
Tidak mengguna waktu lama, tuan Devan pun tiba di kediamannya dengan membawa satu buah kantong plastik yang berwarna putih. Tuan Devan pun langsung menuju ke kamar menemui ku yang tengah tertidur.
"Sayang bangun..." ucap tuan Devan menggoyangkan tubuh ku
"Ngantuk bang" jawab ku malas membuka bola mata ku
"Ini pesanan sayang sudah abang beliin"
"Simpan saja bang, adek sudah tidak sanggup menahan kantuk adek lagi"
"Sayang apa sayang tidak kasihan sama abang?"
"Maaf bang, adek benar-benar ngantuk"
"Ayolah sayang.. Satu suap saja" Mohon Tuan Devan
"Abang besokkan bisa adek makannya"
"Abang mohon sayang" lagi-lagi tuan Devan memohon seperti anak kecil
"Abang kenapa si maksa?" tanya ku sambil membuka bola mata ku. Rasaya ketawa ku ingin pecah melihat mimik wajah tuan Devan, persis seperti anak kecil yang meminta sesuatu ke pada ibunya tetapi sang ibu tidak memenuhi keinginan anak itu.
__ADS_1
"Agar pengorbanan abang tidak sia-sia melihat sayang memakan makan ini" ucap tuan Devan sambil memberi bungkusan nasi itu dengan ku, tidak lupa tuan Devan memasang wajah ibanya
"Memangnya ada apa dengan nasi ini? Sampai-sampai muka abang di tekuk seperti itu, jelek tahu" ucap ku sambil mengambil nasi pemberian tuan Devan
"Gara-gara ini abang di kejar-kejar sama bencong" cerita tuan Devan. Membuat ku tidak bisa menahan tawa ku
"Hahaha....hahaha" gelak tawa ku
"Sayang senang melihat abang menderita? Abang lebih baik mengelilingi lapangan bola dari pada di kejar bencong" ucap tuan Devan serius.
"Maaf ya bang. Gara-gara adek abang lari-larian malam ini" ucap ku sambil nahan tawa ku agar tidak keluar
"Iya abang maafin. Tapi"
"Sayang harus bertanggung jawab" ucap tuan Devan dengan senyum menggoda
"Adek kan sudah mintak maaf bang"
"Ya sudah kalau tidak mau. Abang juga tidak mau maafin adek"
"Ya sudah adek mau. Terus adek harus ngapain? Agar abang maafin adek"
__ADS_1
"Gitu dong baru istri tercinta abang" ucap tuan Devan langsung mendarat ciuman di bibir mungil ku.
"Ya sudah kalau gitu kita makan dulu, setelah makan sayang harus bertanggung jawab"
"Terserah abang saja lah" ucap ku lalu pergi meninggalkan tuan Devan
"Sayang mau ke mana?" tanya tuan Devan sambil mengikuti langkah ku.
"Apa abang mau tiduran sama semut?"
"Enggaklah sayang. Apalagi berbagi kamu dengan semut" ucap tuan Devan
"Kalau enggak mau. Mari kita makan di meja makan" Aku bersama tuan Devan pun menyantapi pecel lele dengan diam, hanya ada suara sendok dan piring berperangan. Setelah selesai makan, aku langsung mencuci piring sedangkan tuan Devan duduk di kursi menunggu ku.
"Sayang cepat dikit"
"Sabar lah bang..." jawab ku. Tuan Devan tidak menjawab ucapan ku, justru tuan Devan langsung memeluk ku membuat ku sulit untuk bergerak.
"Abang lepasin... Adek mau cuci piring dulu" ucap ku sambil melepaskan pelukan tuan Devan
"Tidak sayang. Sekarang sayang letakkan piring itu jika tidak mau pecah" ucap tuan Devan sedikit memaksa, bukan sedikit si memang memaksa. Aku pun mengikuti perintah tuan Devan. Dengan cepat tuan Devan mengangkat tubuh mungil ku menuju tempat pavorit tuan Devan, bukan lain di atas ranjang. Seperti biasa tuan Devan memulai dari ciuman bibir terus sampai ke punjak gunung. Tidak cuma sampai di puncak gunung, tuan Devan terus mendaki hingga tiba di puncak kenikmatan. Setelah tiba di puncak, tidak lupa tuan Devan menanam bibitnya di puncak kenikmatan, supaya menjadi benih cinta Ku bersama tuan Devan. Aku sudah tidak tahan menahan kantuk ku hingga aku tertidur, sedangkan tuan Devan masih setia berada di gunung sambil memainkannya dengan gemas. Hingga tuan Devan tertidur tanpa melepaskan genggaman dari puncak gunung.
__ADS_1
Bersambung....
Terimakasih yang sudah setia membaca karya author. Jangan lupa like, komen dan Vote supaya author semangat nulisnya.