Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Dugaan yang salah


__ADS_3

Takdir seakan tidak bersahabat untuk Devi, sudah satu Minggu Devi memejamkan bola matanya di atas ranjang tanpa sadarkan diri. Keluarga yang melihat keadaan Devi yang mana semakin hari semakin lemah, membuat mereka merasa tidak kuat. Sekuat mungkin Devi melawan penyakit yang menyerangnya sehingga membuat detak jantungnya terasa hilang timbul. Rasanya Devi sudah tak sanggup lagi, sehingga membuat tanda di layar terus berkurang. Bunda, ayah dan Devin yang melihat tanda garis itu pun semakin tidak kuat, karena hanya sedikit harapan untuk Devi akan kembali kedalam pelukan mereka.


"Devi bangunlah sayang, apa kamu tidak lelah berbaring terus. Apa Devi sudah tidak merindukan ayah dan bunda. Disini ayah dan bunda serta kak Devin menunggu Devi, kita semua rindu Devi yang mana Devi selalu ceria dan Devi selalu membuat kita bangga. Bunda mohon sayang bangunlah, disini bunda merindukan Devi. Apa Devi sudah tidak sayang lagi dengan bunda" ucap sang bunda sambil memeluk Devi yang tengah terbaring lemah dengan kondisi semakin memucat dan tubuh semakin terlihat kurus.


"Bunda," sebisa mungkin Devin memberi kekuatan untuk bunda, agar tidak terus menerus menangis karena itu akan bisa menyebab bunda jatuh sakit.


"Devin adek kamu pasti baik-baik saja kan?"


"Iya bunda, Devi akan baik-baik saja. Sekarang yang Devi butuhkan do'a dari kita bunda, jika kita menangis terus menerus akan membuat Devi merasa sedih, jika ia merasa sedih bagaimana Devi akan kuat melawannya penyakit yang menyerangnya bunda. Devin mohon bunda berhentilah menangis agar Devi juga bisa tenang melewati semuanya"


"Benar bunda apa yang dikatakan Devin, sekarang mari kita shalat berjamaah. Meminta kepada sang pencipta agar memberi kesembuhan kepada Devi, kita semua sayang Devi"


"Iya. Devi yang kuat ya sayang, bunda akan selalu ada buat Devi. Bunda tinggal dulu ya anak pintar dan cantik kesayangan bunda, ayah dan kak Devin" sebelum meninggalkan Devi bunda serta yang lain mengecup kening Devi dengan lembut.


Di tempat lainn...

__ADS_1


Di sebuah kamar yang tidak terlalu luas, tetapi tidak menghilangkan kemewahanya. Nampak seorang anak remaja laki-laki yang tengah termenung sambil memegangkan gitar kesayangannya, entah apa yang di pikirkan oleh anak itu. Apa ini yang dinamakan cinta, dimana setiap detik selalu ada bayangan wajahnya yang menghantui, sehingga membuat nya tidak konsentarasi dan semangat hidup menghilang jika tak tahu kabarnya. Apa mungkin itu yang namanya cinta tulus dari hati, author juga kurang paham jatuh cinta itu seperti apa. Anak remaja itu pun mencari bendah pipi yang selalu menemani hari-harinya bisa dikatakan teman hidup. Setelah menemukan benda pipi itu dengan kelincahan sang anak remaja itu membuka layarnya dan pertama kali yang muncul sebuah foto gadis imut yang tengah tersenyum manis. Anak remaja itu pun memejamkan bola matanya sambil memedamkan benda pipih itu di dalam dada bidangnya, bayangkan bahwa ia sedang memeluk gadis remaja itu yang sudah lama tidak ia temui. Akhirnya anak remaja laki-laki itu pun memutuskan untuk menyimpan perasaannya sendiri tanpa ada yang tahu, cukup hanya dia dan Tuhan lah yang tahu. Bukannya dia tidak ingin memberi tahu sahabat atau keluarganya ia hanya tidak ingin ada yang merasa tersakiti. Anak remaja itu pun bangkit dari tempat ia bersandar lalu mengambil jaket yang tengah tergantung di balik pintu. Ia pun mengendarai sepeda motor kesayangannya dengan kecepatan sedang. Tidak menggunakan waktu lama anak remaja itu pun tiba di sekolah. Bukan masuk ke kelasnya justru ia langsung menuju kelas lain.


"Bel" Bobi mendekati Bela yang tengah membaca buku


"Ada apa kak?" tanya Bela antara senang dan malu.


"Devi mana?" Tanya Bobi


"Kami tidak tahu kak, semua guru menutupi kenapa Devi tidak hadir" jelas Lisa


"Sama saja kak, kita tidak ada yang tahu kenapa mereka tidak masuk"


"Oh"


"Bukan nya kakak sahabat Devin kenapa tidak di hubungi saja kak"

__ADS_1


"Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali kakak menghubungi Devin, tapi selalu di tolak"


"Sama kak aku sudah berapa kali menghubung Devi, justru di tolak"


"Kenapa mereka bisa kompak seperti itu, ya?" Ucap Bobi


"Wajar saja kak"


"Kenapa?"


"Iya wajar kak, mereka kan saudara kembar"


"Kembar!!"


"Iya. Apa selama ini kakak tidak tahu?" Bobi menggelengkan kepala

__ADS_1


Hem teryata dugaan ku selama ini salah, aku senang mengetahui jika Devi bersama Devin saudara kembar jadi bisa leluasa aku mendekati Devi. Tapi yang membuat ku heran kemana mereka sudah lama tidak kembali ke sekolah tanpa ada kabar.


__ADS_2