
Lily saat ini tengah melakukan kegiatan rutinnya selama seminggu lebih ini disetiap pagi hari,yaitu sarapan bersama dimeja makan.
Jika saja sarapan itu diisi oleh obrolan pagi atau mungkin suasananya terasa lebih hangat mungkin kegiatan ini akan menjadi salah satu yang masuk dalam list kegiatan favorit Lily,namun itu hanya Jika Saja bukan karena nyatanya sama sekali tidak begitu.
Tidak ada obrolan atau semua hal yang menyenangkan yang dapat Lily bayangkan saat sebuah keluarga sedang melaksanakan sarapan bersama dimeja makan,ia bahkan hampir mustahil bisa merasakan hal itu.
Karena setiap dirinya sarapan atau berada disatu tempat dengan orang tuanya,suasana akan selalu seperti perang dingin atau kalau tidak pasti berakhir tidak kondusif.
Contohnya seperti hari ini;orang tuanya tidak ada yang bicara sedikitpun sejak gadis itu tiba dimeja makan,bahkan saat ia mengicapkan selamat pagipun tak ada sautan.Suasana seperti perang dingin,tidak ada yang bicara namun aura yang muncul diruangan itu sangat tidak menyenangkan.
Hah...Lily jadi penasaran bagaimana suasana sarapan dirumah ini jika yang duduk sekarang disana bukan dirinya tapi mendiang kembarannya, pasti berbanding terbalik sekali dengan yang sekarang ia rasakan.
Karena sarapannya sudah habis, seperti biasa Lily mengambil bekal dua susu kotak strowbery yang selalu tersedia diatas meja untuk dia bawa.
Dan tanpa kata pamit sedikitpun, gadis remaja itu melenggang pergi kesekolah.
"Lihatlah anak itu,dia bahkan tak berpamitan pada kita.Berbeda sekali dengan putri kita"ujar tuan Haris pada istrinya.
"Sudahlah pa,biarkan saja"Nyonya Linda menyauti perkataan suaminya.
Minimarket___
Kebiasaan rutin lainnya yang Lily lakukan adalah mampir disebuah minimarket yang sama sejak seminggu ini,dijalan ia pergi menuju sekolah.
Tujuannyapun masih sama yaitu membeli dua buah susu kotak rasa coklat,namun hari ini ada kejadian yang sedikit berbeda dari biasanya diminimarket tersebut.
"Ah ternyata kamu pelakunya"
Suara seseorang dari arah belakang langsung mengagetkan Lily yang hendak melakukan kebiasaan rutinnya, yaitu hendak membuang susu kotak strowbery yang dirinya dari rumah.
Gadis itu berbalik untuk melihat siapa pemilik suara yang membuatnya kaget itu,Lily bahkan batal membuang susu kotak strowbery ditangannya itu.
__ADS_1
"Ada banyak orang diluar sana yang bahkan tak pernah mencoba rasa susu kotak itu karena tak mampu membelinya,kamu malah membuangnya setiap hari ditong sampah itu"suara itu ternyata berasal dari seorang wanita muda berpakaian sama dengan pegawai minimarket yang Lily temui dimeja kasir tadi.
"Saya baru membuang susu kotak ini disini sejak seminggu lalu,lagi pula aku tak menyukainya jadi kubuang saja.Lagi pula kakak siapa emang, bilang gitu sama saya?"ujar Lily sedikit ketus,ia tak suka pada wanita muda itu karena mencampuri urusannya.
"Kalau gak suka kenapa dibeli?lagi pula saya tadi juga melihatmu membeli dua susu kotak lain dari minimarket ini"ujar wanita muda itu pada Lily.
"Dua susu kotak tadi memiliki rasa yang berbeda dengan dua susu kotak yang ingin saya buang ini dan saya tidak membeli dua susu kotak stroberu ini,saya hanya dikasih"ujar Lily.
"Nah kamu seharusnya tidak boleh membuang barang pemberian orang,itu namanya tidak menghargai pemberinya"ujar Wanita muda itu terdengar menasehati Lily.
"Yasudah kalau begitu,kakak ambil saja kalau tidak mau saya membuangnya"ujar Lily menarik salah satu tangan wanita muda didepannya itu dan memberikan kedua kotak susu strowbery itu kepada orang itu.
Setelah melakukan hal itu,Lily langsung beranjak pergi.Namun sebelum itu ia berkata
"Menghargai?saya bahkan tak yakin orang yang memberikan susu kotak itu peduli pada saya,saya cuma pengganti dari seseorang yang sangat menyukai strowbery"ujar Lily,barulah gadis itu benar benar melenggang pergi darisana.
Lily meninggalkan wanita muda itu berdiri termangu didepan minimarket itu,memandangi kedua kotak susu strobery ditangannya sambil memikirkan makna perkataannya barusan.
"Lily!"
Baru saja Lily keluar dari dalam mobilnya,Alex sudah memanggil nama dan berlari menyusulnya.
"Hai Girl"sapa Alex sambil dengan santai menggunakan tangannya merangkul pundak Lily.
"Hai,lain kali jangan teriak gitu napa Lex.Gue sama lo bisa jadi pusat perhatian tau gak"ujar Lily pada Alex.
Mendengar perkataan Lily itu,Alex refleks melihat sekeliling dan benat saja kini cukup banyak murid murid yang memperhatikan mereka.
"Hehehe...sory girl,gue tadi takut lo gak denger gue manggil"ujar Alex,
diaawali dengan cengiran.
__ADS_1
Tanpa sadar cengirannya itu menjadi pemicu murid murid cewek yang salting dan jadi histeris ngeliat cengiran troublemaker yang satu ini.
"Hua..Alex senyumnya manis!"
"Gak kuat adek mas"
"Calon imamku suka bikin salting"
"Alex,lamar aku sekarang juga"
"Yuk dengan restu mama papa"
"Gila,Alex senyum woi!"
Dan banyak lagi.
"Rusuh banget,banyak juga peminat lo disekolah ini Lex"ujar Lily melihat kealay-an para murid cewek itu.
"Iya sih tapi gue malah gak minat sama mereka,ganggu ketenangan gue banget"ujar Alex ketus.
"Dih barunya juga nyengir tadi,udah balik lagi mode galaknya"ujar Lily melihat ekspresi tak suka Alex pada teriakan para fans cowok itu.
"Biarin,itu sifat asli gue.Gue nyengir juga tadi buat lo doang"ujar Alex acuh tak acuh.
Tapi meski cowok yang tengah merangkulnya ini menampilkan dengan jelas wajah tak sukanya kepada para fansnya itu,para murid cewek itu keliatan gak peduli sama sekali dan masih terus memuji temannya yang satu ini.
Kedua orang itu terus melangkah menuju kelas mereka yaitu Ruang 11 tanpa peduli dengan murid murid lain yang memperhatikan keakraban dan juga posisi tangan Alex yang dengan santainya merangkul pundak Lily.
Namun keduanya tak sadar sejak tadi kalau ada seorang cowok yang memperhatikan interaksi Alex dan Lily yang tanpak sangat akrab dan dekat dengan ekspresi yang sulit ditebak,serta perasaan yang campur aduk.
*kenapa gue gak suka liat kembarannya Lala deket sama itu cowok*gumam orang itu.
__ADS_1
Cowok itu adalah Vero,pacar dari mendiang kembarannya Lily yaitu Lala.