
Selepas membersihkan badan, keempat anak manusia yang baru sampai dari perjalanan jauh tersebut lantas membaringkan tubuhnya di ranjang dan tak sadar tertidur setelahnya. Sekitar pukul 11.00 Ryota terbangun terlebih dahulu, membiarkan Raka yang asyik terlelap dirinya keluar menuju ruang tamu duduk di sebelah Kenan yang asyik menonton DVD film kartun Doraemon yang saat ini tengah menayangkan film doraemon edisi petualangan di kerajaan awan.
"Kata Bija, om Lio kotanya sama kayak nobita itu ya?" tunjuk pada layar televisi LED di depannya.
"Iya kamu benar," jawab Ryota mengelus kepala Kenan.
Pak Joko telah selesai dari sawah kini tengah di rumah dan menghampiri cucunya.
"Ken, sama siapa itu?" tanya Pak Joko, walaupun sebenarnya sudah tahu kalau orang di sebelahnya pasti teman-temanya Senja, namun keduanya belum berkenalan secara resmi.
"Ini Om Lio, mbah kung," ucap Kenan mencoba mengenalkan Ryota seperti cara Senja tadi pagi saat mengenalkan teman-temannya kepada sang ibu.
Pak Joko dan Ryota akhirnya saling berkenalan dan mengobrol tentang banyak hal. Ryota yang awal kedatangan Pak Joko merasa begitu gugup, kini dengan keramahan beliau dia menjadi nyaman untuk saling bertukar cerita. Tentang industri otomotif, sikap Senja saat di tempat kerja hingga kebudayaan Jepang menjadi obrolan siang ini sambil menemani Kenan yang tengah asyik dengan film kesukaannya. Hingga tak lama Raka dan Dila telah bangun dan ikut mengobrol, sedangkan Senja membantu sang ibu menyiapkan makanan untuk santap siang.
Di tengah obrolan, kakak pertama Senja datang untuk menjemput Kenan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.30 saatnya bocah berpipi gembul itu harus tidur siang, tentu saja bocah itu menolak, karena di rumah kakek neneknya lebih seru mengingat ada teman-teman Senja.
"Ken bobo siang dulu saja, setelah bobo kita buat mainan bersama," bujuk Ryota.
"Janji ya om," Kenan mengacungkan jari kelingking ke arah Ryota sebagai bukti keduanya terikat dengan janji. Ryota menautkan jari kelingkingnya dengan milik Kenan tanda telah setuju.
Di dapur, Senja membantu ibunya menyiapkan piring-piring dan memindahkan sayuran serta lauk pauk ke tempat saji yang tersedia di meja makan.
"Buk, aku punya pacar," ucap Senja pelan ingin mengenalkan kekasihnya pada sang ibu.
"Ryota kah?" tebak sang ibu, karena sedari turun dari kendaraan keduanya nampak dekat. Sedangkan Raka sudah tak sungkan memanggil beb dengan Dila, maka sudah pasti bukan kekasih Senja.
"Hehe iya Bu," jawab Senja membenarkan tebakan bu Metta. Ibunya memang orang yang cukup peka dengan sekelilingnya maka tak heran bisa menebak dengan benar.
"Dia keturunan Jawa Jepang kok Bu, jadi ibunya asli malang, Senja sudah ketemu orang tua Ryota dan mereka baik Bu, dan muslim juga dari lahir," lanjut Senja lagi.
"Sudah kamu tanya wetonnya apa?" tanya balik Bu Metta menatap putrinya.
__ADS_1
"Belum bu, nanti Senja cari tahu dulu deh dari tanggal lahirnya," jawab Senja.
"Baiknya tanya Ibunya langsung, kalau lihat tanggal lahir takutnya salah, nanti ibu bantu ngomong ke bapakmu," ucap Bu Metta, Senja yang begitu senang akhirnya memeluk ibunya, dan ibunya mengelus kepala sang putri.
Santapan siang tengah siap di meja makan, mulai dari ayam goreng, sayur asem, urap dan parutan kelapa, tempe, tahu dan ikan goreng, sambel terasi dan sambel pecel membuat siapa yang melihatnya pasti lapar seketika, tak lupa irisan buah semangka sebagai makanan pencuci mulut juga disiapkan.
Senja memanggil teman-temannya dan sang ayah yang sedang mengobrol di depan agar menuju meja makan untuk menikmati makanan yang telah tersaji.
"Kenan kemana?" tanya Senja karena keponakan gembulnya yang tadi asyik menonton film kini tidak ada.
"Bobo siang tadi dijemput ayahnya," jawab Pak Joko.
"Tumben mau?" tanya Senja kembali.
"Dijanjiin buat mainan bareng sama nak Ryo," jawab Pak Joko, Senja mengangguk dan saat ini dia dan yang lain duduk rapi di depan menu masakan penggoda lidah.
"Gimana enak?" tanya Pak Joko di sela acara makan, dia melihat para tamunya begitu lahap menikmati sajian yang dibuat istrinya, ingat hanya istrinya karena anak gadisnya tidak bisa memasak jadi hanya membantu menyiapkan tempat saji, piring dan gelas atau sekedar memotong buah semangka.
"Nak Ryo doyan juga ya urap kayak gini?" tanya Bu Metta melihat Ryota beberapa kali mengambil urap.
"Mama saya pernah masak seperti ini Bu, karena salah satu favorit beliau," jawab Ryota. Bu Dewi seorang asli Indonesia tentu menjadikan urap sebagai makanan yang sering dimasak apabila mulai rindu daerah asalnya.
"Loh, di Jepang ada urap juga?" heran Pak Joko karena masih belum tahu jika ibunya Ryota berasal dari Malang.
"Ibu saya asli Malang Pak, namun pindah ke Jepang saat menikah, saya juga cukup lancar berbahasa indonesia karena diajari ibu saya," jawab Ryota mengelap sisa makanan dengan tisu dan kemudian minum air putih di sampingnya. Pak Joko mengangguk paham.
Selesai makan siang, terdengar adzan dhuhur di masjid dekat rumah Senja. Akhirnya Pak Joko mengajak Raka untuk salat berjamaah di masjid, beliau masih belum tahu apabila Ryota juga seorang muslim. Dan beliau terkaget saat Ryota ikut masuk ke dalam masjid. Dia mengamati Ryota yang tengah berwudhu dan kemudian lanjut salat sunnah. Pak Joko tersenyum tipis dengan pemandangan ini.
Selesai salat berjamaah, Pak Joko bertanya pelan pada Ryota, karena terkait agama dan kepercayaan dia mengawali pertanyaan dengan permintaan maaf agar tak menyingung perasaan lawan bicaranya.
"Nak Ryo, maaf sebelumnya jika pertanyaan Bapak tak sengaja menyinggungmu, apa kamu mualaf?" tanya Pak Joko dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ohiya tidak apa-apa Pak, bukan Pak, saya sedari lahir sudah muslim karena kedua orang tua saya juga muslim, hanya saja Papa saya sebelumnya mualaf sebelum menikah dengan mama," jawab Ryota menjelaskan.
"Oh begitu," Pak Joko mengangguk paham. Dia merasa takjub karena baru kali ini melihat secara langsung orang Jepang yang muslim, sepanjang yang dia tahu sebagian besar warga negara Jepang adalah penganut agama shinto dan budha.
Tiba di rumah, Pak Joko dan Bu Metta izin istirahat siang sebentar karena pada pukul 13.00 nanti harus kembali ke sawah. Keempat anak manusia ini kembali menikmati hidangan yang disajikan Bu Metta. Kali ini adalah rujak buah, irisan buah-buahan segar dipadukan dengan bumbu kacang memang sangat cocok di tengah siang hari yang panas ini
"Ke sawahnya kapan?" tanya Dila sudah tidak sabar ingin berfoto ria ala gadis desa.
"Panas neng, sore aja sambil lihat sunset gimana?" usul Raka.
"Pinter kamu bang," Dila mengacungkan jempol ke arah Raka.
Senja terlihat berdiri, menuju kamarnya untuk mengambil dompet dan cardigan.
"Kemana mbak?" tanya Dila melihat Senja yang sudah bercardigan rapi.
"Beli kardus bekas, buat mainannya Kenan, nanti dia bangun bisa ngamuk kalau gak jadi buat mainannya, mau ikut?" tawar Senja pada Dila.
"Eh bahannya emang kardus aja?" tanya Dila kemudian mengambil ponsel untuk melihat tutorial pembuatan tempat parkir mobil dengan kardus. Setelah dirasa sudah menemukan cara yang mudah dengan bahan sederhana, akhirnya Senja dan Dila menuju toko terdekat untuk membeli kardus bekas dan beberapa bahan penolong. Ryota mengamati video tutorial itu, sedangkan Raka memilih menghabiskan rujak buah.
Benar kata Senja, tepat pukul 13.00 si bocah Kenan telah bangun dari tidur siangnya, membawa wadah mainannya yang berisi beraneka ragam hot wheels, mobil-mobilan jenis lain dan beberapa action figure koleksinya. Beruntung dilihatnya Ryota tengah mulai membuat tempat parkir dibantu Raka.
Dia mengamati dari dekat dengan begitu antusias. Sesekali Senja menyuapinya dengan brem yang kemarin dia minta saat panggilan video, sedangkan Dila sibuk mengambil gambar Raka yang nampak serius.
Tak berapa lama tempat parkir dari karduspun jadi.
"Yeay bagus, Ken tata ya Om mainannya Ken?" Kenan gembira akhirnya tempat parkir mobilnya sudah jadi. Setelah menunggu beberapa lama hingga dia mulai bosan, akhirnya kini jadi dan bagus, dia tak sabar menata mainannya.
"Silakan Ken, pelan-pelan ya," ucap Ryota.
__ADS_1
Courtesy of Pinterest Images