
"Bel lo kenapa?" tanya Devi karena tak biasanya Bela jadi pendiam, yang mana biasanya Bela selalu mengoceh. Wajar saja jika Devi merasa ada yang aneh dengan Bela.
"Gak ada Dev" bohong Bela
"Lo jangan bohongin gue Bel. Dikit banyaknya gue tahu lo orangnya seperti apa walaupun kita belum lama kenal"
"Hemm.. Iya Dev gue lagi ada masalah" ucap Bela sedih
"Lo ada masalah apa? Cerita sama gue walaupun gue tidak bisa bantu lo setidaknya gue jadi pendengar yang baik untuk lo. Bisa tahu nanti gue bisa kasih solusi buat lo" ucap Devi
"Cinta gue di tolak Dev." tangis Bela
"Lo nembak cowok?" Bela pun mengangguk
"Gi mana ceritanya Bela, bisa-bisanya lo nembak cowok" bukannya Bela dapat nasehat justru kena omel oleh Devi.
Flasbckon..
"Kak Bobi.." teriak Bela
"Ada apa Bel? Kenapa belum pulang?" tanya Bobi. Wajar saja Bobi nanya kenapa belum pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Gue nungguin lo kak, batin Bela
"Tadi gue piket dulu kak. Agar besok tidak terburu-buru" bohong Bela
"Ow."
"Kak" panggil Bela ragu-ragu.
"Ada apa Bel?"
"Bela boleh ngmong sesuatu tidak"
"Tinggal omongin saja Bel. Apa susahnya"
"Tapi janji kakak jangan marah ya" ucap Bela
"Iya. Kenapa juga kakak marah"
"Kak sebenarnya Bela sudah lama suka sama kakak. Apa kakak mau jadi pacar Bela" ucap Bela tanpa melihat Bobi
"Hahaha. Kamu nembak kakak Bel?"tanya Bobi dengan tawa
"Iya kak. Apa ada yang salah?"
__ADS_1
"Gak ada sih. Maaf ya Bel kakak tidak bisa jadi pacar kamu" tolak Bobi
"Kenapa kak? Bukannya selama ini kakak baik sama Bela, peduli sama Bela"
"Orang baik itu belum tentu ia menyukai. Lagian kita sesama teman harus berbuat baik, jadi kakak berbuat baik sama Bela berarti bukan berarti kakak suka sama Bela."
"Jadi Bela salah tanggap atas kebaikan kakak selama ini"
"Hemmz.."
"Kak apa tidak ada kesempatan sekali saja buat Bela?"
"Maaf ya Bel, yang namanya cinta itu tidak bisa di paksa. Jika kita memaksa kehendak kita pasti salah satu antaranya ada yang tersakiti. Lagian kakak sudah ada wanita yang kakak suka" ucap Bobi membuat bela sakit hati
"Intan ya kak" tebak Bela
"Sudah ah tidak perlu kamu tahu. Sekarang mari pulang!" walaupun ia menolak Bela tetapi Bobi selalu bersikap baik
"Makasih kak, aku bawa motor sendiri" bohong Bela
"Ya sudah kalau gitu kakak duluan bel!" Bobi pun pergi meninggalkan Bela.
Flasback of..
"Ya mau gimana lagi Dev, gue sudah lama suka sama kak Bobi. Gue kira dia suka juga sama gue kalau gue tahu dia gak suka sama gue. Tidak bakal gue tembak"
"Makanya lo jangan kepedean"
"Gue malu Dev, ketemu sama kak Bobi. Apa lagi sama kembaran lo pasti kalau dia tahu bisa mati gue di ledeki sama Devin" Bela sudah membayangkan betapa jahilnya Devin.
"Kamu tenang saja kalau soal kak Devin. Yang gue pikirkan jangan sampai geng Intan yang tahu"
"Kamu benar Dev"
"Mati gue... " teriak Bela hingga membuat semua teman kelasnya melirik kearahnya
"Siapa yang mati?" tanya Rio baru tiba
"Lo!"kesal Bela
"Nanti kalau gue mati. Kamu jadi kesepian Bel" ucap Rio percaya diri
"Kenapa juga gue yang kesepian. Kalau lo mati ya tinggal mati, nanti gue bantuin makam lo"
"Ya karena gak ada lagi yang ganggu lo dan satu lagi tidak ada lagi yang mencintai lo dengan tulus"
__ADS_1
"Hahaha. Sana gak lucu!" usir Bela
"Ini buat lo" Rio memberi selembar tisu untuk Bela. Bela pun menyadari itu bahwa ia habis menangis
"Sana! Gue gak butuh perhatian lo"
"Walaupun lo selalu kasar dan cuek sama gue. Tapi tidak sedikit pun merubah cinta gue sama lo" ucap Rio sebelum meninggalkan Bela.
"Bel sepertinya Rio tulus menyukai mu" ucap Devi yang mendapat jitakan dari Bela
"Lo jangan terlalu membenci seseorang Bel, nanti lo jatuh cinta juga sama Rio"
"Devi.. " kesal Bela.
"Hahaha" Devi pun tertawa senang
"Dev.. " sapa Bobi ketika melihat Devi didepan pintu kelas.
"Iya kak" jawab Devi dengan senyum manisnya
"Ini" Bobi memberi sebuah bingkisan kepada Devi
"Apa ini kak?" tanya Devi
"Kamu buka saja!"
"Wah terimakasih kak. Devi pinjam dulu kak ya kalau Devi sudah baca Devi pasti kembali kan"
"Tidak usah, itu buat kamu saja"
"serius kak?" Bobi pun mengangguk
"Makasih kak ya" Devi masuk kedalam kelas karena sudah ada pak guru
"Semenjak kapan anak kelas 12 pindah kesini." ucap pak guru sambil menjewer kuping Bobi
"Tadi aku hanya mau kembali kan buku pak,"
"Modus"
"Serius pak"
"Sana balik ke kelas. Jangan kemana-mana"
"Siap pak" dengan langkah cepat Bobi meninggalkan pak guru
__ADS_1