Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Punya Abang


__ADS_3

Bangun dari kenikmatan tidur, bukanlah sesuatu yang mudah. Berdiri dan berjalan gontay dengan mata bergayut kantuk. ketika aku mendengar suara azan subuh, aku membangunkan tuan Devan. Untuk membersihkan dan menyucikan diri, setelah itu kami melakukan shalat subuh dengan berjemaah. Tuan Devan yang menjadi iman dan aku menjadi makmum. Seperti biasa setelah shalat aku selalu meluangakan waktu ku untuk membaca alqur'an. Setelah selesai membaca alqur'an, aku pun mendekati tuan Devan yang tengah berbaring di atas tepi ranjang.


"Abang..." panggil ku, aku tahu tuan Devan masih kesal dengan ku, karena kejadian tadi malam.


"Abang maafin aku" ucap ku memohon


"Hemmm" Jawab tuan Devan


"Abang... Jangan marah. Maafin aku" lagi-lagi ku memoho, tidak lupa aku memasang wajah iba ku. Agar tuan Devan tidak bersikap dingin lagi dengan ku.


"Siapa juga yang marah" jawab tuan Devan singkat


"Jadi, Abang tidak marah?" ucap ku


"Tidak.. Cuma" ucap tuan Devan menatap dingin


"Cuma apa Bang?" tanya ku


"Abang tidak suka lihat sayang dekat-dekat dengan laki-laki lain. Sayang itu punya abang, tidak ada satu laki-laki pun yang boleh mendekati sayang. Kecuali ayah bersama adek" ucap tuan Devan. Aku tidak menyangka jika tuan Devan bisa posesif seperti ini dengan ku.


"Jadi, Abang cemberu??" tanya ku


"Enggak" Tuan Devan langsung membawa ku ke dalam pelukannya.


"Sayang, Jangan pernah lelah bersama Abang. Kamu janji ya sama Abang selalu bersama Abang, walaupun banyak badai yang menghalangi kita" ucap Tuan Devan sambil memegang ke dua pipi ku dengan lembut.


"Ke napa menangis? Kamu tidak mau?" tanya tuan Devan


"Abang justru adek sangat bersyukur, bisa meiliki Abang. Tidak ada sedikit pun niat adek meninggalkan Abang. Adek janji Bang apa pun yang terjadi anatara kita, kita harus melewatinya bersama-sama" ucap ku


"Terimakasih sayang.. Abang takut jika suatu hari kamu ninggalin Abang. Karena abang sudah jahat dengan mu"

__ADS_1


"Sedikit pun adek tidak menyimpan rasa dendam dengan abang" ucap ku


"Makasih sayang, abang berterimakasih dengan teman adek itu. Yang sudah memberi alamat abang dengan adek, sehingga kita bisa bertemu dan menjadi sepasang suami istri"


"Iya bang, adek juga walaupun awalnya adek kesal dengan Novi sahabat adek itu" Tuan Devan pun langsung mengecup kening ku dengan lembut, bukan hanya sebatas kening.


"Bang adek mau bantuin ibu masak dulu" ucap ku menghentikan aktifitas tuan Devan yang sudah liar di tubuh ku.


"Sayang..." ucap tuan Devan tidak terima


"Maaf ya bang. Nanti ibu mala marah dengan ku. Nanti di kira ibu aku bangun ke siangan tidak bisa ngurus suami" ucap ku sambil menahan tubuh tuan Devan


"Ya sudah sana, jangan lupa buatin mas sambal pare" usir tuan Devan


"Iya hantu pare..." ucap ku sambil berlari. Kalau tidak bisa-bisa nanti aku kena tabok.


"Ibu..." ucap ku sambil berteriak di kuping ibu, membuat ibu ku terkejut


"Ayukkkk....." teriak ibu, hingga membuat ayah terjaga


"Ini anak ayah selalu membuat ibu jantuangan" omel ibu


"Maaf bu. Oh ya buk anak nantu ibu minta buatin sambal pare" ucap ku sambil memakan gorengan pisang buatan ibu


"Pare....? Teryata nak Devan suka yang pahit-pahit?" tanya ayah


"Iya yah, semenjak kenal ayuk. Bang Devan suka makanan yang pahit-pahit" ayah pun angguk-angguk tidak jelas.


"Oh ya kalau gitu ayah mau lanjutin tidur dulu" ucap ayah pergi meninggalkan kami


"Dasar ayah....." omel ibu

__ADS_1


Aku bersama ibu pun memasak bermacan jenis sayuran. Ibu memasak sambal pare, di campur tempe, tidak lupa di kasih sedikit ikan asin. Sedangkan aku memasak tumisan daun labu yang di kasih cabe iris. Tidak lupa ibu menggoreng ikan hasil pancingan adek. Semua makan sudah di hidangkan, tinggal untuk di santap. Aku pun memanggil tuan Devan di kamar.


"Abang. Ayo makan sambal parenya sudah jadi" ucap ku


"Iya sayang, sebentar" ucap tuan Devan tanpa melirik ku


"Abang ngapain?" tanya ku menghampiri tuan Devan yang tengah memainkan hp


"Abang lagi mengecek email sebentar"


"Oh....." jawab ku malas


"Sabar sebentar ya sayang. Ini juga demi masa depan kita" ucap tuan Devan, sepertinya tuan Devan tahu kalau aku kesal karena tidak di hiraukan.


"Iya bang" Tidak lama setelah itu tuan Devan sudah selesai dengan hp nya.


"Ayo sayang" ajak tuan Devan


"Ke mana bang?" tanya ku pura-pura tidak tahu


"Makan, abang sudah tidak tahan lagi"


"Kelaparan ya pak?" goda ku. Tuan Devan tidak menjawab ucapan ku, justru ia pergi meninggalkan ku. Kami pun serapan dengan hening, tiada yang bicara. Hanya ada suara antara sendok dan piring yang sedang berperangan. Setelah makan kami pun melakukan aktifitas masing-masing. Ayah bersiap pergi ke sawah sedangkan ibu mau ke pasar, kalau adek berangkat sekolah. Jadi, hanya tinggal aku bersama tuan Devan. Apa ya yang akan tuan Devan lukakan? Jika tinggal berduan dengan ku.


"Sayang... Semua orang di rumah sudah pergi. Ayo kita lanjutin yang tadi. Mumpung masih pagi"


"Mas tapi kan" belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku tuan Devan langsung memotongnya begitu saja


"Sayang apa kamu tidak kasihan sama abang? Kemaren tidak dapat jatah, tadih malam juga tidak dapat jatah" ucap tuan Devan manja


"Siapa suruh pakai acara merajuk segala" ledek ku. Tuan Devan tidak menjawab ucapan ku. Justru tuan Devan langsung mengangkat tubuh ku membawa ku ke atas ranjang. Pasti tahu la yah apa yang di lakuin tuan Devan kalau soal ranjang.

__ADS_1


bersambung....


"


__ADS_2