Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 69


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang dirinya iyakan tadi kepada sepupunya,Lily benar benar menunggu Anan untuk pulang bersama.Gadis itu menunggu didalam mobil jemputan yang datang lebih cepat dari perkiraan.Tapi sudah lebih dari lima belas menit setelah bel pulang berbunyi, sepupunya Lily itu belum kelihatan batang hidungnya kini.Lily jadi merasa sedikit kesal dan sekaligus tidak enak kepada pak supir yang sudah pasti ikut menunggu juga.


Kemana sepupunya itu?kenapa tidak muncul muncul juga?apakah Anan lupa akan rencananya sendiri yang ingin pulang bersama dengan Lily?beragam pertanyaan satu persatu muncul dibenak Lily.


"Apa tidak sebaiknya non tanyakan kepada den Anan saja,apakah den Anan jadi ikut pulang atau tidak.Dari pada non Lily lelah menunggu,non Lily juga belum makan siang dan minum obat"ujar pak supir memberi saran kepada putri majikannya itu.


Pak supir tak bermaksud apa apa hanya saja ia takut nona mudanya itu lelah menunggu,belum lagi suara helaan nafas yang menandakan gadis muda itu bosan dan lelah menunggu terdengar beberapa kali sejak tadi.


Tanpa bersuara terlebih dahulu,Lily langsung melakukan apa yang disarankan oleh pak supir.Gadis itu mengeluarkan ponsel genggamnya dan menghubungi nomer teleponnya Anan.


"Halo" suara sang sepupu terdengar menyapanya dari suatu tempat.


"Halo Nan,lo dimana sekarang?gue udah capek nungguin lo"tanya Lily langsung to the poin.


"Sory banget Ly,gue lupa ngabarin lo padahal tadi gue udah berencana ngubungin lo"Anan


(Apanih? Lily rasa dirinya akan benar benar kesal setelah mendengar lanjutan perkataan sepupunya ini,


dan memang benar terjadi)


"Lo dimana sekarang?gue udah nungguin lo nih dari tadi"Lily


"Sory Ly tapi gue gak jadi ikut pulang bareng lo,gue ada rapat osis"


Anan.


"YANG BENER AJA LO! Lo harus tau gue sama pak supir dari tadi nungguin lo.kenapa gak langsung bilang gak jadi ikut,bikin capek aja tau gak!"


Lily

__ADS_1


"Sory Ly,gue bener bener minta maaf.


Vero ngasih kabar rapatnya mendadak soalnya,anak osis mau rapatin rencana buat pemilihan ketua dan wakil ketua yang baru soal tut..."


Lily langsung mematikan telepon itu sepihak,tak tertarik mendengar alasan sepupunya itu.


"Saya jalankan mobilnya ya non?"izin pak supir,laki laki itu sedikit paham akan inti percakapan nona mudanya itu dengan sang sepupu.


"Hm"Lily hanya berdehem saja,terlalu emosi sekaligus malas untuk bicara lagi.


*Awas aja lo kalau ketemu sama gue nan?gue bikin mampus lu*itulah kira kira isi batin Lily saat itu.


Mobil yang dinaiki oleh Lily itu mulai bergerak dan dijalankan oleh pak supir yang mengemudi didepan,


mobil itu mulai terlihat meninggalkan area parkiran dan keluar serta menjauh dari gerbang sekolah.


"Non bisa tidur dulu,nanti kalau sudah sampai akan saya bangunkan" ujar pak supir yang melihat majikan mudanya yang mulai terlihat menahan kantuk.


"Hm"


Lily berjalan perlahan sambil menahan rasa kantuknya memasuki area dalam rumah tempat tinggal keluarganya,gadis muda itu bahkan menyeret begitu saja tas sekolahnya dilantai.Lily benar benar terlelap tadi dimobil.


"Sudah pulang kamu?"


Mata Lily yang tadi tenaganya tinggal 5 watt mendadak menjadi 100 watt,tubuh gadis itu juga langsung menegap setelah mendengar suara seseorang yang cukup dia kenali yaitu sang mama.


"Mama.Ah iya aku baru pulang ma" jawab Lily merasa sangat canggung dan sedikit takut karena entah kenapa kedua bola mata mamanya menatap dirinya dengan sangat tajam dan menusuk.


"Aman pulang sama pak supir?"tanya mama gadis itu kembali.

__ADS_1


"Aman kok ma,pak supirnya jago nyetir"jawab Zia,tumben mamanya nanya nanya.


"Kamu aman tapi suami saya tidak!"


nada bicara mamanya Lily langsung menaik saat mengatakan hal itu.


"Maksud mama?"otak Lily masih belum menangkap maksud sang mama.


"Gara gara kamu,suami saya celaka!


Mobil yang dikendarai nabrak pembatas jalan.Semua itu gak akan terjadi kalau pak supir yang menyetir untuk suami saya!dasar anak pembawa sial!"


"Hah papa kecelakaan nabrak pembatas,tapi papa gak kenapa kenapakan ma?papa ada dimana sekarang,Lily mau liat?"tanya Lily yang terlihat sangat panik mendengar kabar tentang papanya.


"Tangannya terkilir dan keningnya lecet.Suami saya ada dikamar sekarang,kamu gak usah ketemu sama suami saya.Urus dirimu saja!"


"Lain kali gak usah maksain pergi kesekolah.Udah tau penyakitan masih nyusahin orang!Kenapa sih dulu saya bisa ngelahirin anak kayak kamu?nyesel saya!UDAH MENYUSAHKAN,MALAH PEMBAWA SIAL LAGI!"setelah mengatakan semua hal itu,mamanya Lily berlalu begitu saja dari sana meninggalkan Lily yang terdiam mematung ditempatnya sambil mencengkram baju dibagian dada kirinya.


Lily merasakan sakit seperti disayat sayat didalam hatinya,setelah mendengar kata kata mamanya itu.


Gadis remaja itu berjalan sambil menundukkan kepalanya menuju kearah tangga.


"Non Lily"panggil bik Nur lirih namun Lily tak menghiruakan dan hanya melewati wanita tua itu saja.


Gadis itu masih terlalu syok mendengar perkataan mamanya tadi,ia pernah mendengar mamanya mengeluarkan perkataan yang menurutnya menyakitkan tapi tak pernah semenyakitkan kali ini. Biasanya sang mama hanya memberikan sedikit kata kata membandingkan dirinya dengan sang mendiang kembaran tapi kini,untuk pertama kalinya bagi Lily mendengar mamanya mengatainya penyakitan seperti ini.


Baiklah Lily mungkin bisa menerima kata penyakitan itu karena itu benar adanya,tapi saat mamanya mengatakan menyesal melahirkan dirinya?apa tak boleh Lily sedikit merasa sakit hati.


Bik Nur yang sejak awal tak sengaja mendengar perkataan yang dilontarkan oleh nyonya majikannya,kini hanya bisa menatap penuh iba kepada gadis muda yang baru melewatinya sambil menunduk itu.Tubuh gadis itu terlihat sangat rapuh saat meniti satu persatu anak tangga secara perlahan.

__ADS_1


Lily memasuki kamarnya kemudian menutup pintu secara perlahan,ia meletakkan tas sekokahnya yang sejak tadi dirinya seret diatas lantai ke atas meja belajar miliknya.


Buk...gadis itu menghempaaskan dirinya diatas kasur dengan posisi tengkurap,tanpa melepas sepatu sekolah yang melekat dikedua kakinya.Perlahan tetesan tetesan bening keluar dari sudut kelopak mata gadis itu mengalir kepermukaan kasur dimana Lily menenggelamkan wajahnya.Tak ada sedikitpun suara yang terdengar,bukan karena suaranya teredam karena wajah gadis itu yang ditenggelamkan kekasur tapi karena Lily sungguh sungguh tak bersuara dalam tangisnya.Gadis remaja itulah yang menekan dan menahan supaya suara tangisnya tak terdengar sedikitpun oleh siapapun,Lily tak mau sampai ada orang yang mendengar kerapuhan dirinya.Cukup dirinya saja yang tahu kini dirinya tengah menangis.


__ADS_2