Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Minggu Menyebalkan


__ADS_3

"Loh, mbak Senja kok ke kantor hari ini?" tanya Pak Agus security gedung Menara Akira saat melihat Senja berjalan ke area lobi.


"Eh Pak Agus, selamat pagi Pak, iya ini mau ambil dokumen ke atas," sapa Senja.


"Pagi mbak, lupa gak nyapa mbak Senja hehe," Pak Agus tertawa karena kedatangan Senja langsung disambutnya dengan pertanyaan bukan sapaan.


"Memangnya mbak Senja, tidak diberitahu kalau hari ini ada pemadaman listrik sementara karena untuk pemeliharaan jaringan?" tanya Pak Agus.


"Waduh, iyakah Pak, kayaknya saya miss deh, bentar saya cek email dulu," Senja membuka aplikasi email kantor di ponselnya. "Oya pak, saya ketinggalan info itu, kira-kira sampai kapan pak pemadamannya?" tanya Senja.


"Kayaknya sampai siang mbak pukul 12 siang, kalau ambil dokumennya nanti saja bagaimana mbak?" tanya Pak Agus.


"Oh tunggu pak," Senja mencoba menelepon Radit. Dia ingin memastikan apakah dokumennya boleh di-email nanti siang atau tidak. Namun, kekecewaan lagi-lagi didapatkan oleh Senja. Dokumen yang dimaksud harus segera di-email karena akan digunakan oleh Ryota untuk meeting dua jam kemudian.


Senja mendengus kesal, mau tak mau dia harus mengambil dokumen itu melalui tangga darurat. Karena ada pemadaman listrik, secara otomatis lift juga tidak berfungsi. Semangat Senja anggap saja saat ini kamu sedang berjuang untuk membantu Ryota. Senja mencoba menyemangati dirinya sendiri karena sebentar lagi perjalanan panjang nan melelahkan akan dia lalui.


"Boleh saya ke atas lewat tangga darurat saja Pak, karena dokumen itu akan digunakan sachou untuk meeting?" tanya Senja.


"Boleh mbak, saya temani ya sekalian saya mau patroli ke atas, tunggu," Pak Agus kembali ke pos untuk mengambil perlengkapan unuk patroli sekaligus dua botol air mineral yang masih tersegel.


"Ini mbak, biar nanti di tangga bisa diminum kalau haus," Pak Agus menyerahkan air mineral kepada Senja. Senja menerimanya dengan senang hati. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju tangga darurat.


Pak Agus dan Senja berjalan santai di tangga. Hal ini agar tak terasa capek. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari asal daerah, tempat tinggal hingga trending topic di twitter. Ternyata Pak Agus cukup aktif juga di dunia media sosial.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu kini keduanya telah tiba di lantai 18 ruang kerja Senja. Pak Agus membuka pintu divisi financial planning dengan kunci yang dia bawa, kemudian keduanya masuk ke dalam. Senja bergegas mencari dokumen di laci Radit yang kebetulan tak dikunci oleh pemiliknya. Saat dokumen sudah ditemukan, Senja segera me-scan dokumen tersebut dengan aplikasi scanner di ponselnya dan segera dikirim ke Radit.


"Selesai pak, mari kita ke bawah," ajak Senja kepada Pak Agus saat permasalahan dokumen sudah beres.


"Terima kasih banyak ya Pak, saya pamit pulang duluan, mari," Senja berpamitan untuk kembali ke kosannya agar melanjutkan acara bersantainya apalagi setelah olahraga pagi barusan.


Di halaman kosan Senja.


"Senja bakal kesel gak ya harus naik tangga darurat ke lantai 18?" tanya Aldi kepada Alya. Keduanya kini duduk di gazebo halaman kosan Senja. Mereka berdua bertugas untuk menggiring Senja menuju tempat perayaan ulang tahunnya.


"Haha biarin, Senja itu mageran biar sesekali gerak," tawa Alya membayangkan Senja yang naik turun tangga.


Di saatnya keduanya tengah asyik tertawa dan mengobrol, Senja pun tiba bersama ojek online ijo-ijo. Duo Al pun akhirnya menghampiri Senja yang baru turun dari motor.


"Bantuan apa Al?" tanya Senja heran. Rasa lelahnya dari naik turun tangga belum usai, ini satu lagi temannya mau minta bantuan.


"Temani sepupuku nonton Ja, please," pinta Alya dengan puppy eyes-nya.


Senja melirik jam di ponselnya dan masih pukul 10.00, apakah sudah ada bioskop yang buka di jam sekarang.


"Emangnya sekarang ada bioskop yang buka? dan lagi kalian mau kemana, kok bukankalian yang menemani?" heran Senja.


"Udah ada kok yang buka, ini ya tiketnya sepupuku lagi jalan ke sana, kami gak bisa temenin dia Ja," tiba-tiba Alya mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Eh... eh kenapa Al?" Senja kemudian memeluk erat Alya yang mulai sesegukan.


"Orang tua sepupunya Alya itu lagi dirawat Senja, jadi kami mau kesana menjenguk sekalian donor darah. Stok darah sedang habis maka dari itu kami harus segera kesana untuk mendonorkan darah kami. Sedangkan sepupunya Alya trauma dengan darah sehingga tidak mungkin kesana, tolong ya Senja," Aldi bantu menjelaskan sekaligus meminta tolong.


"Yaudah aku ke bioskop sekarang, ini aku langsung order ojek ini," ucap Senja merasa tak tega dengan kondisi keluarga Alya. Toh hanya sekedar menonton dan bioskopnya juga tak terlalu jauh.


Senja segera menuju bioskop tanpa masuk kembali ke kamar kosannya. Untuk urusan menolong orang dirinya memang tak pernah berpikir panjang. Sepeninggalan Senja, Alya segera menghapus air mata palsunya, keduanya saling tertawa dan bertos ria. Keduanya lantas segera dan bergegas menuju mobil untuk membawanya ke TKP.


Senja tiba di bioskop yang berada di lingkup salah satu kampus Seni. Dia menengok ke kanan dan ke kiri namun tak begitu banyak lalu lalang manusia menuju bioskop tersebut. Sapaan petugas bioskop pun membuyarkan lamunan Senja.


"Silakan masuk mbak, film XXX akan segera diputar," petugas itu menyebutkan nama film yang ada di tiket Senja.


"Tapi teman saya belum dateng, tunggu dulu deh mbak," tolak Senja.


"Tunggu di dalam saja mbak, nanti temannya saya arahkan ke dalam. Pengunjung yang lain juga sudah di dalam," paksa petugas tersebut. Senja akhirnya mengalah, dia menyerahkan potongan tiket ke petugas dan melangkah menuju ruang teater yang sudah ditentukan.


Gelap. Begitulah kesan pertama yang didapatkannya. Dan jangan lupakan Sepi. Memang ada beberapa orang duduk secara terpisah, namun kursi yang kosong masih sangat banyak. Senja juga tidak bisa mengenali pengunjung bioskop lainnya karena kondisi gelap. Senja sempat merasa curiga namun dia urungkan perasaannya dan tetap berjalan menuju kursi sesuai yang ditunjukkan oleh petugas.


Senja duduk sendiri. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mulai menghadap layar karena film akan segera diputar. Dia mengernyitkan dahi merasa bingung karena film yang diputar sebenarnya bukan film baru. Lagi lagi dia membiarkan itu karena tiketnya pun juga gratis, anggap aja hadiah ulang tahun dari Alya dan Aldi untuknya.


Satu jam telah berlalu. Namun sepupu dari Alya belum juga tiba. Dia berencana untuk menghubungi Alya. Saat dirinya tengah sibuk mengetik pesan, panggilan dari dalam layar bioskop berteriak menyebut namanya.


"ROMANSA KALA SENJA."

__ADS_1


__ADS_2