
Plak...
Lily menyentuh pipinya dan mengusapnya pelan,sebuah tamparan yang lumayan keras baru saja menyentuh permukaan pipinya yang mulus.Jika gadis lain yang terkena tamparan sekeras itu mungkin akan menangis atau setidaknya mengaduh kesakitan,namun Lily tampak tak begitu berekpresi.Wajahnya tampak semi datar seperti tak merasakan nyeri atau rasa sakit saat pipinya ditampar cukup keras seperti barusan,pelakunya?seperti biasa siapa lagi kalau bukan papanya sendiri.
"Dari Mana Saja Kamu?Bukannya Langsung Pulang Kerumah Setelah Sekolah,Ini malah Keluyuran Sampai Malam dengan Seragam Sekolah!"ucapan keras dengan nada bentakan memasuki indra pendengaran Lily.
"Kenapa Kamu Tidak Bisa Sepatuh Kakak-mu?!"masih berlanjutan.
"Terima kasih atas ucapan selamat malamnya"ucap Lily,setelah itu ia langsung pergi dari hadapan kedua orang tuanya dan menaiki anak tangga dengan santai.Lily bahkan tak menghiraukan sama sekali saat papanya mengamuk karena diriny pergi begitu saja,gadis itu terus melanjutkan langkah untuk menuju kamarnya.
Tuan Haris yang melihat perilaku anaknya itu menjadi semakin naik darah,laki laki paruh baya itu menggeram.Tuan Haris menyerukan nama putrinya itu dengan penuh amarah, suaranya menggema seisi rumah.
"LILY GENTARI ABRAHAM"
Brak...
Lily menutup pintu kamarnya dengan keras,gadis itu menghempaskan diri keatas kasur tanpa berniat mengganti baju atau membersihkan dirinya dulu selepas keluar.
Setelah beberapa saat memejamkan matanya,gadis itu beranjak memasuki kamar mandi.
Lily mengguyur kepalanya dengan shower yang diatur untuk mengalirkan air dengan deras,gadis itu memejamkan matanya sambil mengusap pipi kiri yang tadi menjadi sasaran dari tamparan papanya sendiri.Titik titik air mengalir melewati pipi gadis itu,bukan itu bukan air dari shower melainkan air mata yang mengalir dari pelupuk mata gadis itu.Lily menangis tanpa suara,ia tak suka terlihat menangis oleh siapapun bahkan oleh dirinya sendiri karena terlihat menangis baginya adalah lemah dan dirinya tak ingin menjadi orang lemah.
Gadis itu padahal sejak tadi sudah berusaha sekuat tenaga diri supaya tidak menangis tapi tetap saja pada akhirnya air matanya mengalir begitu saja,tamparan tadi tidak begitu sakit dibanding hati gadia itu yang seperti terkoyak oleh sesuatu.
__ADS_1
Empat puluh lima menit lebih mungkin waktu yang gadis itu habiskan dikamar mandi,sepuluh menit diantaranya hanya dihabiskan menangis meluapkan emosi dibawah guyuran air shower yang deras.
Lily keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan rambut yang masih setengah basah,ia mengusap rambutnya dengan handuk kering supaya rambutnya itu cepat kering.
Lily keluar dari dalam kamarnya menuju kebalkon dengan handuk yang masih bertengger dileher supaya rambutnya yang masih agak basah tak membuat piyama yang dia kenakan basah.Gadis itu menatap gelapnya langit malam,tidak ada satupun bintang dan juga tidak ada sang rembulan disana.Hanya gelap sama seperti dirinya,suasana langit malam ini benar benar menggambarkan bagaimana sosok Lily Gentari Abraham.
Hari berikutnya telah tiba,Lily seperti biasa mampir diminimarket yang sama untuk membeli hal yang sama dan juga membuang hal yang sama juga.Lily memasuki minimarket dan langsung menuju kearah rak dimana apa yang ia hendak beli biasanya diletakkan,setelah mendapatkan apa yang ia nginkan barulah gadis itu menghampiri meja kasir.
Lily yang sejak awal memang menghiarukan siapa yang berada dibalik meja kasir langsung meletakkan dua susu kotak coklat diatas meja kasir disusul uang lembaran biru,gadis itu akhirnya menoleh kearah petugas dibalik meja kasir setelah merasakan tidak ada pergerakan dari orang didepannya itu.Lily sempat sedikit terkejut saat tidak menemukan petugas kasir yang biasa melayaninya dihari hari sebelumnya,kini dibalik meja kasir itu berdiri seorang perempuan yang sama dengan orang yang memergokinya kemarin saat hendak membuang susu kotak strowbery kedalam tong sampah.
Berbeda dengan perempuan itu yang kini menatapnya sambil tersenyum ramah,Lily hanya memasang mimik wajah minim ekpresi miliknya kepada perempuan itu.
"Halo kita bertemu lagi"sapa perempuan itu ramah,namun Lily hanya berdehem saja menyautinya.
"Berikan"ujar perempun itu yang membuat Lily menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti apa yang perempuan yang lebih tua didepannya itu kehendaki darinya.
Merasa remaja SMA tak mengerti dengan apa yang dia maksud,akhirnya perempuan dibalik meja kasir itu kembali bicara mengulangi perktaannya dengan kalimat yang lebih jelas kali ini.
"Berikan susu kotak strowbery itu,kau pasti masih membawanya sekarang bukan?"ujar Perempuan itu,
Lily mengangguk menandakan kalau dirinya membawanya saat ini dan ia segera mengeluarkannya dari dalam tas lalu meletakkan diatas meja kasir.
Perempuan itu menyodorkan kembali uang lembaran biru bernilai lima puluh ribu itu kepada Lily lalu berkata
__ADS_1
"Dua kotak susu ini tak usah dibayar,kita barter.Mulai hari ini ayo kita lakukan ini,saya akan menukarkan dua susu kotak rasa coklat atas dua susu kotak rasa strowbery yang kamu bawa"ujar Perempuan itu menjelaskan.
"Tidak mau,bukankah itu bisa membuat minimarket ini rugi dan pasti kakak akan terkena masalah dari bos kakak"ujar Lily sambil menggelengkan kepalanya menolak tawaran barter dari perempun yang lebih tua didepannya ini.
Perempuan yang berdiri dibalik meja kasir itu terkekeh mendengar perkataan remaja didepannya ini,pada awalnya ia mengira kalau remaja didepannya ini adalah anak yang tak mempedulikan apapun ternyata remaja itu cukup peka terhadap sekitar.
"Tidak akan ada yang dapat masalah,
minimarket ini milik kakak,jadi tidak mungkin ada yang memberi kakak masalah jika melakukan barter denganmu"jelas perempuan itu.
"Begitu rupanya,baiklah terserah saja asal susu strowbery itu menyingkir dariku"ujar Lily.
Perempuan itu mengukurkan tangan kanannya untuk mengajak remaja SMA didepannya ini bersalaman sekaligus berkenalan
"Liora,itu nama kakak.Jadi siapa namamu bocah SMA?"tanya perempuan yang ternyata bernama Liora itu kepada sigadis SMA,setelah Liora memerkenalkan dirinya sendiri.
"Lily"saut Lily singkat menyebutkan nama panggilannya,gadis itu juga menyambut tangan perempuan bernama Liora itu untuk membalas salaman orang itu.Hanya sebentar setelah itu Lily langsung meleaskan tangannya dari sana lalu memasukkan tangannya itu kembali kedalam saku jaket yang dia pakai .
"Baiklah Lily,barter selesai dan kamu boleh pergi"ujar Liora.
Lily tak mengatakan apapun langsung meraih dua susu kotak coklat serta uang lembaran biru diatas meja kasir itu,lalu berlalu pergi begitu saja.
"Sama sama,datang kembali"ujar perempuan bernama Liora itu sambil menggelengkan kepalanya melihat sifat pelanggannya yang satu itu.
__ADS_1