
Lily duduk kembali dikursi taman dan mulai memakan permen kapas warna warni itu secara perlahan.
hah....
bicara tentang permen kapas,sebuah ingatan masa kecil langsung terlintas dipikirannya.Kenangannya dengan Lala dan berkaitan dengan benda manis yang kini sedang ia makan itu,sebuah kenangan yang bisa dibilang kenangan buruk namun juga manis dalam saat bersamaan.
Dulu___
Seorang anak perempuan kecil berseragam SD berlarian masuk kedalam rumah sambil menenteng sebuah permen kapas yang dibungkus dalam plastik,ukurannya cukup besar.
"Lily!"seru gadis itu setiba didepan tangga.
"Lala!"saut anak perempuan lain yang terlihat menuruni tangga secepat mungkin,kedua anak perempuan itu adalah mendiang Lala kembarannya Lily serta Lily sendiri saat masih kecil.Berbeda dengan Lala yang saat itu terlihat menggunakan seragam sekolah,Lily terlihat masih mengenakan piyama tidur padahal hari sudah siang.
Lily kecil saat itu segera memeluk Lala,karena merindukan sang kembaran yang baru pulang dari sekolah siang itu.
"Lily rindu pada Lala ya?"tanya Lala kecil.
"Iya Lily rindu,Lala kenapa pagi tadi tidak membangunkanku saat akan berangkat sekolah?"tanya Lily
"Lala cuma gak mau tidur pulas Lily terganggu"jawab Lala.
"Tapi tetap saja"ujar Lily.
"Sekarangkan Lala udah pulang"ujar Lala.
Posisi kedua anak kembar itu masih berpelukan erat satu sama lain.
"Tapi kenapa hari ini Lala pulang lebih lama dari biasanya?"tanya Lily mulai melepaskan pelukannya.
"Itu karena tadi Lala sama papa mampir sebentar ditaman yang biasa Lala lewati saat jalan pulang sekolah"jawab Lala
"Benarkah?"respon Lily.
"Iya benar dan lihat Ly,papa memberikan Lala permen kapas yang dijual ditaman"ujar Lala yang dengan semangat menunjukkan permen kapas yang sejak tadi ada ditangannya.
"Wah besar dan warna warni,pasti enak dan maniskan?"komen Lily kecil sambil menatap permen kapas ditangan kembarannya dengan mata yang berbinar.
"Pastinya,tadi Lala sudah habiskan satu waktu ditaman.Rasanya manis dan harum"ujar Lala membenarkan tebakan kembarannya.
"Lala ganti seragammu sayang,jangan melakukan hal tak berguna dulu"suara bariton seorang laki laki dewasa membuat perhatian sikembar teralihkan.Laki laki itu adalah tuan Haris Abraham,papa kedua anak perempuan itu.
__ADS_1
"Baik pa,Lala hanya mengajak Lily mengobrol"ujar Lala pada papanya.
"Lily berhenti mengajak kembaranmu bicara tak jelas,Lala pasti lelah sehabis pulang sekolah!"ujar papa mereka pada Lily.
"Lala pergi kekamarmu sekarang"suruh tuan Haris,Lala langsung menaiki anak tangga mendengar perintah papanya.
Lily menatap papanya yang tampak memperhatikan kembarannya yang tengah menaiki tangga,namun ia langsung mengubah arah pandangannya saat sang papa menatap kearahnya.
"Kenapa kamu masih menggunakan piyama siang siang begini,kau tidak ada jadwal homescooling?"tanya papanya Lily.
"Guru homescooling Lily hari ini tidak masuk pa"jawab Lily pelan.
"kata mbak pengasuh,buguru tidak bisa datang karena izin ada urusan keluarga"sambung gadis kecil itu.
Papanya Lily hanya dim mendengar jawabannya,gadis itu memberanikan diri menatap papanya karena ada yang hendak ia katakan
"Pa"panggil gadis itu pelan.
"Apa?!"saut papanya dengan sedikit keras,membuat nyali Lily seketika menghilang.
"Cepat katakan kalau mau bicara,saya tidak punya banyak waktu!"suara keras papanya terdengar disana.
Lily meneguk air liurnya sendiri kemudian dengan mengumpulkan semua keberanian yang tersisa ia mulai bicara.
"Lala bilang papa tadi mengajaknya ketaman,kenapa Lily tidak diajak.
Lily ingin diajak ketaman juga,Lily ingin dibelikan permen kapas juga"rengek Lily sambil memegang tangan papanya.
Namun tanpa perasaan tangan gadis kecil itu langsung dihempaskan oleh sang papa,tatapan penuh amarah langsung Lily terima.
"Jangan Banyak Permintaan,Saya Sibuk Dan Tidak Punya Waktu Untuk Keinginan Konyolmu itu!"sergah sang ppa.
"Tapi pa..."
"TIDAK ADA TAPI TAPIAN LILY ABRAHAM,
KEMBALI KEKAMAR-MU SEKARANG JUGA.DAN TIDAK ADA ISTILAH INGIN KELUAR DARI RUMAH!"perkataan yang lebih keras Lily kecil dapatkan dari papanya.
Gadis kecil itu diam membisu melangkah menaiki tangga sambil kepala tertunduk menahan air mata.
Brak...Lily kecil menutup pintu kamarnya dengan sedikit bantingan hingga menimbulkan suara yang cukup keras,bocah itu naik keatas kasurnya dan berbaring tengkurap disana.
__ADS_1
Lily membenamkan wajahnya dibantal, air matanya gadis itu mengalir deras.Ini bukan kali pertama dirinya mendapatkan penolakan berupa perkataan keras dari orang tuanya, saat ia meminta sesuatu bahkan hal sekecil atau sesederhana apapun.
Ceklek...tak lama terdengar suara pintu dibuka
"Lily"suara Lala kembaran Lily memanggil gadis itu pelan.
Lily langsung beranjak duduk dan mendongak kearah suara kembarannya itu berasal,namun kemudian ia kembali menundukkan kepala.
"Lily mau permen kapas tidak?ini ambil"ujar Lala menyodorkan permen kapas kedepan Lily.
Lily menggelengkan kepalanya pelan dan berkata
"Itu papa beli untuk Lala bukan untuk Lily"ujar Lily dengan suara khas anak kecil sedang menangis.
"Siapa bilang,ini permen kapas dibelikan papa memang untuk Lily kok"ujar Lala.
Lily kembali mendongak dan menatap Lala kemudian menggeleng lagi
"Lala tidak usah berbohong,Lily tahu kalau permen kapas itu dibeli papa untuk Lala bukan untuk Lily.Lala mengatakan hal tadi pasti karena me dengar papa membentak Lily,Lala gak usah bohong soalnya Lily pasti tahu kok"ujar Lily.
"Baiklah Lala memang berbohong,Lily memang tidak akan pernah bisa Lala bohongi"akhirnya Lala mengakui kalau tengah berbohong,gadis itu naik keatas tempat tidur dan duduk disamping kembarannya.
"Tapi bukankah kalau papa sudah memberikan Lala permen kapas ini,itu berarti Lala berhak ingin membaginya dengan siapapun.Dan Lala ingin membagi permen kapas ini dengan Lily,jadi ayo makan"ujar Lala kembali menyodorkan permen kapas itu,namun kali ini bungsusnya sudah dibuka.
Lily akhirnya memakan permen kapas milik kembarannya itu,mata yang tadinya berair dan terlihat sedih kembali bercahaya karena merasakan manisnya sipermen kapas.
"Lily habiskan saja permen kapasnya,
Lala sudah puas makannya tadi ditaman kok"ujar Lala,Lily mengangguk pelan.
"Lily jangan sedih sedih lagi,nanti teman Lily berulah lagi.Hari ini dia tidak berulahkan?"tanya Lala.
"Enggak kok,hari ini dia tidak berulah.Cara berdetaknya masih sama,hanya saja tadi sempat berubah sebentar saat dibentak papa tapi sekarang sudah kembali seperti biasanya"jawab Lily.
"Baguslah,Lily jaga supaya dia tidak berulah ya.Nanti Lala khawatir dan cemas kalau sampai teman Lily itu berulah"pesan Lala.
"Hm,akan Lily jaga"ujar Lily sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Lily meletakkan tangkai permen kapas yang sudah ia habiskan disebelahnya,
mengenang masa lalu membuatnya tak sadar sudah menghabiskan satu tangkai besar permen kapas disebelah tangannya.
__ADS_1
"Hah...Lily masih menjaga detaknya La,tapi kenapa Lala malah sengaja membuat teman Lala berhenti berdetak?"gumam Lily pelan.
"Apa asalannya?"gadis itu kembali menggumamkan pertanyaannya.