Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Bahagia Selamanya


__ADS_3

Malam semakin larut, para tamu telah pulang. Kedua orang tua Ryota dan sepupunya sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap. Ryota tak sabar ingin merebahkan tubuhnya ke ranjang, memeluk seseorang yang kini telah sah menjadi miliknya. Namun, lagi-lagi panggilan dari Langit dan Angkasa membuyarkan harapannya.


"Duduk sini Ta, ngobrol dulu," panggil Angkasa kepada adik iparnya yang baru selesai dari kamar mandi.


Ryota pun kemudian duduk di sofa ruang televisi. "Buru-buru amat Ta," goda Angkasa. Ryota hanya tersenyum kecut bingung menanggapi apa. Dia ingin segera ke kamar untuk beristirahat setelah padatnya acara pernikahan hari ini, namun sepertinya otak kedua kakak iparnya ini memikirkan yang lain.


Setengah jam berlalu mereka masih asyik mengobrol, dan bu Metta mendatangi mereka untuk segera bubar agar Ryota bisa beristirahat. Titah sang ibunda akhirnya didengar dan dituruti oleh kedua kakak Senja ini.


Ryota berjalan menuju kamar Senja. Dia membuka pintu dengan pelan, khawatir istrinya sedang terlelap. Faktanya, sang istri masih asyik cekikikan membalas pesan di grup Empat Sekawan. Teman-temannya sibuk menggoda Senja.


"Kirain udah tidur," ucap Ryota sambil merebahkan diri di sebelah Senja. Dirinya bahkan menengok layar ponsel Senja, namun si pemilik segera mengangkatnya tinggi karena merasa malu obrolan absurd nya akan dibaca oleh Ryota, apalagi obrolan terkait malam pertama.


"Udahan ngobrolnya?" tanya Senja menatap Ryota yang kini ikut bercengkerama dengan ponselnya.


"Dibubarin ibu, jadinya pada ke kamar deh," jawab Ryota setelah membalas ucapan selamat dari teman-temannya.


Ryota meletakkan ponselnya ke nakas, demikian pula Senja. Kini keduanya saling berhadapan di atas ranjang. Pipi Senja bersemu merah saat Ryota menatapnya erat dan sesekali menyentuh pipinya.

__ADS_1


"Malu," gugup Senja. Dia reflek menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa malu, kan udah halal," Ryota membuka telapak tangan Senja yang menutupi mukanya.


"Terima kasih sudah mau menerimaku dan keluargaku, serta memperjuangkanku sejauh ini." Kini Senja bergantian menyentuh pipi kekasih halalnya.


"Semesta mengizinkan kita untuk bersama sayang, sini peluk dulu," ucap Ryota sembari menarik tubuh kekasihnya dan keduanya saling berpelukan.


Ryota dan Senja saling mengingat bagaimana awal keduanya bertemu. Mereka bertemu tak sengaja saat mengantri di sebuah minimarket dan Senja membayarkan belanjaan Ryota karena mesin EDC yang rusak. Kala itu, Ryota sudah tertarik dengan perempuan asing tersebut. Perempuan yang unik baginya, dia tanpa ragu menolong orang lain, dan tak disangka perempuan tersebut adalah karyawannya sendiri.


Dari pertemuan tak terduga, hingga cinta pun terjalin. Saat sudah bersama, godaan masa lalu pun datang namun mereka bisa bertahan. Perjuangan berlanjut saat restu tak kunjung didapat. Dan saat restu telah diraih, jarak Indonesia-Inggris masih menjadi penghalang untuk mereka bersatu. Kini, keduanya telah menjadi halal, babak baru kehidupan telah terbuka di depan mata.


Seorang anak lelaki berusia lima tahun tengah menaiki sepeda berusaha kabur dari panggilan yang sang ayah. Anak lelaki ini bernama Ryuzaki Aji Cendekia. Ryuzaki bermakna kuat dan tumbuh dengan baik, Aji artinya berharga dan Cendekia adalah intelektual. Ketiga kata dengan makna luar biasa ini disematkan oleh Senja dan Ryota untuk putra pertamanya. Mereka sepakat tidak menggunakan nama keluarga besarnya untuk sang putra. Hal ini bertujuan agar orang lain menghargai sang putra bukan karena nama besar keluarga namun karena kehebatan sang putra itu sendiri.


Ryuzaki atau kerap dipanggil Zaki, telah tumbuh menjadi anak yang pintar di usia nya saat ini. Setidaknya dia sudah sangat pandai untuk berbicara dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris. Senja, yang seorang dosen, tak hanya sukses mendidik mahasiswanya di kampus, Ryuzaki putra tersayangnya telah berhasil dididiknya menjadi anak yang pintar, sopan serta taat beribadah. Namun, Ryuzaki tetaplah Ryuzaki seorang anak kecil yang terkadang hanya ingin bermain dan enggan belajar. Walaupun dia sudah bisa cas cus cus berbahasa inggris, dia selalu menghindar apabila diminta belajar bahasa Jepang oleh sang ayah.


"Ryuzaki," teriak Ryota memanggil putranya yang tengah kabur menaiki sepeda bersama Kenan putra dari Langit. Saat ini Senja dan keluarga kecilnya tengah menginap di rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Sudah yang, jangan teriak-teriak," Senja mengelus pelan pungung Ryota yang nampak kepayahan mengajari sang putra.


Ryota menghampiri Senja dan mendekatkan mulutnya ke perut sang istri yang kini sedang hamil dan memasuki bulan ke delapan. Senja ingin melahirkan bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan ini di tanah kelahirannya, setelah sebelumnya sang putra pertama dilahirkan di Jakarta.


"Dedek nanti jangan suka kabur kayak kakak ya, ayah bunda dan semuanya gak sabar ketemu dedek," ucap Ryota pelan.


"Iya ayah, dedek gak sabar mau ketemu ayah, bunda juga kakak," jawab Senja menirukan suara anak kecil.


"Terima kasih sayang untuk kebahagiaan yang tak pernah habis kamu berikan, from the bottom of my heart, I love you," ucap Ryota mengecup kening Senja.


"I love you to the moon and back," jawab Senja kemudian memeluk erat suaminya.


Tamat.


Hai.. Hai.. Terima kasih kepada para pembaca yang setia mendukung kisah ini. Alhamdulillah kisah receh ini selesai juga. Senja dan Ryota sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, kalau ditambah konflik baru khawatir terlalu dipaksakan dan malah melenceng jauh dari inti kisahnya.


Mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam penulisan cerita ini. Semoga para pembaca yang budiman selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang terus mengalir, Aamiin.

__ADS_1


Sampai jumpa di kisah lainnya berikutnya.


👋👋👋


__ADS_2