
Hari senin yang melelahkan untuk Senja, berharap pulang kerja segera bisa rebahan cantik di kasur, apalah daya Irwan memintanya untuk ditemani ke rumah saudaranya untuk mengambil barang titipan dari orang tuanya di Malang. Senja yang sudah terlalu sering mengabaikan Irwan akhirnya memilih menemaninya toh ga tiap hari ini pikirnya.
"Terima kasih ya Senja sudah mau nemenin," Irwan mengawali obrolan saat mobil mulai dilajukan.
"Iya gapapa mas, kebetulan lagi ga lembur," jawab Senja sembari mengambil power bank untuk mulai men-charge handphone nya.
"Aku perhatiin kamu lembur terus ya, ga capek emang?" tanya Irwan mulai mengulik kehidupan pribadi Senja.
"Namanya kerja mas pasti capek hhehe, dan emang lagi ada project baru aja," jawab Senja berusaha menjawab sewajar mungkin agar tidak terkesan ketus karena efek dia mulai lelah.
"Mending nanti kamu resign aja kalau udah nikah, istri itu di rumah layani suami aja," Irwan membayangkan dirinya kelak menikah dengan Senja, dimana Senja akan duduk manis di rumah menyambutnya pulang kerja seperti kehidupan kakak-kakaknya.
"Aku pengen tetep kerja aja mas, bosen nanti di rumah aja," Senja menjawab sambil melihat kaca keluar.
"Ya kamu harus nurut suami dong," Irwan mulai mendebat.
"Kan bisa saling dibicarakan mas, kenapa menikah jadi seolah membatasi ruang gerak perempuan ya?" Salah Irwan mengajak pergi Senja di kala senin yang penat ini. Langit senja di luar dan kemacetan mendukung rasa bad mood Senja untuk meladeni debat dari Irwan.
Irwan memilih diam sejenak dan mulai menyalakan musik. Setidak bunyi lagu-lagu pop terbaru ini mengalihkan penuh sesak mobil-mobil di luaran yang tak kunjung bergerak. Huft.
__ADS_1
"Kamu kapan siap aku lamar? orang tuaku udah nanyain tuh?" pertanyaan Irwan bak tombak yang siap menerkam hewan buruan begitu melesat membuat Senja seketika menengok ke arahnya.
"*Hah gimana-gimana udah main lamar aja*," batin Senja.
"Maksudnya mas?" Senja pura-pura tidak paham arah pertanyaan Irwan agar dia bisa memastikan kembali pertanyaannya.
"Lamar kamu Senja, ih kamu lucu deh kalau kaget," Irwan malah menggodanya.
"Maaf nih mas, maaf, dari awal kan niat kita cuma untuk temenan aja, kenapa udah langsung lamar aja ya, dan aku sepertinya masih belum sepakat dengan pendapat mas Irwan kayak soal perempuan bekerja tadi aja," Senja sudah tidak segan mengeluarkan uneg-unegnya.
"Loh bukannya waktu acara pengajian itu sudah deal ya kita akan menikah, dan ini masa kita pendekatan sebelum lamaran," ucap Irwan.
Senja lega dengan jawaban orang tuanya dan segera menjelaskan kepada Irwan dengan sebaik mungkin agar tidak melukai harapannya.
"Kamu salah Senja jika menolakku dengan alasanmu yang ingin bebas dan kerja, ingat kodrat wanita itu cuma 3 yaitu Kasur, Sumur dan Dapur, sadari itu Senja, jangan sampai kehidupan kota melupakanmu," Irwan mulai menasehati Senja.
"Hmmmmm" Senja mendesah pelan.
"Maaf mas, aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga dengan perempuan pekerja, dan alhamdulillah anak-anaknya tumbuh dengan baik, jadi aku kurang setuju dengan pemikiran mas yang kayak gitu. Semoga mas Irwan bisa mendapat jodoh terbaik sesuai harapan mas Irwan dan keluarga, dan ohya soal kodrat wanita itu bukan seperti yang mas bilang tadi apa itu Kasur, Sumur, Dapur, bagiku kodrat wanita adalah Menstruasi, Hamil, Melahirkan dan Menyusui, selebihnya perempuan dan lelaki adalah setara sih mas harusnya, dan pernikahan adalah soal kesepakatan sehingga tak boleh saling merasa tersisihkan," jelas Senja panjang lebar, dan Irwan terdiam tak membalasnya lagi.
__ADS_1
"Aku antar kamu pulang aja deh, kayaknya jalanan di depan makin ga kondusif," Irwan yang merasa kalah telak memilih untuk tidak jadi ke rumah saudaranya bersama Senja.
"Baiklah," ucap Senja, "Alhamdulillah, bisa segera rebahan," batin Senja berteriak senang.
Suasana mobil menjadi sunyi kembali, keduanya mulai sibuk dengan pikirannya masing-masing dan tak terasa sudah tiba di depan kosan Senja.
"Terima kasih ya mas," Senja pun lantas segera keluar dari mobil Irwan.
Tiba di kamar, Senja segera melakukan panggilan video kepada orang tuanya dan mulai menceritakan perihal percakapan di mobil bersama Irwan tadi.
"Irwan itu terpelajar kok gitu ya nduk mikirnya," ucap bu Metta.
"Entahlah bu," jawab Senja.
"Yasudah gapapa, gausah sedih nanti juga ketemu jodohmu sendiri," Pak Joko mulai menghibur Senja.
"Senja malah seneng pak, soalnya mas Irwan itu kirim pesan terus risih aku," ungkap Senja.
"Lain kali kalau kamu ga nyaman sama orang yang bapak kenalkan kamu bilang dari awal, biar ga sampai lama kaya gini," jawab Pak Joko
__ADS_1
Senja lega setelah menceritakan semuanya dengan orang tuanya. Walaupun ayah Senja sangat kolot dan benar-benar mengikuti aturan primbon jawa namun beliau tak pernah memaksakan pasangan untuk anaknya seperti contohnya kedua kakaknya. Langit dan Asa memang dijodohkan namun keputusan akhir tetap di tangan calon mempelai, orang tua hanya membantu mempertemukan, berlanjut ya syukur, tidak pun tak masalah. Namun apabila anak-anaknya punya pilihan sendiri pun juga tak masalah dengan catatan pasangan pilihannya sesuai dengan aturan primbon jawa tersebut.