
Selepas makan malam, Bu Dewi menahan Senja untuk pulang. Alhasil, Senja memutuskan untuk bermalam di unit apartemen Ryota. Dia se kamar dengan Bu Dewi dan Ryota se kamar dengan papanya. Minggu pagi, Senja diantar pulang oleh sang kekasih. Keduanya berjalan kaki namun nampak saling terdiam sejak keluar dari lift, dengan tangan tetap saling bergenggaman.
"Are u okay?" tanya Ryota khawatir sang mama berbicara banyak hal sehingga membuat Senja merasa insecure.
Senja yang ditanya masih terdiam mengingat pembicaraan semalam dengan Bu Dewi, mama Ryota.
Flashback on
"Kamu tahu soal Tsubaki?" tanya Bu Dewi menoleh kepada Senja.
"Iya bu, CEO Sato Construction kan ya?" Senja berbalik tanya.
"Selain itu?" tanya Bu Dewi lagi.
"Mantan dan cinta pertama Ryota," jawab Senja.
"Iya benar dia mantan Ryota, saya tidak setuju dengan hubungan beda keyakinan akhirnya Ryota memutuskan hubungan mereka, kamu harus jaga Ryota dari dia ya!" ucap Bu Dewi teringat hasil penyelidikan asistennya beberapa bulan lalu tentang Tsubaki.
"Kenapa Bu?" tanya Senja sambil mengelap kedua tangannya, karena telah selesai bersih-bersih kemudian menatap Bu Dewi.
Bu Dewi masih belum bercerita, namun meminta Senja menginap agar saat di kamar dia bisa bercerita banyak.
__ADS_1
Berdua di kamar, Bu Dewi menceritakan banyak soal Tsubaki. Senja begitu merasa sedih dan kasian akan kelamnya hidup dia. Namun di sisi lain dia juga bingung mengapa mamanya Ryota ini begitu percaya dan bahkan meminta Senja menjaga putranya, apa gerangan yang akan diperbuat Tsubaki pada Ryota, Bu Dewi masih belum menjelaskan detail.
"Kenapa ibu begitu percaya saya? tidakkah saya juga punya potensi yang sama untuk melakukan hal buruk pada Ryota atau sekedar memanfaatkan dia, terlebih dia seorang pewaris tunggal?" tanya Senja.
"Memang kamu berniat melakukan hal buruk atau memanfaatkan Ryota apa?" tantang Bu Dewi.
Senja hanya terdiam, terlihat berpikir. Dia sebenarnya tak pernah ada niatan kesana dengan Ryota. Dia begitu tulus. Dan pertanyaan tersebut baginya ingin menguji sang calon mertua, namun malah menjadi jebakan untuk dirinya sendiri.
"Saya yakin kamu tidak akan berbuat demikian Senja, saya tahu keluargamu," ucap Bu Dewi.
"Bagaimana ibu tahu?" tanya Senja heran, bukankah dia baru berkenalan nama hari ini, bukankah baru tadi pula dia bercerita soal keluarganya, kenapa bisa tahu.
"Suatu saat kamu akan tahu, sekali lagi tolong bantu jaga Ryota. Anak itu selalu berpikiran positif dan peduli terhadap orang lain, terlebih kisah mereka diakhiri oleh Ryota, itu bisa jadi celah buruk," Sebagai istri CEO, Bu Dewi begitu paham perannya untuk melindungi keluarganya dari para pengganggu-penggangu. Tak salah dia meng-hire asisten dengan kemampuan mumpuni untuk membantunya. Kebahagiaan dan keutuhan rumah tangganya adalah bagian dari tanggung jawabnya. Sang suami dan putranya yang telah lelah dengan pekerjaan sebagai CEO yang harus memastikan perusahaan berjalan dengan baik untuk kesejahteraan banyak pihak tak boleh dibebani urusan pengganggu seperti ini.
"Hey, kamu mikirin apa?" tanya Ryota kembali menyadarkan Senja dari lamunannya, karena saat ini keduanya telah sampai di depan kosan Senja. Ryota akhirnya meminta Senja duduk di gazebo depan kosannya agar bisa leluasa bercerita.
"Sayang, mama gak bilang aneh-aneh kan?" tanya Ryota lagi merasa khawatir.
"Ta," Senja mulai bersuara.
"Hmmm," gumam Ryota.
__ADS_1
"Kamu masih berkomunikasi dengan Tsubaki?" tanya Senja menatap Ryota.
"Apa ini yang mengganggumu sedari tadi hmm? Iya aku masih berkomunikasi dan itu pure soal kerjaan, kamu mau lihat history chat-nya?" ucap Ryota, baginya keterbukaan dengan Senja adalah yang utama saat ini, dia juga merasa tak ada yang perlu ditutupi antara hubungannya dengan Tsubaki di depan Senja.
"Gak perlu aku percaya," Senja menggelengkan kepalanya "Apa kamu keberatan jika tiap kali kamu ada pertemuan dengan nya kamu sekedar info ke aku?" tanya Senja kembali berharap dengan Ryota melapor saat sedang bersama Tsubaki, dia bisa ikut menjaganya, entah akan menjaga seperti apa.
"Enggak keberatan sayang, bagaimana kalau kita saling cerita tiap hari ketemu siapa aja, khususnya bila bertemu orang yang kita berdua sama-sama belum saling tahu sebelumnya, atau orang yang tidak setiap hari kita temui?" tanya Ryota. Baginya komunikasi adalah yang utama, dia tak ingin kelak akan mengalami salah paham sehingga menjadi beban pikiran dari keduanya.
"Aku sangat setuju," Senja mulai tersenyum kepada Ryota, dia lega Ryota begitu ingin menjaga hubungan ini dan memahami kegelisahannya.
"Pokoknya kalau ada yang mengganggu pikiranmu cerita ya, aku pun juga. Tsubaki adalah masa lalu dan kamu adalah masa depanku, jadi kamu percaya ya sama aku," ucap Ryota meyakinkan Senja.
"Apakah boleh Ta, jika aku berharap kamu segera menikahiku?" ucap Senja, dia merasa hubungan pacaran tak perlu berlangsung lama, toh keduanya juga sudah saling dekat dan mengenal sebelum berpacaran.
"Bahkan aku ingin segera menikahimu Senja," jawab Ryota tegas.
"Hmm aku terpikir mengenalkan mu ke orang tuaku nanti saat kita kunjungan ke Jawa Timur, tapi musti pelan-pelan ya," ucap Senja sambil mengelus pelan tangan Ryota.
"Iya sayang aku paham kok makasih ya sudah ingin mengenalkanku pada mereka, itu artinya kamu percaya denganku. Apakah ada yang masih mengganggu pikiranmu lagi?" tanya Ryota.
"Enggak Ta, aku masuk ya, semalam Ibu mengajak ngobrol sampai larut, sekarang aku mulai ngantuk lagi," ucap Senja.
__ADS_1
"Haha, mama begitu senang bertemu kamu sampai tak ingat waktu, nice dream sayang, aku balik ya," Ryota mengacak rambut Senja dan kemudian kembali ke apartemennya.
Selesai berganti baju, Senja mulai berbaring di ranjangnya. Matanya memang begitu mengantuk, namun apa daya otaknya masih berkeliaraan kemana-mana. Ingatannya melayang saat pertemuan pertamanya dengan Tsubaki ketika meeting presentasi peserta tender beberapa waktu lalu. Tsubaki begitu intens menatap sang kekasih dengan tatapan sulit diartikan. Apakah Tsubaki akan merebut Ryotanya? Bagaimana menjaga Ryota dari Tsubaki seperti yang dimaksud mama Ryota? Apakah mungkin Ryota tak akan berpaling? banyak pertanyaan mulai mengganggunya, hingga dia pun akhirnya terlelap.