Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Nikmatin saja


__ADS_3

"Bunda"


"Ada apa?" tanya Bunda tanpa mengalih pandangannya dari siaran ikan terbang.


"Lihat kakak dulu" ucap Devin tidak terima jika bunda tanpa menghiraukannya


"Ada apa?"


"Mulai besok Devin mau bawa motor sendiri"


"Tidak" tolak Bunda


"Ayolah bunda. Masa Devin sama seperti anak TK dimana selalu diantar jemput" kesal Devin


"Diva biasa saja" ucap Bunda


"Ya jelas beda la bun kakak sama adek. Adek itu perempuan kalau kakak laki-laki"


"Tidak kata bunda tidak kak!"


"Ada apa ini?" tanya ayah baru pulang kerja


"Ini anak ayah mau bawa motor sendiri."


"Bagus itu" ucap ayah membuat Devin bahagai


"Bagus apanya?" kesal bunda


"Anak laki-laki memang harus mandiri, ayah setuju dengan kakak"


"Yang benar yah?"


"Apa ayah suka bercanda?" tanya Devan


"Yes, sayang ayah" Devin pun langsung memeluk sang ayah


"Kakak mau motor apa?"


"Kawasaki warna hijau yah" ucap Devin bahagia


"Ok. Sekarang pijiti kaki ayah!" dengan cepat Devin melaksanakan perintah sang ayah.


"Ayah" sapa Diva baru tiba lalu menyalami sang ayah


"Anak gadis ayah dari mana?" tanya Devin karena dari tadi Diva tidak kelihatan


"Adek dari taman belakang yah. Nyirami tanaman bunda"


"Anak ayah rajin betul, bangga ayah punya kalian berdua" Devin memeluk kedua buah hatinya

__ADS_1


"Apa ayah tidak bangga punya bunda?" tanya bunda sambil manyun


"Tentu ayah bangga. Tanpa bunda ayah tidak akan bisa membuat kedua anak hebat ini. Sini peluk ayah!" mereka pun saling berpelukan dengan kasih sayang


"Bagaimana hari pertama sekolahnya?" tanya ayah


"Seperti biasa saja yah, tidak ada bedanya sama sekolah yang lama. Tapi ada kurangnya disini?"


"Apanya yang kurang dek?" tanya bunda


"Buku-bukunya tidak sebanyak di tempat lama bun, jadi adek tidak terlalu puas" cerita Diva ketika mengingatkan bahwa perpustakaannya kecil


"Dasar kutu buku" ledek Devin


"Biarin"


"Kalau kakak bagaimana?"


"belum tahu sih bun, kalau hari pertama biasa saja bun. Tapi bun"


"Apa?"


"Gak jadi lah" Devin masih malu menceritakan jika jantuknya berdetak kencang ketika bertemu dengan perempuan yang tak sengaja ia tabrak kemaren.


"Kakak ini yah"


"Ya sudah sekarang kalian mandi, habis itu kita makan!"


"Bun, ," panggil ayah


"Ada apa yah?"


"Ayah mau di mandiin sama bunda, habisnya ayah kangen berduaan sama bunda" bisik ayah di telinga bunda


"Ayah.." teriak bunda ketika ayah langsung menggendong tubuh bunda membawa sang bunda kedalam kamar. Ayah pun langsung meletakkan tubuh mungil bunda di atas ranjang, setelah itu ayah mulai membuka satu persatu pakain yang di gunakan bunda, hingga nampak dua buah gunung kesukaan ayah. Ayah pun memulai aktifitas menaiki kedua gunung kembar milik sang bunda, tapi ketika sedang menikmati tiba-tiba saja bunda minta ayah menghentikan aktifitasnya.


"Ayah stop!! " ucap bunda sambil mendorong tubuh sang ayah


"Ada apa bun?"


"Pintunya belum di kunci" cengir bunda. Karena bunda tahu kebiasaan kedua anaknya yang mana kalau masuk kamar selalu menyolonong. Bayangkan jika kedua buah hatinya melihat adegan panas itu. Dengan rasa kesal ayah mengunci pintu.


"Pengganggu" kesal ayah lalu menendang pintu


"Aw sakit," ringis ayah


"Siapa juga yang suruh nendang pintu" omel bunda


"Ayo bun lanjutkan yang tadi!" ajak Ayah. Belum sempat bunda menjawab ayah langsung melakukan aksinya. Bunda hanya bisa menikmati setiap sentuhan yang ayah berikan. Lagi-lagi ayah di buat kesal oleh bunda

__ADS_1


"Sayang" panggil bunda lembut


"Iya sayang nikmati saja" bisik ayah si kuping bunda membuat bunda merasa gelih


"Sayang. Pelan-pelan" teriak bunda


"Sayang siap-siap ya ayah mau titip tabungan buat bunda, agar Devi dan Devan punya adek yang lucu-lucu"


"Enakkan sayang?" tanya ayah ketika adegan panas selesai


"Ayo mandi! "


"Dek coba kamu panggil ayah sama bunda! Kemana mereka lama sekali?" perintah Devin karena kedua orang tuanya tak kunjung keluar dari kamar


"Biarkan saja kak. Mungkin ayah sama bunda sedang berbagi cerita, kita tunggu saja"


"Bilang saja kamu malas" kesal Devin


"Iya memangnya kenapa?"


"Dek ada yang kamu naksir gak di sekolahan?"


"Gak ada kak. Kenapa kakak ada naksir cewek ya?" tebak Diva


"Gak ada ah" jawab Devin malu-malu


"Jujur saja kak, adek tahu pasti ada yang kakak taksir."


"Kamu itu sok tahu"


"Ayo kak ngaku saja sama adek mu ini, nanti bisa tahu adek bantu"


"Beneran kamu mau bantu kakak?" Diva pun mengangguk


"Gak jadi ah, nanti kamu ember"


"Janji adek tidak akan cerita sama siapa-siapa termasuk bunda"


"Malas"


"Ayo lah kak jangan buat adek mati penasaran"


"Mati saja belum"


"Ada apa ini?" tanya bunda melihat kedua buah hatinya sedang berdebat entah apa yang di debatkan


"Ini bun"


"Tidak ada bun, ayo kita makan!" dengan cepat Devin memotong ucapan Diva agar tidak mengadu sama bunda

__ADS_1


Bersambung....


Terimakasih yang sudah berkenan membaca karya author. Jangan lupa like, komen, dan vote. Agar author lebih semangat nulisnya.


__ADS_2