Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Ada penganggu


__ADS_3

"Oh itu keponakan Bibik, memangnya ada apa?" Tanya Bibik tukang bakso


"Gak ada bik" jawab Bobi


"Oh iya bik sekarang dia kemana?" Tanya Devin yang sudah tak sabar menerima jawaban dari bibik.


"Sekolah" jawab Bibik


"Sekolah dimana bik? Kenapa tidak sekolah disini saja?" Tanya Devin seperti wartawan saja.


"Kalian tahu sendiri biaya sekolah disini berapa. Sedangkan penghasilan Bibik sehari hanya berapa" ucap Bibik


"Hemzz,, bik kalau saya boleh tahu dia sekolah dimana bik? Kelas berapa?" Tanya Devin belum puas mendapat informasi dari bibik tentang gadis yang sudah membuat ia sulit untuk memejamkan mata.


"Bik bakso nya" teria siswa yang lain.


"Bik jawab dulu" teriak Devin ketika Bibik meninggalkannya.


"Sabar Dev, masih ada hari esok" ucap Bobi menenangkan Devin yang kesal.


"Lo mau kemana? Ini bakso masih banyak" ucap Bobi ketika Devin berdiri dari posisinya.


"Gue mau cabut"


"Tapi baksonya"


"Biarkan saja, selera gue sudah gak ada" ucap Devin,


"Hay," panggil Bobi


"Gue?" Tanya anak itu


"Iya."


"Ada apa?"


"Ini buat Lo!" Bobi memberi bakso Devin yang tidak di makan sedikit pun oleh Devin kepada salah satu siswa yang tengah menunggu antrian


"Buat aku?"


"Hemzz.."


"Terimakasih" Bobi pun meninggalkan kantin menuju ke Devin.


Kemana anak itu, batin Bobi


Bobi pun memutuskan ke kelas Devin, mungkin saja Devin kembali ke kelas nya. Karena tempat biasa mereka nongkrong Devin tidak ada disana. Ketika Bobi tiba di kelas Devin, Bobi tidak melihat sedikit pun bayang-bayang si Devin.


"Bro Lo lihat Devin?" Tanya Bobi


"Tidak" jawab Rio


Bobi pun mencoba menghubungi Devin, tapi sayang panggilan di tolak oleh Devin.


"Assalammualaikum" ucap pak guru memasuki kelas

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab semua murid serentak.


"Hai kamu anak kelas berapa!" Ucap pak guru ketika melihat Bobi yang tengah berdiri di kursi Devi


"Kelas 12 pak"


"Berati ini bukan ruangan kamu. Kenapa kamu masih ada di ruangan ini, kalau mau pacaran nanti pulang sekolah"


"Bapak salah paham pak, saya bukan mau pacaran pak. Saya kesini hanya" ucap Bobi terjeda mencari alasan yang pas


"Hanya mengembalikan buku Devi yang sudah saya pinjam pak" bohong Bobi, Bobi pun langsung mengangkat salah satu buku Devi yang berada di atas meja, memberi bukti.


"Kenapa juga kamu minjam buku adek kelas?"


"Untuk baca-baca lah pak, agar saya tidak lupa waktu mengisi jawaban UN" pintar sekali Bobi mencari alasan


"Apa benar Devi?" Tanya pak guru. Devi melirik ke arah Bobi sambil memikirkan jawabannya.


"Devi apa benar?"


"Tidak pak" ucap Devi. Menurut Devi lebih baik berkata jujur jika membuat seseorang itu akan menjadi lebih baik.


"Bobi sekarang kamu ikut bapak, kamu juga Devi"


"Kok saya juga pak?" Tanya Devi karena ia ikut terbawa masalah Bobi jika dia tahu seperti ini lebih baik tidak usah berkata jujur.


"Jangan banyak tanya! Mari ikut bapak" bentak pak guru. Dengan langkah gontay Devi mengikuti langkah pak guru, ketika tiba di ruang BK, Bobi bersama Devi di introgasi. Hingga keduanya di minta untuk membersihkan susah sampah yang berserakan di taman


"Pak, saya kan tidak salah. Kenapa saya juga harus munguti sampah?" Protes Devi tidak terima


"Coba saja kamu tidak melayani Bobi, mungkin saja Bobi tidak akan ke kelas kamu!"


"Jangan banyak protes! Bersihkan semuanya nanti jika bapak kembali semuanya harus sudah di bersihkan"


"Tapi pak" pak guru tidak menghiraukan ucapan Devi, justru meninggalkan Devi bersama Bobi.


"Maaf ya Def, gara-gara kakak kamu harus ikut terkena hukuman" ucap Bobi merasa bersalah


"Iya. Lain kali kalau jam pelajaran jangan suka melalar kemana-mana kak" nasehat Devi


"Iya."


"Dev, kesana yuk!" Ajak Bobi


"Tapi kak pekerjaan kita belum selesai" ucap Devi


"Tidak apa Dev, lagian bapak nya sudah pergi entah kemana"


"Tapi kak"


"Kamu tenang saja, biar nanti Kakak yang bertanggung jawab semuanya"


"Ok, tapi serius ya kakak yang harus tanggung jawab" ucap Devi


"Iya bawel"

__ADS_1


"Aku gak bawel"


"Tapi cerewet" ucap Bobi langsung dapat sebuah cubitan dari Devi. Devi bersama Bobi pun menuju sebuah pohon rimbun yang terletak di sebuah lapangan sekolah. Kedua insan itu pun saling bersandar di balik pohon rimbun menikmati udara yang sangat sejuk.


"Dev"


"Ada apa kak?" Tanya Devi


"Kamu pernah jatuh cinta tidak?" Tanya Bobi


"Entah kak"


"Kok entah?"


"Aku sendiri tidak tahu apa itu jatuh cinta, bagaimana bisa aku mengetahui aku pernah jatuh cinta atau tidak"


"Kamu pernah suka sama seseorang gitu atau kalau bertemu sama dia membuat jantung kamu berdebar lebih kencang dari pada biasanya"


"Sepertinya belum ada kak. Lagian aku tidak terlalu memikirkan hal itu kak lebih baik fokus saja ke sekolah dulu"


"Kenapa Kakak sedang jatuh cinta apa?" Tanya Devi membuat Bobi jadi salah tingkah


Iya, aku jatuh cinta sama kamu. Batin Bobi


"Kenapa diam kak?"


"Gak ada. Oh iya Dev seandainya ada yang menyukai kamu, bagaimana kamu menanggapi orang itu?"


"Ya lihat dulu orang nya siapa kak,"


"Kakak Dev" ucap Bobi dalam hati, andaikan saja Bobi punya keberanian, mungkin saja Devi akan membalas perasaan itu tapi sayangnya Bobi hanya berani mengatakan dalam hati.


"Oh. Kalau cewek itu biasanya suka apa Dev?"


"Tergantung sama orangnya kak, soalnya setiap orang mempunyai hobi berbeda-beda."


"Kamu benar juga sih Dev. Kalau kamu sendiri suka apa?"


"Kalau aku suka apa ya, aku saja bingung kak. Yang pastinya bisa memberi ku rasa nyaman itu saja sudah cukup kak. Percuma saja jika dia memberi ini itu tapi kita tidak nyaman jalan bersama dengannya itu kan percuma saja justru membuat hati kita tersiksa."


"Betul itu"


"Jika kakak menyukai seseorang kenapa tidak kakak bicara langsung dengan orang itu, bisa tahu dia juga menyukai kakak. Dari pada Kakak pendam sendiri, lama-lama nanti di ambil orang kak"nasehat Devi


"Yang aku maksud itu ya kamu Dev, Kakak suka sama kamu dari awal melihat senyuman manis yang ada di bibir mungil mu itu, membuat kakak tidak bisa berfikir jernih" lagi-lagi Bobi hanya berani berucap di dalam hati


"Yang kakak maksud itu adalah ka" belum sempat Bobi menyampaikan isi hatinya, pak guru sudah ada di depan Bobi sambil mengecak pinggang


"KA apa!" Bentak pak guru


"Eh bapak" ucap Bobi sambil garut-garut kepala yang tidak gatal


"Kenapa kepala kamu, banyak kutunya?"


"Gak lah pak. Ini kepala di jamin bersih mana ada kutu berani hinggap" ucap Bobi sambil menyodorkan kepalanya dengan pak guru.

__ADS_1


"Sana kembali ke kelas masing-masing!"


"Siap pak" Devi bersama Bobi pun kembali ke kelas masing-masing.


__ADS_2