Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 58


__ADS_3

Lily memasuki kediaman keluarganya


Ia baru pulang dari jalan jalan bersama teman sekelasnya,jam didinding kini menunjukkan sekitaran pukul setengah delapan malam.


Lily tak langsung menuju kekamarnya seperti biasa melainkan berbelok kearah dapur,ia merasa haus dan butuh air minum.Sesampai didapur, tangannya meraih gelas dan menuangkan air dari teko kedalam gelas tersebut setelah itu ia duduk disalah satu kursi didekat meja dapur.Lily mengeluarkan botol obat dari dalam tas yang dirinya bawa lalu meletakkan tasnya itu keatas meja,ia membuka botol obat itu lalu mengeluarkan beberapa pil dari dalam sana.


"Non"


Baru saja Lily hendak memasukkan pil-pil diatas telapak tangan itu kedalam mulutnya,suara bibik pengurus rumah mengentikannya.


"Eh bik,belum tidur?"tanya Lily sembari menoleh kearah wanita tua itu.


"Belum waktunya non,saya biasanya tidur dijam sembilan malam"bibik pengurus rumah menjawab pertanyaan yang diajukan Lily.


"Non sendiri baru pulang ya?"


"Iya bik"jawab Lily.


Setelah itu ia kembali melanjutkan memasukkan semua pil ditangannya kedalam mulut disusul meneguk air minun yang ada didalam gelas tadi.


Tentu saja Lily tidak menelan semua pil ditangannya itu sekaligus meski dimasukkan kedalam mulut pada saat bersamaan,Lily tetap menelannya satu persatu.


Bibik pengurus rumah yang untuk kesekian kalinya melihat majikan mudanya itu meminum obat selama kembali tinggal dirumah itu,langsung tersenyum tipis.Rupanya nona mudanya ini masih bersedia meminum obat obatan itu dengan rutin.


"Bibik kenapa senyum gitu ngeliatin saya,ada yang lucu?"tanya Lily yang menyadari sang pengurus rumah tersenyum melihat kearahnya.


"Enggak non bukan apa apa,saya hanya senang saja ngeliat non masih rajin minum obat"ujar bibik pengurus rumah.


Hahaha...Lily tertawa mendengar perkataan bibik itu,haih bibik pengurus rumah keluarganya ini tidak tahu saja kalau dirinya sering sengaja skip minum obat.Dan seringnya minum obat jika ada gejala kambuh saja,seperti saat ini.


"Bukan rajin bik,tapi kepaksa dan harus kalau enggak nyawa saya yang jadi taruhannya.Lagi pula mana ada orang yang rajin minum obat pahit kayak pil ini"ujar Lily sembari menunjuk kearah botol obat yang masih diletakkan diatas meja dapur.


"Iya juga sih non,tapi bibik tetep seneng non mau minum obat.Kalau non rajin minum obatkan,siapa tau suatu saat nanti bisa sembuh"ujar bibik, Lily kini kembali tersenyum mendengar perkataan si bibik.


"Semoga bik,doain aja biar saya sembuh"ujar Lily dengan senyuman itu.


*Sembuh ya?emang bisa?seandainya gak makin parah aja gue udah bersyukur banget*batin gadis itu.

__ADS_1


"Iya non,pasti bibik akan doakan non"ucap si bibik.


Setelah perbincangan kecil itu,Lily beranjak dari tempatnya dan pamit kepada bibik pengurus kediaman keluarnya itu untuk pergi meninggalkan dapur.Tubuhnya sangat butuh istirahat sekarang setelah seharian beraktivitas diluar rumah,


disisi lain Lily juga berharap supaya dirinya tidak drop saat bangun diesok hari.SEMOGA.


Yah harapan hanya sekedar harapan dan belum tentu menjadi kenyataan, inilah yang terjadi pada Lily.


Kepala gadis itu terasa berputar saat dirinya bangun pagi keesokan harinya,bukan cuma itu melainkan tubuhnya juga terasa lemas dan ya Lily bisa merasakan detak jantung berdetak tak seperti biasanya. Baiklah kondisi Lily dipastikan drop meski tak begitu parah sehingga harus dirujuk kerumah sakit,tapi berhasil membuatnya tak bisa masuk sekolah hari ini.


Dengan susah payah,Lily meraih hp miliknya yang semalam.Ia mencari kontak sepupunya dan langsung menekannya untuk dihubungi lalu meletakkannya disamping telinganya.


Tut...tut...tut...


"Halo Lily,tumben sepupu gue yang satu ini nelpon gue duluan"suara Alan terdengar dari seberang sana.


"Lan,bikin gue surat izin dong sekalian kasihin ke guru"pinta Lily.


"Apanih?jangan bilang kondisi lo drop.Wah pasti gara gara kemarin nih,udah tau lo bla...bla...bla..."


Sesuai dugaan Lily,sepupunya ini pasti langsung mengomel melebihi emak emak.Lily tak begitu mendengar ocehan dari sepupunya itu karena kepalanya yang semakin pusing.


"Hais,ini nih kalau keras kepala. Tunggu gue kesana sekarang,gue antar lo kerumah sakit"Alan.


"Gak usah,gue gak sampai harus masuk rumah sakit.Urus aja surat izin gue"Lily.


"Tapi lo harus kerumah sakit Ly, kalau lo kenapa napa gimana?"Alan.


"Gue gak bakal kenapa napa,urus aja surat izin gue"Lily.


Tut...Lily langsung mematikan teleponnya secara sepihak tanpa basa basi setelah mengatakan hal itu.Tak tahu kalau sepupunya sudah ngereok diseberang sana gara gara tingkahnya itu.


Dikediaman Pamannya Lily___


"Gini nih,gini nih punya sepupu mines akhlak"Alan menggerutu sambil menunjuk kearah hpnya sendiri membayangkan itu adalah sepupu satu satunya.


"Awas aja lo kalau udah sembuh nanti,gue hajar lo"Alan kembali menggerutu.

__ADS_1


Ya meskipun mulutnya terus menggerutu seperti itu,Alan tetap bergerak cepat keluar dari kamarnya sambil menghubungi wali kelas sang sepupu.


"Selamat pagi putra sulung papa,pagi pagi gini kening udah berkerut gitu?"itu adalah pamannya Lily yaitu tuan Cakra Abraham dan tentunya merupakan papanya Alan.


"Ini ulahnya keponakan kesayangan papa"ujar Alan duduk dikursi disebelah sang papa.Kini mereka sedang ada dimeja makan.


"Lily?emangnya kenapa sama keponakan kesayangan papa itu hm?"tanya tuan Cakra kepada putra sulungnya.


"Pagi ini dia drop,pasti gara gara keluyuran seharian kemarin sama temen temen sekelasnya itu"Alan menjawab pertanyaan papanya dengan suasana hati yang masih kesal.


"Hah drop?!kenapa gak bilang Alan?


Yasudah ayo kita kerumah paman kamu sekarang"papanya Alan itu langsung terlihat panik beranjak dari tempatnya duduk,namun Alan langsung menahan pergerakan papanya itu.


"Gak usah pa,tadi Alan udah mau gitu tapi Lily bilang gak usah.Kondisinya drop-nya enggak sampai harus dibawa kerumah sakit kok katanya"Alan menjelaskan kepada papanya.


"Kamu yakin sepupumu itu gak bohong?"tuan Cakra nampaknya masih tak begitu yakin.


"Yakin pa,lagian Lily tadi masih bisa bikin Alan kesel waktu nelpon tadi"ujar Alan meyakinkan papanya.


"Oke,terus kenapa Lily nelpon kamu?"tanya tuan Cakra yang sudah kembali duduk ditempatnya seperti semula.


"Minta dibikin surat izin"jawab Alan.


"Kenapa gak minta tolong sama pamanmu sama istrinya aja,kan lebih simple?"tanya tuan Cakra.


Alan memutar matanya malas mendengar pertanyaan papanya ini,ini bapak bapak lupa kali ya sama masalah keluarga pamannya itu?


"Pa,masa papa lupa sama sifat abang papa sendiri sih?"ujar Alan kepada papanya.


Mendengar hal itu tuan Cakra seketika tersadar,ah benar juga.


Kenapa dirinya bisa lupa dengan kerenggangan dan ketidak akuran antara keponakannya itu dengan abang dan kakak iparnya.


"Papa lupa,yasudah kamu jangan lupa bikin surat izin untuk sepupumu itu"


ujar tuan Cakra.

__ADS_1


"Iya.Ngomong-ngomong ini mama sama adek kemana pa,kok gak keliatan dari tadi?"Alan bertanya kepada sang papa.


"Mama-mu lagi mandiin sibungsu dikamar"jawab sang papa.


__ADS_2