
"Uwakk.. uwak" entah berapa banyak Tuan Devan mengeluarkan isi perutnya, hingga membuat nya merasa lemah.
"Dara, gantilah baju mu! Kakak jijik melihatnya membuat kakak ingin muntah!" omel Tuan Devan, sedangkan yang ada di sana merasa aneh dengan sikap Tuan Devan.
"Bang kenapa?" tanya ku
"Hikss,, hikss, aku tidak mau melihatnya karena ia tidak mau menggantikan bajunya. Aku sangat jijik melihat baju itu," ucap Tuan Devan dengan isak tangis
"Abang tenang dulu ya, di minum air nya!" aku pun memberi Tuan Devan secangkir air putih.
"Sayang, katakan dengan Dara abang tidak menyukai warna itu" ucap Tuan Devan manja dengan ku. Mama pun menghampiri Tuan Devan dengan ku yang di ikuti oleh Via. Begitulah Via selalu mengekori mama, mungkin ia takut jika mama dekat dengan ku lagi.
"Devan, kamu kenapa nak?" tanya mama lembut lalu mengusap kepala Tuan Devan.
"Ma, aku tidak suka melihat Dara menggunakan baju warna itu. Perut Devan sakit ma, jika melihat warna itu" adu Devan.
"Ma, gantikan baju Dara!" tangis Tuan Devan.
"Iya. Nanti mama gantikan"
"Sekarang Devan makan dulu ya, nak," rayu mama. Karena dari pagi tadi hingga siang Tuan Devan mengeluarkan isi perutnya.
"Iya ma. Tapi, Devan mau makan asampade ikan tuna,"
"Kamu yakin Dev?" tanya mama tidak percaya. Karena selama ini Tuan Devan tidak pernah mencicipi yang namanya asampade.
"Iya ma. Devan selera makan itu"
"Bang, bukannya abang tidak menyukainya?" tanya ku
"Hiks,, hiks,, kalian jahat!" merajuk Tuan Devan.
"Baik lah, mama akan membuat asampade ikan tuna. Tapi, kamu janji makan ya"
"Iya ma. Mama jangan lupa minta Dara ganti baju, kalau belum ganti baju jangan pernah mendekati ku kalau tidak ingin membunuh ku,"
"Dev, kamu kenapa?" tanya Via kuatir, aku juga tidak tahu kuatir beneran atau hanya berpura-pura di hadapan mama.
"Bukan urusan mu! Sana pergi!" usir Tuan Devan
__ADS_1
"Kamu benar-benar ya Dev, aku tidak menyangka." ucap Via memasang wajah iba
"Via, ayo bantuin mama buatin sayur untuk Devan!"
"Sanaskan ada ma"
"Sanas, ia harus menjaga Devan" ucap mama. Dengan rasa kesal melabu di jiwa Via, karena harus membuat memasak, sedangkan Sanas berduan dengan Tuan Devan.
"Lihat saja nanti, aku akan mengambil posisi kamu. Yang mana seharusnya aku yang menjadi nona Devan, bukan kamu," batin Via. Melirik tajam kearah Sanas.
"Abang sakit apa?" tanya ku.
"Abang tidak tahu sayang. Kenapa abang sangat membenci warna hitam, tanpa ada alasan abang membencinya, membuat perut abang mules"
"Apa baiknya kita periksa kedokter bang,"
"Abang tidak sakit sayang,"
"Iya. Adek tahu abang tidak sakit. Tapi, lebih baik bang"
Kak, apa aku boleh memakai baju berwarna ini?" Dara menghampiri Tuan Devan bersama ku menggunakan baju dres panjang berwarna kuning kekuningan.
"Dara, belikan kakak ipar mu baju warna itu!" perintah Tuan Devan.
"Kakak ipar ada apa dengan Kakak, setahu aku kak Devan tidak menyukai warna ini, katannya norak." bisik Dara
"Kakak juga tidah tahu Dar, nanti siang kakak akan membawa abang ke dokter"
"Bagus kak, kita coba saja dulu. Semoga tidak terjadi apa-apa".
Tidak menggunakan waktu lama, asampade buatan mama pun jadi. Mama membawa satu piring nasi
"Devan, makan dulu ya,nak " ucap mama
"Iya ma"
"Ma, biar Via saja yang menyuapi Devan. Mama pasti capek habis masak"
"Dev, aku suapin ya" ucap Via mendekati Tuan Devan
__ADS_1
"Tidak perlu. Istri saya ada yang mengurus saya. Jadi, saya tidak perlu bantuan dari kamu!"
"Kamu dengar itu Via, pergi sana!" usir Dara
"Dara, jaga sikap mu!" bentak mama
"Ma, sudah ma. Apa yang dikatakatan Dara itu benar. Aku pamit dulu" ucap Via pergi meninggalkan keluarga Tuan Devan.
"Pergi sana jangan kembali lagi!" teriak Dara
"Ma," panggil Sanas
"Hemm" jawab mama
"Ma, bagaimana kalau kita bawa Tuan Devan kedokter!"
"Kamu pikir anak saya sakit, jangan bilang kamu pikir anak gila!"
"Tidak ma, tidak mungkin aku mempunyai pikiran buruk seperti itu"
"Baguslah,"
"Jadi, kapan kamu mau membawa Devan kedokter?"
"Secepat mungkin ma"
Devan bersama keluarganya pun menuju rumah sakit terbesar di kotanya. Di mana mereka di sambut dengan hormat, Tuan Devan bersama kelurganya di bawa keruangan khusus. Dokter pun memeriksa Tuan Devan, tidak menggunakan waktu lama pemeriksaan pun selesai.
"Dok, anak saya sakit apa?" tanya Mama
"Sakitnya belum jelas bu. Tapi ..." ucap Dokter terjeda.
Bersambung..
Terimakasih yang sudah membaca karya author. Jangan lupa tinggalin jejaknya ya, dengan cara like, komen, dan vote yang banyak ya.
Salam kecup dari author.
Muachh😘😘😘
__ADS_1