
"Terimakasih ya sudah mau menemani ku" ucap ku tulus dengan staf kantor yang sudah menemani ku ke kantin.
"Sama-sama no eh Sanas" ucap staf kantor itu terbatah-batah
"Oh iya nama kamu siapa?" tanya Ku
"Bela" ucapnya
"Oh Bela, makasih ya. Mungkin di lain waktu kita bisa bertemu kembali, bay" ucap ku pergi meninggalkan Bela. Aku pun melangkahkan kaki ku meneju ruangan Tuan Devan, cukup lama aku meninggalkan ruangan itu untuk berkeliling. Ketika aku membuka pintu teryata Tuan Devan sudah kembali.
"Assalammualaikum" ucap ku
"Waalaikumsalam, sayangnya abang dari mana?"tanya Tuan Devan, aku pun mendekati Tuan Devan yang tengah duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi di tambah dengan sebatang rokok, dengan cepat Tuan Devan mematikan rokoknya ketika aku mendekatinya, karena ia tahu jika aku alergi asap rokok.
"Abang sudah lama kembali?" tanya ku manja duduk di pangkuan Tuan Devan, aku sengaja bermanja-manja dengan Tuan Devan agar tidak banyak pertanyaan yang di keluarkan oleh Tuan Devan.
"Baru. Sayang abang tadi makan apa?" tanya Tuan Devan
"Bakso bang"
"Minumnya?"
"Es jeruk" jawab ku
__ADS_1
"Abang kan pernah bilang kalau habis makan bakso jangan minum es, nanti lemaknya beku di dalam perut. Minumnya harus air hangat-hangat agar lemaknya langsung mencair" omel Tuan Devan
"Iya bang adek salah, maaf ya" ucap ku merasa bersalah di hadapan Tuan Devan.
"Iya sekali ini abang maafin, tapi ada satu syarat"
"Apaan bang?"
"Sini!" ucap Tuan Devan membisikkan sesuatu di telinga ku, aku yang mendengarnya jadi geli sendiri di buat oleh Tuan Devan.
"Abang!" teriak ku mencubuti pinggang Tuan Devan.
"Kenapa gak mau?" tanya Tuan Devan dengan senyuma menggoda
"Iya abng tahu ini kantor, siapa bilang tempat wisata"
"Itu abang tahu tidak mungkin melakukan hal seperti itu, memalukan"
"Kenapa? Kita kan suami istri sah-sah saja" ucap Tuan Devan tidak terima alasan ku
"Bagimana kalau ada yang melihat?"
"Tidak ada sayang abang, karena di sini abang sudah siapkan kamar pribadi di dalam ruangan ini, khusus buat kita berdua" jahil tuan Devan
__ADS_1
"Tapi bang" Tuan Devan tidak terima alasan dari ku. Ia pun langsung mengangkat tubuh ku membawa ku di atas ranjang, lalu meletakkan ku di atas ranjang yang tidak kalah besarnya di rumah Tuan Devan. Sebelum Tuan Devan melakuan aksinya, aku meminta Tuan Devan mengunci pintu, bagaima nanti jika aku sedang tahu sendiri ya kak, tidak perlu author jelasin.
"Bang kunci pintunya!"
"Baik Tuan putri" Tuan Devan langsung mengunci pintu, setelah pintu terkunci Tuan Devan mulai melakukan aksinya. Seperti biasa bermula dari bibir mungil ku hingga ke dua gunung kembar ku. Bukan sebatas di situ Tuan Devan terus mendaki gunung hingga tiba di puncaknya. Ketika Tuan Devan ingin mendaki yang ke dua kalinya tiba-tiba saja hp Tuan Devan bergetar, dalam hati ku alhamdillah.
"Bang kenapa tida di angkat?" tanya ku karena Tuan Devan tidak menghiraukan hp nya.
"Tidak penting, ada yang lebih penting" ucap Tuan Devan masih setia di punjak gunung.
"Ehem" aku hanya menjawab dengan berdhem karena jika aku melawan tetap saja aku yang kalah. Tuan Devan masih setia melakukan aksinya, mendaki punjak gunung hingga tiba ke puncaknya. Tidak lupa sebelum meninggalkan punjak gunung Tuan Devan menanam bibit unggul di punjak kenikmatan.
"Sayang terimakasih" ucap Tuan Devan, aku tersenyum menanggapi ucapan Tuan Devan. Aku bersama Tuan Devan pun langsung membersihkan tubuh ku yang terasa lengket karena ulah Tuan Devan, kalau boleh jujur aku malu keluar dari ruangan Tuan Devan, karena rambut ku yang basah. Pasti orang-orang di sana tahu jika aku habis melakukan hal itu, kakak pasti tahukan maksudnya tidak perlu author jelaskan.
"Sayang ayo!" ajak Tuan Devan sambil menggandeng tangan ku meninggalkan kantor megah Tuan Devan.
Bersambung...
Terimakasih yang sudah setia membaca karua author. Jangan lupa tinghalin jejaknya ya dengan cara like, komen, dan vote.
Salam kecup dari author. Semoga kita semua dalam lindungan allah
"
__ADS_1