Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 70


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya Lily terbangun dari tidurnya ditengah malam,jika hari hari kemarinnya gadis itu terbangun karena merasa haus atau karena jantungnya berulah tapi kini Lily terbangun bukan karena faktor internal itu melainkan karena faktor eksternal.


Lily menatap kearah tembok kosong disalah satu sisi kamarnya,ia menyingkirkan selimut dan kedua kakinya mulai turun perlahan menginjak lantai kamar.Gadis itu berjalan perlahan mendekat kesisi tembok yang kosong itu,ia merapatkan telinganya disana memastikan dirinya tak salah dengar akan suara tangisan itu.


Hiks...hiks...hiks...Putriku...


Lily kini duduk dilantai dengan punggung bersandar kepada tembok itu,ternyata dirinya memang tak salah dengar.Ada yang menangis didalam kamar dibalik tembok itu,suara perempuan dan sudah jelas siapa lagi perempuan yang tinggal dirumah ini kecuali dirinya yang bisa masuk dengan mudah kedalam kamar sebelah jika bukan mamanya sendiri.Dan kamar siapa lagi dibalik dinding kamarnya ini jika bukan bekas kamar mendiang kembarannya, yaitu Lala Gentari Abraham.


Lily ikut merasa terenyuh mendengar suara tangisan yang mirip rintihan kesedihan itu,tanpa dirinya sadari setetes air mata langsung jatuh dari sudut kelopak matanya namun Lily buru buru menyingkirkan air mata itu karena ia tak boleh menangis lagi hari ini.Lily tentu tahu kesedihan mamanya saat kehilangan salah satu anak perempuan yang merupakan kembaran Lily sendiri dan terlebih yang pergi adalah putri yang paling sempurna dikeluarga ini,karena Lily sendiri juga merasa sama.Semakin ikut hanyut didalam suara tangisan yang berasal dari balik dinding itu,


berbagai macam suara aneh dibenak Lily mulai bermunculan


"Mama lo bakal sesedih itu gak,kalau lo nanti udah gak ada?"


"Apa mama lo juga bakal nangis?


"Atau jangan jangan mama lo bakal tersenyum bahagia karena beban keluarga hilang?"


"Wanita itu bakal ngerintih sedih gak didalam kamar lo?"


"Atau malah nyuruh orang buat langsung buang barang barang peninggalan lo?"


"Atau jangan jangan wanita itu tetap gak peduli dan acuh kayak biasa,mau lo mati sekalipun?"

__ADS_1


"Emang bakal ada yang sedih pas lo mati nanti,Lily Gentari Abraham?"


Lily dengan cepat menggelengkan kepalanya mencoba mengusir semua suara suara dibenaknya yang memunculkan beragam pertanyaan aneh yang akan menambah beban pikirannya nanti.Buru buru gadis itu beranjak dari lantai kamar tempatnya duduk dan segera memasuki kamar mandi,


Lily langsung menyalakan keran dan membasuh seluruh wajahnya dengan air kran yang mengalir deras itu.


Huh...huh...huh...nafasnya seketika memburu,apa apaan semua pertanyaan itu.Kenapa bisa bisanya muncul dibenak begitu saja tanpa izin.


Tentu saja jika dirinya suatu saat nanti ditakdirkan untuk pergi selamanya,pasti akan ada yang menangis atau merasa kehilangan dirinya.Benerkan????


Skip___


Suasana meja makan dipagi hari nampak sedikit berbeda,tidak ada kedua orang tua yang biasa duduk bersama Lily dimeja makan.Hanya gadis itu seorang dimeja makan yang cukup besar itu,Lily sendiri tak merasakan perbedaan yang berarti bahkan dirinya malah merasa sedikit bebas entah kenapa.Tapi melihat bik Inem yang terlihat datang dari arah dapur sambil membawa nampan menuju kearah pintu kamar kedua orang tua Lily berada tentu tak mungkin tak mengganggu bocah pemikir seperti Lily,gadis itu kini bertanya tanya bagaimana dan seberapa parah kondisi sang papa akibat insiden kemarin.


"Kondisi tuan sudah mendingan non,jadi non Lily tak usah terlalu khawatir dan kepikiran"


Tiba tiba entah dari mana bik Inem datang langsung mengatakan hal itu kepada gadis yang tengah duduk sendirian dimeja makan itu,seperti bisa membaca pikiran Lily saja.


"Bik Nur tau dari mana kalau saya lagi mikirin orang itu?"tanya Lily langsung ke bik Nur,tentu saja orang itu yang dimaksud Lily adalah papanya.


"Karena mata non sejak tadi mengikuti pergerakan bik Inem"jawab bik Nur.Wanita tua itu terlihat membuka tas sekolah Lily dan memasukkan kotak bekal dan botol air minum kedalam sana.


"Saya-kan gak minta dibawain bekal bik"ujar Lily melihat apa yang tengah dilakukan oleh salah satu pengurus kediaman keluarganya itu.

__ADS_1


"Memang non tidak meminta tapi bibik yang inisiatif,non Iren bilang kemarin non gak kekantin karena males kecape-an jalan.Makanya bibik bawakan bekal sekaligus jus buah untuk minumnya"jelas bik Nur.


Mendengar nama ketua kelasnya itu disebut tentu membuat Lily langsung menyergit,sejak kapan pengurus rumahnya yang satu ini menjalin koneksi dengan ketua kelasnya itu.Wah dia harus menanyakannya nih.


"Iren,temen saya itukan bik.Sejak kapan bibik sama dia kompak gitu?"tanya Lily kepada bik Nur.


"Kemarin non,pas bibik lagi belanja disupermarket terus gak sengaja ketemu sama temen non yang cantik itu.Nngobrol bentar terus non Iren minta nomor teleponnya bibik,buat jaga jaga katanya.Jadilah bibik kasih"jelas bik Nur kepada majikan mudanya itu.


"Gak apa apakan non?"tanya bik Nur setelah melihat tak ada tanggapan dari nona mudanya itu.


"Tak apa bik,itu hak bibik buat ngasih nomor telepon bibik ke siapapun.Tapi tanpa saya ingatkan tentu bibik sudah tahu bukan?jangan berbagi terlalu banyak kisah didalam keluarga ini,meski Iren adalah teman saya"ujar Lily kepada bik Nur,gadis muda itu terlihat sangat serius saat mengatakan hal itu.


"Tentu saja non,bibik tahu hal itu tanpa non peringatkan.Bibik tidak akan memnceritakan apapun mengenai persoalan dirumah ini terutama antara non Lily dengan tuan dan nyonya"saut bik Nur yang sangat paham betul maksud majikan mudanya itu.


"Baguslah kalau begitu"ujar Lily yang terlihat beranjak dari tempatnya,gadis itu sudah menyelesaikan sarapannya.


"Saya berangkat kesekolah dulu bik.


Terima kasih atas bekalnya,nanti pasti Lily habiskan.Sampai jumpa nanti"Lily langsung meninggalkan area meja makan setelah berpamitan kepada bik Nur.


"Iya non,hati hati dijalan"ucap bik Nur sembari menatap punggung majikan mudanya itu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dibalik dinding pembatas.Satu hal yang bik Nur syuluri setelah melihat kondisi nona mudanya itu pagi ini adalah,gadis itu sepertinya sudah kembali sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa.Sangat jauh membaik dari kemarin.


Di garasi,Lily memasuki mobilnya lalu menyalakan mesin mobil itu.Setelah menunggu beberapa saat sampai mesin mobil itu sedikit panas,gadis remaja itupun mulai menjalankan mobilnya keluar dari dalam garasi dan beberapa saat kemudian mobil itu terlihat keluar menjauh dari gerbang kediaman itu.

__ADS_1


__ADS_2