
Ruang 11___
Hari ini dijam mata pelajaran ketiga dan keempat diruang 11 alias 12 IPS7,diisi oleh pelajaran bahasa Indonesia.
Sejak sepuluh menit yang lalu para murid itu disuruh oleh bu Lilis yang merupakan guru yang mengajar pada mata pelajaran itu,sekaligus merupakan wali kelas dari kelas ini
untuk mengerjakan sebuah tugas.
Tugas yang diberikan yaitu untuk membuat sebuah puisi dengan hasil pemikiran masing masing,sesuai dengan judul pembelajaran mereka hari ini yaitu tentang Penciptaan Puisi.
Meski para kumpulan remaja itu terlihat sedikit stres memikirkan ide untuk merangkai berbagai kalimat indah untuk membentuk sebuah Puisi yang menjadi tugas mereka,tapi beberapa keributan khas masih terdengar dari para murid itu.
Mulai dari ada yang berceloteh tak jelas mencari kata kata yang pas diucapkan,ada yang mengomeli karena merasa terganggu mendengar celotehan dari temannya itu,dan akan ada murid lain pula yang merasa terganggu mendengar yang mengomel.
Bu Lilis sendiri selaku wali kelas yang sudah biasa menghadapi para remaja ini selama lebih dua tahun tentu sudah sangat memaklumi tingkah murid muridnya itu,lagi pula selama keributan yang ditimbulkan tidak berlebihan serta para anak didiknya ini masih punya keinginan untuk belajar maka tak masalah bagi ibu guru yang satu ini.
Kalian pasti bertanya tanya tadi dikatakan kalau bu Lilis sudah menjadi wali kelas para penghuni ruang 11 ini selama lebih dari dua tahun,sebenarnya tugas bu Lilis sudah selesai setelah kenaikan kelas para anak anak ini menuju kekelas sebelas.Namun karena berbagai macam alasan dan pertimbangan,guru yang terkenal dengan sifat penyabar dan dihormati oleh murid muridnya ini harus kembali memikul beban berat menjadi wali kelas dari kelas yang disebut sebut sebagai kelasnya para berandalan sekolah.
Satu alasan tersebasarnya adalah karena guru yang sebelumnya ditunjuk untuk menjadi wali kelas anak anak ini dikelas 11 langsung mengundurkan diri alias Resaint dari sekolah ini karena tidak tahan menghadapi segala tingkah para penghuni kelas ini, jadilah bu Lilis diminta untuk kembali menjadi wali kelas karena terus terang hanya kepada guru wanita paruh baya ini sajalah para penghuni ruang 11 menatuh rasa hormat mereka.Guru yang lainnya atau bahkan kepala sekolah ini gimana? Jangan harap.
"Anak anak sudah 30 menit berlalu, sekarang ayo letakkan pena kalian masing masing.Waktunya maju kedepan dan mari ibu lihat sampai mana hasil karya kalian disetengah jam ini"ujar bu Lilis dari meja guru.
Hampir semua penghuni ruang 11-pun langsung menurti perkataan guru mereka itu dengan cara meletakkan pulpen masing masing diatas meja,
meski disertai beragam gerutuan karena ada yang belum selesai ataupun ada yang tidak puas dengan hasil kerja mereka.
"Baiklah siapa yang akan pertama maju kedepan ya?"ujar bu Lilis sambil beranjak dari tempat duduknya kemudian menatap satu persatu wajah muridnya,terlihat kentara wajah anak anak ruang 11 yang berusaha menunduk dan menghindari tatapan guru merekaitu supaya tidak ditunjuk.
"Baiklah Iren ayo maju"pinta bu Lilis kepada ketua kelas ruang 11 itu.
"Yaampun buk,perasaan kok nama saya aja ya yang dipanggil duluan kalau soal maju kedepan"ujar Iren sedikit protes menjadi yang pertama,namun siswi yang satu itu tetap berjalan maju kedepan membawa hasil karyanya.
"Itu karena ibu sengaja mulai dari yang paling waras dulu"saut Bu Lilis menayuti perkataan siswinya itu.
"Maksud ibuk kita gak waras gitu?"tanya Alex.
"Tergantung,tergantung kalian semua merasa waras atau enggak?"tanya bu Lilis membalikkan pertanyaan muridnya itu.
"Enggak sih buk"jawab Jessi dengan nada polosnya.
HAHAHA...celetukan dari fangirl kpop yang satu itu menimbulkan gelak tawa entah kenapa,Lily juga bingung kenapa teman temannya tertawa dan dirinya otaknya juga seolah olah memerintahkannya untuk ikut tertawa juga.
"Nah kalian sudah tahu jawabannya, sekarang ayo Iren bacakan puisi kami sekarang"ujar bu Lilis membawa kembali ke topik utama pembelajaran.
__ADS_1
"Baik buk,lo semua dengerin gue ya.
Awas kalau ada yang ketawa,siap siap aja"ujar Iren dengan nada serius,
ketua kelas itu memberikan aba aba peringatan terlebih dahulu.
Ekhem...
...Langkah Kaki...
Derap langkah terdengar
pemecah sunyi dan gelapnya malam
Bunyi jangkrik riuh disudut kegelapan
Angin hembuskan udara yang dingin
Sang pemilik langkah masih terus berjalan
Menelusuri jalan yang semakin sunyi
Langit gelap semakin suram
Tanpa bintang dan rembulan
Menelusuri jalan yang semakin gelap dan hampa
Dalam malam yang semakin larut
Tanpa jelas tujuan dan akhirnya
^^^(Author:LN004)^^^
Semua teman sekelas mendengarkan seksama Iren yang membacakan puisi miliknya sampai selesai,tidak ada yang berani bersuara karena peringatan yang telah dilayanhkan sang ketua kelas sebelumnya.
"Wah cukup bagus Iren,ayo anak anak berikan ketua kelas kalian tepuk tangan"ujar bu Lilis.
Prok...prok...prok...penghuni ruang 11-pun langsung bertepuk tangan dan setelah selesai barulah bu Lilis mulai bicara lagi.
"Jadi apa makna puisi mu ini Iren?"tanya bu Lilis kepada siswinya itu.
"Puisi ini bermakna seseorang yang berusaha menemukan rumah buk"
__ADS_1
jawab Iren.
"Rumah?"
"Iya buk Rumah,tapi bukan rumah yang bangunan buk.Tapi sebuah rumah yang bisa membebaskan seseorang itu dari belenggu kegelapan,rasa dingin,dan kesenyian didalam hatinya buk"Iren menjelaskan makna pokok dalam puisi yang dibuat dan dibacakannya barusan.
"Wah makna yang mendalam sekali Iren,bagus bagus.Ayo sini kumpulkan kertasmu biar ibu nilai dulu,setelah itu ayo kembali duduk"ujar bu Lilis.
Irenpun mengangguk dan segera mengumpukkan Lembaran kertas berisi puisinya itu keatas meja guru lalu kembali ketempat duduknya.
"Ketua kelas kalian sudah,sekarang ibu pilih siapa ya hmm"Bu Lilis menatap seluruh siswa mencari siapa muridnya yang akan diminta maju kedepan,kini tatapan guru bahasa Indonesia itu berhenti pada murid barunya.
"Nah iya Lily,ayo maju nak"ujar Bu Lilis menyebut nama Lily dan meminta gadis itu maju kedepan,Lily yang ditunjuk hanya maju kedepan dengan pasrah saja.
"Ayo mulai"pinta Bu Lilis setibanya Lily didepan.
Lily menghirup dan membuang nafas pelan terlebih dahulu,lalu mulai membaca hasil tulisan puisinya.
...Hari dan Sang Bintang...
Hari..
Hari terbagi dua yaitu siang dan malam
Keduanya berbeda,siang dengan kehangatannya dan malam dengan kesunyiannya
Siang yang selalu cerah disinari oleh sang mentari
Malam yang selalu sendu dengan cahaya sang rembulan
Tapi keduanya akan menjadi gelap gulita tanpa sang bintang
Kenapa dengan sang bintang?
Matahari adalah salah satu sosok diri sang bintang
Rembulan butuh sang bintang untuk bersinar
Tanpa sang bintang,malam dan siang akan sama saja.
Akan sama sama gelap,dingin,dan tak ada sumber kehidupan jika sang bintang telah pergi.
^^^(Author:LN004)^^^
__ADS_1
Prok...prok...prok...para teman sekelas Lily bertepuk tangan sesaat setelah gadis itu selesai membacakan puisinya guna memberi apresiasi.
"Wah kata kata yang simple namun ibu rasa memikiki makna yang mendalam sekali"komentar bu Lilis.