Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 101


__ADS_3

Disinilah Lily,berdiri menatap pintu rumah kediaman sang paman beserta keluarga.Tiga menit berlalu sudah gadis itu berdiri disana,namun ia masih ragu untuk menekan bel disebelah pintu.


*Ayolah ini cuma rumah paman Cakra sama tante Sintia,bukan rumah hantu*


Lily membatin meyakinkan dirinya.


Akhirnya gadis itu menggerakkan tangannya yang sejak tadi mengepal disamping pinggang untuk menekan bel didekat pintu.


Ting...tong...ting..tong...


Ceklek..Kriet..suara pintu dibuka dari dalam dan perlahan dari balik pintu muncullah wajah sang tante dengan senyuman yang sangat ramah.


"Ha-hai tan,Lily datang"Lily menyapa istri dari adik ayahnya itu sambil menampilkan senyuman canggung.


"Ya ampun akhirnya kamu datang,udah tante tungguin dari tadi lo"tante Sintia langsung membawa keponakan Adari suaminya itu kedalam pelukannya beberapa saat kemudian langsung menarik pelan lengan Lily untuk masuk kedalam rumah.


"Iky liat siapa yang datang sayang"


panggil tante Sintia pada seseorang,


namun Lily dapat menebak kalau Iky itu adalah adik sepupunya.


"Siapa mom?Loh kak Lala?!"


*Sial!Lagi lagi!*Lily langsung merubah raut wajahnya datar kepada bocah laki laki yang kini menatapnya dengan raut wajah terkejut.


Nyonya Sintia nampak panik saat mendengar sang putra bungsu menyebutkan nama mendiang keponakannya,terlebih saat menyadari perubahan gestur wajah dari Lily.


"Huss..Iky,yang ini namanya kak Lily.Kembarannya mendiang sepupu kamu,ini kak Lily yang kemarin malam mama ceritain itu loh"ujar nyonya Sintia kepada Riky,putra bungsunya.


"Oh Iky kirain kak Lala,mukanya kayak copy paste sih jadi bukan salah Iky itu"ujar bocah laki laki berumur 6 tahun itu.


"Lily ayo duduk dulu ya,tante bikin minum sama ambilin cemilan dulu ya"


"Eh tan.."Lily tak melanjutkan perkataannya setelah melihat istri dari pamannya itu sudah menyelonong pergi tanpa bertanya air minum apa yang dirinya inginkan.

__ADS_1


*Moga moga gak cuma disuguhin air putih*batin Lily penuh harap,kemudian gadis itu kini melihat kembali kearah bocah laki laki yang saat ini sibuk memperhatikan dan menelisik dirinya.


"Ngapain lo liatin kakak gitu,cil?" tanyanya pada Riky.


"Gak kenapa napa"saut sang sepupu, lalu bocah itu nampak mengotak atik stick PS.


"Emang bocah kayak lo bisa main PS?"tanya Lily sedikit meremehkan adik sepupunya ini.


"Dari umur empat tahun,aku udah fasih kali kak"ujar Riky,gaya bicara adik sepupu Lily ini enggak kayak bocah enam tahun.


Lily mengamati adik sepupunya yang sudah fokus pada permainan PS ditangan.Sejak semalam saat sang bibi mengatakan akan mengenalkannya pada sang adik sepupu yang dirinya perkirakan sudah berusia enam tahun ini,yang terbayang dibenaknya adalah si Anan masih bocah dan ia kira adik Anan pasti tak jauh berbeda penampakannya namun kayaknya perkiraan itu agak meleset.


Saat melihat Riky pertama kali,Lily tak dapat menemukan sama sekali sosok Anan enam tahun yang punya hobi membawa setidaknya satu buku bacaan yang berhubungan dengan pengetahuan ditangan.Gaya bicara yang sangat tertata dan sopan,suka menceramahinya tentang pentingnya belajar disaat Lily kecil saat dirinya lebih memilih menonton kartu dari pada mengikuti kegiatan baca buku bersama dengan Anan dan Lala,atau bocah yang menjadi sporter dadakan atas gagasan Lala yang ingin dibuatkan perpustakaan dikediaman keluarganya.


"Heh cil,lo suka baca buku enggak?"


"Enggak"


"Suka belajar dirumah enggak?"


"Enggak,belajar mah tempatnya disekolah.Kalau dirumah ya main atau palingan ngerjain or aja"


"Nonton kartun"


Lily langsung tersenyum miring mendengar jawaban adik sepupunya ini


*Dulukan si Anan suka memonopoli sama gangguin quality time gue bareng Lala dengan cara bertamu dadakan trus sok sok-an ngajak baca buku barenh.Monopili balik adiknya sabi kayaknya*batin Lily.


"Heh cil,mau gabung geng kakak nggak?"


Riky menoleh kearah sang kakak sepupu yang nampak tengah menampilkan senyuman yang berbau kejahilan dan kekacauan.Bocah enam tahun itu langsung menganggukkan kepalanya.


*Nggak ngerti,tapi kayaknya kak Lily bisa jadi patner kekacauan hehehe..*


Skip___

__ADS_1


Huh...


Untuk kesekian kalinya Anan mendengus kesal menatap dua orang yang sejak dirinya pulang lalu bergabung diruang tengah,tak sedikitpun diantara dua orang itu yang mengacuhkan atau setidaknya mempedulikan kehadirannya disana.


Dengan raut wajah setengah cemberut setengah kesal,Anan memperhatikan bagaimana akurnya Lily sepupunya dan sang adik Riky yang nampak sibuk dengan stick playstation ditangan masing masing dan tatapan yang fokus pada layar vidio game didepan mereka.Mana didekat mereka tersedia banyak chiki-chikian dan jajanan permicinan yang sesekali tangan mereka raih dan nikmati kedalam mulut tanpa mengalihkan tatapan dari layar didepan.


Apa-apaan dua bocah itu,bukankah tadi mamanya bilang kalau Lily dan Riky sang adik yang baru saja menginjak usia enam tahun itu baru bertemu dan berkenalan dalam hitungan dua jam ini?kenapa keduanya sudah terlihat sangat sangat akur?


Anan kini menampilkan tatapan julidnya menatap sepupu dan adiknya bergantian.Ayolah dirinya yang sudah mengenal Lily belasan tahun dan hidup satu atap dengan sang adik sekitar enam tahun belakangan ini,


tak pernah bisa terlihat seakur dan seakrab itu dengan bahkan satupun diantara kedua bocah itu dan kini kenapa mereka?cowok itu mengusap rambutnya frustasi.


Anan tak tahan lagi,ia beranjak dari tempatnya lalu bergegas menghampiri sang mama yang pasti tengah sibuk ber-eksprimen didapur.


"Maaa..."


Anan menghampiri mamanya dengan muka memelas,pemuda itu duduk dikursi yang ada didekat meja dapur.


"Kenapa kamu datang datang mukanya melas gitu?"tanya nyonya Sintia kepada putra sulungnya itu.


"Ma itu dua bocah didepan kenapa akur banget sih,heran Anan tuh.


Anan seumur umur kenal Lily sama Riky,tapi kok gak bisa seakur itu.


Mama kasih jampi jampi apa mereka?"


Tuk...Anan langsung mendapat hadiah pukulan cantik gagang tendok dari sang mama dikepalanya.


"Enak aja kamu bilang jampi-jampi,


kamu pikir mama dukun apa?Bilang aja kamu irikan gak diacuhin sama sepupu dan adik kamu"ujar sang mama,membuat Anan langsung bertambah cemberut.


"Serius ini ma,terus kalau gak mama kasih jampi jampi kok dua bocah itu langsung bisa akur,baru dua jam loh?"tanya Anan.


"Mama juga gak tau bang,mama juga agak kaget tadi pas mama tinggal sebentar buat ambil minum.Eh balik balik langsung nempel.Padahal tadi mama takut mereka gak akur,soalnya adik kamu sempat salah manggil nama ke Lily"jelas nyonga Sintia kepada putranya itu.

__ADS_1


"Lagi pula kok abang kayak resah gitu sih Lily sama Riky akur, harusnya seneng dong"lanjut sang mama.


"Gak tau ma,tapi Anan jadi resah yah itu dua bocah akur.Kayak bakal sering kena masalah gitu"ujar Anan pada mamanya sambil menampilkan wajah serius.


__ADS_2