Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Sudah pada besar


__ADS_3

Sebuah rumah yang tidak terlalu luas, nampaklah seorang gadis yang tengah bermain handphone. Gadis itu tampak bingung, ingin mengetik apa. Satu dua kalimat langsung di hapus lalu mengulang megetik lagi, hingga membuat gadis itu menghentikan jari jemarinya untuk mengetik. Gadis itu pun melangkah kan kakinya mengambil sebuah kunci, yaitu kunci motor. Tidak lupa gadis itu mengambil helm, sebagai pengaman kepala jika sedang mengendarai sepeda motor. Gadis itu pun mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Ia pun menyulusuri jalan, entah kemana tujuan yang ingin ia tuju. Karena tak memiliki arah dan tujuan gadis itu pun menghentikan sepeda motornya di sebuah pantai. Dimana pantai ini tempat pavoritnya bersama sang sahabat. Tapi kini gadis itu hanya datang dengan sorang diri, karena keegoisan dirinya sendiri.


"Mas, es nya satu" tidak menggunakan waktu lama es kelapa muda nya pun tiba.


"Sendiri saja mbak, temannya mana?" tanya penjual kelapa muda, yang mana sangat mengenali gadis ini bersama sahabatnya karena setiap sore minggu mereka mendatangai tempat ini, jadi wajar saja jika penjual kelapa muda merasa heran.


"Dia lagi gak bisa datang"


"Oh.. selamat menikmati mbak" penjual kelapa muda pun meninggalkan gadis itu yang tengah memandang lautan biru kebiruan di tambah dengan ombak yang terus bergelombang.


Dari kejauahan gadis itu tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal, bisa di katakan saudara tapi tak sedarah. Dalam hati kecil gadis itu ingin sekali menghampiri seseorang itu, tapi sayang karena keegoisan yang menghalanginya.


"Dev, apa kamu senang?" tanya Bobi.


"Seperti yang kakak lihat" ucap Devi tanpa mengalih pandangannya dari lautan biru


"Kamu suka pantai, ya Dev?" tanya Bobi, karena melihat Devi tampak begitu senang.


"Iya kak. Biasanya setiap sore aku kesini bersama Bela. Tapi sudah 2 Minggu ini tidak lagi" ucap Devi sedih, membayangkan Bela tak ingin menyapanya


"Kamu yang sabar Dev, mungkin Bela ada masalah. Maka dari itu dia menjauh, ingin menikmati kesendirian" ucap Bobi.


"Iya kak. Aku akan bersabar menunggu Bela ingin bicara dengan ku. Walaupun Bela bersikap seperti itu dengan ku, tidak membuat rasa sayang ku dengan nya berkurang kak. Karena Bela adalah teman yang sangat baik yang pernah aku temui kak"


"Iya kakak tahu itu. Dari tatapan mu kakak bisa melihat betapa tulusnya kamu menyangi Bela"


"Dev, kakak ingin mengatakan sesuatu dengan mu?" ucap Bobi ragu-ragu


'Silahkan kak, tidak ada yang melarang." ucap Devi dengan canda


"Kali ini kakak serius Dev"

__ADS_1


"Iya. Devi juga serius kak. Mana pernah Devi tidak serius" ucap Devi


"Kamu janji kalau kamu tidak boleh marah, tidak boleh jauhi kakak setelah ini" sebelum mengatakan perasaannya Bobi lebih baik membuat persyaratan dengan Devi, agar Devi tidak menjauhinya. Walaupun nanti Devi tidak menerima cintanya, setidaknya devi tidak akan menjauhinya.


"Hahahha,, kakak ini lucu. Kenapa juga aku marah" ucap Devi sambil tersenyum, yang pastinya senyuman Devi yang telah membuat Bobi semakin gugup, dan senyumanan manis itu pun yang telah mengikat hati Bobi.


"Janji ya" Bobi melingkarkan jari kelingkingnya dengan Devi membuat tanda persetujuan. Devi pun mengangguk tanda ia setuju dengan perjanjian yang telah Bobi berikan.


"Dev, sebenarnya selama ini" ucap Bobi terjeda


"Ayo selama ini apa?" canda Devi agar suasana tidak menjadi tegang


"Dev, kakak serius" ucap Bobi dengan nada serius. Devi pun merasa jika Bobi sedang tidak dalam keadaan main-main.


"Iya kak, maaf" ucap Devi merasa bersalah


"Dev, sebenarnya kakak tu sudah lama suka sama kamu. Awalnya kakak belum yakin kalau hati kakak benar-benar mencintai kamu. Tapi sekarang kakak sudah yakin, bahwa kakak menyukai kamu dan kakak sangat mencintai kamu. Sumpah demi apa pun kakak tidak pernah merasa getaran seperti ini jika bersama wanita. Tapi entah mengapa dengan kamu kakak merasa ada yang beda, apa ini yang dinamakan cinta sesungguhnya?" ucap Bobi dengan satu tarikan nafas. Devi hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bobi, ia tidak pernah menyangka jika laki-laki yang di sukai sahabatnya sendiri menyukai dirinya. Setelah Bobi mengungkapkan perasaannya ada terlintas di benak Devi, apa ini penyebabnya Bela menjau darinya.


Di tempat lain...


Devin sudah siap dengan penampilan gagahnya. Ia menggunakan baju kemeja panjang di padukan dengan celana Jean. Devin sengaja melipat kemejanya agar terlihat lebih keren ala-ala anak sekarang. Sambil bersiul riuh, Devin menuruni anak tangga yang ada di rumahnya. Seperti dunia milik Devin sendiri saat ini.


"Kak mau kemana?" tanya bunda yang tengah mengobrol bersama ayah di teras rumah.


"Bunda, ayah" sapa Devin. Devin menyalami kedua orang tuanya. Pastinya senyuman yang tidak pudar di bibir manis Devin.


"Anak bujang ayah mau kemana?" tanya ayah.


"Ayah seperti tidak mengalami nya saja" ucap Devin malu-malu


"Mana ayah tahu kalau kakak tidak kasih tahu. Iya kan bunda?" Sebenarnya ayah tahu tujuan sang anak, karena mereka bukan anak kecil lagi. Tapi ayah sengaja pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Ya benar kata ayah." ucap Bunda


"Hemmzz. Bunda, ayah Kakak berengkat dulu" pamit Devin. Lebih baik ia cepat meninggalkan kedua orang tuanya, dari pada nanti ia tambah di olok-olok.


"Kak, jangan lupa bawa kesini.." teriak bunda. Devin hanya tersenyum mendengar ucapan sang bunda.


"Bun, anak kita sudah pada besar, ya" ucap ayah


"Iya yah."


"Dimana sebentar lagi mereka akan memilih jalan hidup nya masing-masing." ucap ayah membayangkan jika anak-anaknya sudah pada menikah.


"Ayah, masih lama kali. Bunda belum ikhlas melepaskan mereka. Karena bagi bunda mereka adalah bayi kecil bunda"


"Kamu tidak boleh egois sayang. Karena begitulah kehidupan. Dimana nanti masa-masa tua kita hanya tinggal berdua. Maka dari itu yang menemani kita sampai tua nanti bukan anak-anak tapi pasangan hidup kita. Maka sayangilah pasangan mu dengan setulus hati, terbukalah dengannya apa pun masalah yang di hadapi. Karena hanya pasangan lah yang mengerti kita, dan pasanganlah yang menemani kita sampai hayat menjemput"


"Iya yah"


"Ayah ada ide, supaya kita tidak merasa kesepian lagi" ucap ayah dengan mata genit.


"Apaan?" tanya bunda.


"Kita nabung lagi buat adek untuk Devin dan Devi. Maka dari itu kita tidak akan merasa kesepian sayang" ucap ayah mulai beraksi


"Ayah.. maluan tahu" kesal bunda. Dasar ayah tidak tahu tempat sudah main nyosor ajah tu bibir.


"Ayo kita balik ke kamar!" tanpa persetujuan bunda, ayah langsung menggendong tubuh mungil bunda membawa bunda ke tempat pavorit.


Bersambung....


Terimakasih yang sudah berkenan membaca karya author. Jangan lupa like, komen dan vote ya kak. Agar author lebih semangat lagi nulisnya.

__ADS_1


Salam dari author.


__ADS_2