
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya kak. Dengan cara like, komen, vote, dan ditambahin juga ya kak di kolom pavoritnya. Agar author lebih semangat lagi nulisnya.
"Sanas..." panggil mama lembut.
"Iya ma. Ada apa?" tanya ku menghampiri mama mertua ku.
"Kamu sudah makan?" tanya mama
"Belum ma,"
"Kenapa? Sekarang sudah siang"
"Iya ma." jawab ku
"Kalau gitu makan sama mama saja! Mama masakin sayur jangung bening, sambal ayam cabe ijo."
"Baik ma" aku bersama mama menuju kedapur, kebetulan Tuan Devan tidak ada di rumah. Jadi, aku bisa bebas makan apa saja.
"Ma, apa Sanas boleh makan ini?" tanya ku mencicipi sambal terong giling cebe rawit.
"Boleh. Tapi, dikit saja"
"Baik ma" dengan semangat aku meletakkan nasi kedalam piring ku, di karenakan adanya sambal terong cabe rawit. Sudah ku bayangkan bagaimana hot nya sambal terong cabe rawit.
"Sanas, jangan banyak-banyak!"
"Iya ma." rasanya aku tidak puas. Di karena yang aku letakkan di piring ku, di kembalikan lagi oleh mama ketempatnya. Mama meletakkan berbagai macam sayur kedalam piring ku, padahal aku tidak menyukai sayur. Rasanya ingin ku letakkan kembali ketempatnya. Tapi, itu tidak mungkin.
"Makasih ma" ucap ku menghentikan tangan mama yang terus meletakkan sayur kedalam piring ku.
"Sanas, kamu harus banyak makan sayur" nasehat mama, sepertinya mama tahu jika aku tidak menyukai sayur.
__ADS_1
"Iya ma," aku bersama mama pun makan dalam diam, hanya ada suara berperangan antara sendok dan garpu. Tidak menggunakan waktu lama aku bersama selesai. Aku membersihkan sisah-sisah makanan, sedangkan mama mencuci piring. Ketika kami sedang asyik mengobrol, ada-ada saja pengganggu.
"Mama!" panggil Via atau si mak lampir.
"Iya." jawab mama santai, tidak seperti biasanya.
"Mama, sudah makan?" tanya Via
"Sudah!"
"Padahal Via sudah bawain mama makanan,"
"Kamu bawa apa?"
"Bakso, sate, dan cemilan lainnya."
"Sanas, apa kamu ada yang selera?" tanya mama
"Tentu sayang, kamu mau apa tinggal bilang sama mama"
"Kalau gitu Sanas mau bakso ma," ucap ku ragu-ragu karena melihat tatapan si mak lampir.
"Via, mama mintak baksonya satu!"
"Iya ma silahkan"
"Tolong kamu ambil mangkok dan sendok sekalian!" perintah mama, sedangkan muka si mak lampir langsung berubah seperti singa mencari mangsa.
"Ma, biar Sanas saja yang ambil."
"Tidak sayang, kamu tunggu di sini saja!"
__ADS_1
"Tapi, ma" ucap ku merasa tidak keenaan
"Via, tidak apa-apa kan?" tanya mama dengan Via.
"Iya ma. Tidak masalah selagi Via bisa bantu" ucap Via lembut dengan mama, padahal di dalam hati mbak Via, sudah mendongkol sebesar batu."
"Lihat saja kamu ya, tidak akan saya biarkan kamu bahagia. Kerana sudah berani bermain-main dengan saya," batin Via
"Via!" panggil mama karena Via belum beranjak dari posisinya.
"Eh iya ma." jawab Via
"Sana ambil mangkonya!" perintah mama. Via pun menuju kedapur mengambil mangkok, sendok serta garpu. Tidak lama setelah itu Via pun tiba membawa mangkok.
"Ini ma!" Via memberi mangkok itu dengan mama.
"Terimakasih" ucap mama menerima mangkok pemberian Via. Mama mengambil bakso pembelian Via, lalu di pindahkan kedalam mangkok. Setelah itu mama langsung memberi dengan ku.
"Sanas, ayo di makan!"
"Iya ma. Ma Via ayo makan!" ajak ku ramah
"Iya terimakasih!" jawab Via sinis.
"Ma, Via pamit pulang dulu!" pamit Via.
"Iya." jawab mama. Padahal dalam hati Via berharap semoga mama melarangnya pulang.
Terimakasi yang sudah setia membaca karya author. Semoga kita semua dalam lindungan allah swt. Salam kecup dari author.
Muachh😍😍
__ADS_1