Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 64


__ADS_3

Bab 65


Tik...tuk...tik...tuk...


Suara pergerakan jarum jam dinding dikamar Lily terdengar cukup jelas dikamar gadis itu yang terasa lengang karena sang pemilik tengah terlelap.Namun beberapa saat kemudia


terlihat pergerakan pada kelopak mata sang gadis yang tengah menutup itu,pergerakan yang halus semakin lama semakin besar sehingga kini Lily terbangun dari tidurnya.


Salah satu tangannya bergerak menyingkirkan kain kopresan pada keningnya dan disusul tubuhnya yang perlahan mengubah posisi menjadi duduk.


Kedua bola mata Lily mengarah kepada jam dinding yang terpasang disalah satu sisi dinding kamarnya,hari masih dalam fase tengah malam.Lily meraih termometer diatas nakas lalu mengukur suhu tubuhnya sendiri dan ternyata masih hangat,tapi ia sedikit bersyukur setidaknya suhunya sudah turun dari awal malam dirinya dengar dari bik Nur saat mengecek suhu tubuhnya yang tiba tiba dilanda demam.


Lily mengusap perutnya yang tiba tiba lapar sampai menimbulkan sedikit suara,bisa bisanya tengah malam begini dirinya merasa lapar.


Gadis itu kembali menatap jam dinding,jam segini sudah jelas bik Nur dan bik Inem serta semua penghuni rumah ini sudah tidur terkecuali mungkin pak security yang berjaga didepan.Jadi tak ada satupun yang bisa ia mintai pertolongan untuk mengambilkannya sesuatu yang dapat dimakan dan tentunya menghilangkan rasa laparnya,pagi juga masih terlalu lama tibanya jika Lily memilih untuk menahan rasa laparnya.


Akhirnya dengan menggunakan segala energi dan ancang ancang,satu persatu kaki Lily bergerak menginjak lantai kamar.Tubuhnya juga mulai beranjak bangkit dari atas tempat tidur,Lily sekarang hanya bisa berharap tubuhnya tidak ambruk kelantai.Ia sejujurnya bisa merasakan tubuhnya yang masih terasa lemas dan lemah untuk bergerak tapi menahan lapar saat tidur adalah salah satu penyiksaan paling kejam bagi Lily,jadi ia harus memaksakan dan menguatkan dirinya.


Perlahan langkah demi langkah akhirnya Lily berhasil keluar dari dalam kamarnya,kini ia hanya tinggal menuruni anak tangga dan tinggal berjalan sedikit menuju dapur.

__ADS_1


Dari anak tangga paling atas sampai menuju akhir anak tangga tidak terjadi apa apa,namun saat berdiri dianak tangga ketiga dari lantai bawah dan hendak menuju keanak tangga kedua tiba tiba pijakan Lily mendadak tak bertenaga hingga tubuhnya terhuyung hendak jatuh kedepan.Membaca keadaan itu,Lily tak bisa berbuat apa apa kecuali memejamkan matanya saja menunggu dirinya benar benar jatuh kebawah.


Hap...


Namun beberapa detik berlalu,Lily tak merasakan apa apa dan tidak merasakan kalau dirinya berbenturan dengan sesuatu yang keras,ia malah merasakan ada yang menahan tubuhnya.


Perlahan ia membuka kedua kelopak matanya yang tadi terpejam dan Bum Lily dapat melihat papanya yang tengah menahan tubuhnya yang nyaris terjatuh.


"Pa-papa"ujar Lily sedikit terbata bata.


Skip_


Lily menatap pergerakan sang papa yang kini tengah sibuk dengan teflon,kompor,dan microwafe.


Lily mengatakan kalau dirinya merasa lapar makanya mencoba turun kelantai bawah meski dirinya masih merasa lemah.Setelah sekitaran hampir sepuluh menit menit menunggu,kini semangkuk bubur hangat yang baru keluar dari microwafev dengan ditambah satu telur mata sapi setengah matang diatasnya tersaji dihadapan Lily serta lengkap dengan sendok dan segelas air minum juga.


Jika dihadapannya kini bukan papanya,maka Lily mungkin akan mengeluarkan kata keluhan sesaat dan penolakan sesaat setelah mangkok berisi bubur itu diletakkan dihadapannya.Tapi karena kini yang dihadapannya adalah sang papa,jadi Lily tak akan melakukan hal itu.


Masih untung papanya berbaik hati membantunya menghangatkan dan menyipakan bubur itu untuknya, ditambahin telur mata sapi setengah mateng lagi.Dia dari pagi minta ditambahin toping dibuburnya gak dikasih tuh sama bik Nur,kata wanita berusia senja itu sih biar cepat sembuh.Gak tau bener atau enggaknya.

__ADS_1


"Cepat habiskan,lalu kembali kekamarmu!"suruh sang papa.


Sedikit tersentak mendengar perkataan papanya itu,Lily buru buru memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya dan dengan ragu ragu menelannya.Sudah jelas bubur ini adalah bubur buatan bik Nur dan papanya tinggal menghangatkannya saja sebentar,makanya rasa bubur itu persis sama dengan yang waktu pagi dan siang Lily makan.Namun ya kalau lagi sakit begini ditambah fungsi pengecap lidah tak berfungsi baik, ingin rasa Lily memuntahkan bubur itu kembali.Aneh emang,padahal dirinya pernah memakan bubur serupa disaat sedang sehat sehatnya dan rasanya gak sekacau itu malah enak.


Karena makan dengan sedikit rasa pemaksaan kepada dirinya sendiri,jadilah Lily butuh waktu lima belas menit lebih untuk menghabiskan seluruh isi mangkuk kecil itu.Lily cepat cepat meneguk air minum didalam gelas sampai habis.


*Dasar emang,kalau sakit gini air putihpun rasanya kacau*batin Lily setelah selesai minum.


"Ayo,saya antar kembali kekamar" dengan suara terkesan dingin papanya Lily mengatakan hal itu.


Lily benar benar dibantu untuk sampai kedalam kamarnya kembali oleh sang papa,kali ini pula Lily tak menggunakan tangga melainkan lift yang memang sudah ada lama disana dan pintu masuknya juga tak jauh dari tangga.Hal lain yang terjadi kalau lagi sakit begini nih,tiba tiba Lily lupa kalau dikediaman keluarganya ini ada liftnya.


"Terima kasih"ucap Lily kepada papanya setelah ia sudah kembali berada diatas tempat tidurnya dengan selamat.Meski agak gengsi mengucapkan terima kasih kepada papa sekaligus lawan ributnya ini,tapi ya Lily harus berterima kasihkan kepada papa-nya itu.


"Lain kali gunakan Lift,jangan membuat saya berfikir kalau keputusan dan uang banyak yang saya keluarkan untuk membuat lift dirumah ini terbuang sia sia"


Setelah mengatakan hal itu papanya Lily langsung menghilang dibalik pintu.Membuat Lily tak tau apakah ucapan terima kasihnya diterima atau tidak tapi mari kita anggap sudah diterima,dan balasannya adalah perkataan papanya yang barusan.


"Tunggu,lah yang nyuruh bangun lift dirumah inikan kakek"gumam Lily setelah beberapa saat setelah papanya keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Tau dah,mending tidur"ucap gadis itu akhirnya memilih merebahkan diri kembali dan mulai melanjutkan tidur malamnya yang tertunda.Sebelum benar benar terpejam kembali kedunia mimpi,Lily sempatkan berdoa semoga besok dirinya bisa sembuh dan bisa kembali masuk kesekolah lagi.


Meski jika doanya ini sampai terkabur maka itu sebuah keajaiban,tapi apa salahnya berdoa dan berharap seperti itu?toh gak ada ruginya juga.


__ADS_2