Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 62


__ADS_3

Iren dan Yura kini tengah berdiri didepan pintu rumah kediaman keluarga Lily menunggu pintu dibuka dari dalam oleh seseorang setelah tadi Yura memencet bel.Tak perlu waktu begitu lama,pintu didepan mereka perlahan mulai terbuka.


"Selamat Siang"sapa keduanya setelah seorang wanita berusia sekitaran tiga puluh tahunan terlihat dari balik pintu yang sudah terbuka, wanita itu adalah salah satu yang bekerja dirumah itu.


"Selamat siang juga untuk non berdua"salah satu pekerja rumah yang membukakan pintu itu.


"Non berdua ingin bertemu siapa atau mungkin ada urusan apa ya datang kemari?"


"Sebelumnya perkenalkan bik,nama saya Yura dan ini Iren teman sekelas sekaligus ketua kelasnya Lily. Kedatangan kami berdua kesini ingin menjenguk Lily yang tidak masuk sekolah hari ini"Yura yang menjawab pertanyaan itu.


"Ooh teman temannya non Lily toh,ayo silahkan masuk biar langsung saya antar kekamarnya non Lily"


Iren dan Lily mulai melangkah memasuki area dalam bangunan rumah kediaman keluarga Lily setelah mendapatkan izin sekaligus dipersilahkan masuk.Kemudian mereka dibawa menuju kamar milik Lily.


"Nama bibik siapa kalau boleh tau?"tanya Iren iseng.


"Panggil saja saya bik inem,non" jawab perempuan yang menyebut namanya Inem itu.


*jadul banget,tuh nama*batin Iren setelah mendengar jawaban dari bik Inem.


"Memang tak masalah bik,kalau seandainya kami langsung kekamarnya Lily begini?"tanya Yura kepada bik Inem.


"Tidak apa apa kok non,lagi pula non Lily masih lemas dan susah untuk keluar kamar"jawab bik Inem.


"Sakitnya Zia separah itu,kenapa gak dibawa kerumah sakit aja bik.Nanti semakin sakit gimana?"tanya Iren mendengar kondisi Lily.


"Non Lily gak mau non,selain itu Kami juga takutnya nanti kalau non Lily dibawa kerumah sakit malah tidak ada yang bisa jaga full waktu.Ujung ujungnya non Lily malah kesepian nantinya" Jawab bik Inem.

__ADS_1


"Lah,kan ada mamanya Lily bik"ujar Iren.


"Kita sudah sampai non"ujar bik inem


tidak menyauti perkataan Iren itu.


Iren dan Yura kompak menatap pintu kamar didepan mereka itu,keduanya melihat bik inem mengetuk pelan pintu kamar itu dan kemudian membuka perlahan pintu kamar yang merupakan kamarnya Lily.


"Permisi non,bik Nur.Ini ada temen temennya non Lily yang datang"ujar bik Inem.


"Silahkan,langsung masuk aja non" ujar bik Inem mempersilahkan Yura dan Iren untuk masuk kedalam kamarnya Lily.


"Hai,apakabar?"suara Lily yang menyapa mereka langsung terdengar sesaat setelah Yura dan Iren masuk kedalam kamarnya.Dari suaranya saja sudah dapat dirasakan kalau gadis itu sedang tidak dalam kondisi baik.


"Dih,seharusnya gue sama Yura yang nanya kayak gitu ke elo Ly"ujar Iren kepada Lily.


"Basa basi aja sih,lagian siapa tau diantara kalian ada yang lagi sakit atau gak enak badan"saut Lily.


"Biar saya saja bik"ujarnya kepada bik Nur.


"Baik non"ucap bik Nur menyerahkan mangkuk berisi bubur itu kepada teman sang majikan muda,setelah itu wanita tua itu permisi untuk meninggalkan kamar itu sebentar.


"Nih"Yura mulai menyuapi Lily seperti yang tadi bik Nur lakukan, namun gadis itu menolak


"Gak usah ya Yur,rasa buburnya aneh banget sumpah.Lagian gue enek dari pagi cuma dikasih bubur doang"ujar Lily.


"Namanya orang sakit memang makan bubur kali Ly,lagian indra perasa kita kalau lagi sakit emang begitu"ujar Iren yang tanpa izin atau permisi dulu langsung menarik kursi belajarnya Lily membawanya lebih dekat ketempat tidur Lily dan lalu duduk disana.

__ADS_1


"Bener yang dibilang ketua kelas lo,ayo makan.Gue udah janji sama bibik yang tadi buat nyuapin lo"ujar Yura memaksa Lily menerima suapan sendok berisi bubur itu,dengan ekpresi terpaksa Lily akhirnya menerima dan menelannya dengan susah payah.


"Btw Ren,tadi sepupu gue gak ada ngomong macem macemkan pas ngasih surat izin gue?"tanya Lily kepada Iren sembari dirinya terus menerima suapan bubur dari Yura.


"Ngomong sih ada tapi gak terlalu macem macem kok tenang aja,cuma ngomel dikit aja.Itu juga gue sama anak anak yang lain maklum kok sepupu lo itu lagi khawatir sama lo"jawab Iren yang sudah mulai mengemil snack micin yang dirinya bawa dari sekolah didalam tasnya.


Lily yang melihat hal itu tentu saja menjadi kesal dibuatnya,orang dia lagi susah bayah menahan diri agar tidak muntah saat memakan bubur yang rasanya aur-auran dilidahnya.Eh nih ketua kelasnya malah enak enakan ngemil makanan enak bermicin didepannya.


"Ren,lo gak ada niatan gitu nawarin gue snack yang lagi lo makan?"tanya Lily kepada Iren.


"Kalau lo lagi sehat sih,pasti gue punya niatan itu.Tapi kalau kondisi lo lagi begini,sory gak ada tawaran buat lo.Orang sakit gak baik ngemil micin"jawab Iren.


"Cks gini amat punya ketua"gumam Lily saat mendengar jawaban ketua kelasnya itu.


"Trus ini lo berdua gak ada satupun yang bawain gue apa gitu sebagai buah tangan,biasanya kalau jenguk orang sakitkan selalu dibawain sesuatu?"tanya Lily kepada Yura dan Iren,bukan gak seneng dijenguk tapi Lily kini sedang berharap mendapatkan makanan lain selain bubur yang sudah hampir seluruhnya dia habiskan.


"Gak ada"jawab Iren dan Yura kompak.


"Gue gak kepikiran kesana Ly,sory.


Niat guekan juga cuma liat kondisi lo aja bentar trus pulang"ujar Iren memberikan alasan kenapa dirinya tak membawa buah tangan saat datang menjenguk Lily.


"Gue sendiri awalnya gak ada rencana buat jenguk lo pas dapat kabar kalau lo gak masuk hari ini karena sakit pas pulang sekolah tadi,tapi tiba tiba gue kesini pas ngelewatin area dekat sini pas mau balik.Makanya gak ada bawa apapun"Yura juga memberikan alasannya juga.Ia meletakkan mangkuk yang sudah kosong dan hanya berisi sendok yang dirinya pakai menyuapi Lily keatas nakas disebelahnya.


"Ini obat lo Ly?"tanya Yura saat melihat beberapa botol obat diatas nakas.


"Iya,tolong ambilin masing masing satu dong Yur.Mau gue minum"pinta Lily meminta tolong kepada Yura.

__ADS_1


Yura tentu dengan senang hati membantu Lily,ia mengambil pil didalam botol obat itu sesuai permintaan Lily lalu menyerahkan kepada gadis itu disusul dirinya menyodorkan gelas berisi air putih.


Sedangkan Iren menatap agak ngeri melihat Lily yang tanpa ragu memasukkan pil yang pasti berasa pahit itu kedalam mulut.


__ADS_2