.
"Asli parah, kemana saja bund gada kabar?" cerocos Alya.
"Iya mbak Senja, bikin sachou hampir lapor polisi haha," tawa Dila. Senja yang mendengarnya hanya tersenyum dan kemudian melirik sekilas ke arah Ryota yang sibuk menyetir namun masih bisa mendengar obrolan para gadis tersebut.
"Ampun... maaf ya guys, maaf atas kepergian mendadak dan tanpa kabar kemarin," ucap Senja merasa bersalah kepada teman-temannya.
__ADS_1
"Ini kalau gak ada oleh-oleh kayaknya kurang berasa maafnya," canda Rinta.
"Tenang, aku bawa madu dan kain khas Badui untuk kalian dan partner, jadi harus ada maaf untuk ku," seloroh Senja.
"Maafin gak ya?" tanya Alya.
"Lihat oleh-olehnya besok deh," ucap Rinta sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
"Setuju," jawab kompak Alya dan Dila.
Tiba di kosan tercinta, Senja segera meletakkan ransel tanpa terburu membukanya. Dia akan mandi kembali sembari berganti pelapis si tamu merah. Ryota sadar diri segera melakukan pemesanan makanan untuk dieinya dan sang kekasih bersantap malam. Pilihannya kali ini adalah ramen kuah dan susu almond.
"Aku order ramen kuah sama susu almond buat kita, kamu mau menu lain gak yang?" tanya Ryota saat melihat Senja sudah selesai dari kamar mandi.
"Gak deh," Senja menjawab singkat kemudian mencari sesuatu dari lemari.
"Baunya aneh yang," komentar Ryota saat memasuki kamar Senja.
"Aku habis oleskan minyak urut ini sayang," ucap Senja menunjuk minyak yang barusan dia pakai. Kemudian Senja berdiri menyiapkan Ramen yang dipesan oleh Ryota. Ryota tentu saja masih melihat dengan rasa penasaran tinggi tentang minyak yang baru saja dipakai oleh Senja.
"Minyak Kutus-kutus?" gumam Ryota. Dia baru pertama kali melihat minyak tersebut.
"Jadi minyak ini tuh dibuat dari ramuan rempah dan herbal, katanya minyak ini sering dianggap sebagai obat untuk segala keluhan bagi pelanggannya, salah satunya untuk mengatasi pegal dan masuk angin," jawab Senja menjelaskan sambil menyuapkan kuah ramen ke mulutnya.
"Oh mungkin dari rempah itu ya baunya agak aneh menurutku," ucap Ryota. "Perutmu aman kemarin yang, kan biasanya awal datang bulan suka sakit?" lanjut Ryota bertanya dengan penuh khawatir.
__ADS_1
"Aman kok yang, hanya saja aku kurang minum air putih jadinya pusing tadi. Maaf ya sudah membuatmu khawatir," Senja kembali meminta maaf atas kekacauan yang telah diperbuatnya kemarin dengan pergi tanpa kabar.
"No, sayang aku penyebab awalnya, maafin aku ya yang masih mengedepankan ego," ucap Ryota.
Senja sudah tidak berkomentar lagi karena ending-nya mereka hanya akan berebut maaf seperti di telepon beberapa jam lalu.
"Alhamdulillah," pekik Senja saat melihat pesan masuk di emailnya.
"Eh kenapa?" tanya Ryota bingung.
"Ini aku ketrima di kampus yang aku pengen Ta, di London," jawab Senja kegirangan kemudian menunjukkan isi email ke pada Ryota.
"Alhamdulillah," jawab Ryota ikut senang. Namun sungguh di dalam hatinya begitu sedih karena artinya sebentar lagi dia akan berpisah dengan Senjanya. Seharian tanpa kabar dari Senja kemarin sudah membuatnya hampir gila meskipun masih di negeri sendiri, bagaimana ini jika di negeri orang.
"Ta," Senja menyenggol pelan lengan Ryota yang terdiam beberapa saat.
"Eh iya sayang, kamu kapan berangkat?" tanya Ryota.
"Belum tahu Ta, kan beasiswanya belum dapet." jawab Senja mulai lesu. Proses pendaftaran beasiswa dan kampusnya memang dilakukan terpisah. Pengumuman saat ini hanya untuk penerimaan sebagai mahasiswa di kampus London, sedangkan untuk beasiswa masih on process. Namun biasanya jika kandidat pencari beasiwa sudah mengantongi surat diterima dari kampus asal bisa menjadi prioritas penerima beasiswa. Senja berharap demikian.
"Eh aku mau diolesi minyak itu juga dong yang," Ryota mengalihkan pembahasan tentang kampus dan beasiswa yang baginya terasa menyedihkan.
"Kamu buat apa?" heran Senja.
"Semalam tidurku kurang, jadi biar gak sakit aja," ucap Ryota sambil merapikan tempat bekas ramen.
__ADS_1
"Maaf ya Ta, sudah membuatmu jadi kurang tidur," Senja kembali merasa bersalah.
"Sayang jangan sedih gitu dong," Ryota menggengam erat jemari Senja. "Aku gak papa," Ryota kemudian mengecup pelan jemari Senja.