Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kemarahan Tuan Devan


__ADS_3

Dalam suatu hubungan, tidak bisa selamanya manis dan hangat. Terkadang ada masa yang membuat kita bertengkar dan berdebat. Rasa jenuh dan bosan sesekali hingga dalam kebersamaan, itu la yang aku rasakan bersama tuan Devan saat ini. Aku tidak tahu itu hanya perasaan ku saja atau memang itu yang aku alami saat ini. Sikap tuan Devan yang mulai dingin kembali, di tambah dengan mama yang selalu memaksa kami mempunyai anak. Jujur hati ku sakit di mana saat mama selalu menanyakan masala anak, siapa si yang tidak mau memiliki anak. Sosok malaikat kecil itulah yang selalu di nanti-nanti setiap pasangan suami istri, sama dengan aku dan tuan Devan.


"Assalammualaikum" ucap ku baru tiba di kediaman mama


"Waalaikumsalam" jawab mama sambil menghampiri aku bersama tuan Devan, dengan cepat aku menyalami mama mertua ku. Aku pun mengikuti langkah kaki mama yang menuju ke ruang tamu


"Nay bagaimana sudah ada tanda-tanda belum?" lagi-lagi pertanyaan itu saja yang mama lontarkan dengan ku


"Belum ma" jawab ku


"Kamu ini bagaimana si. Jangan-jangan kamu ini mandul" ucap mama tanpa memikirkan perasaan ku


"Kita manusia hanya bisa berdo'a dan ikhtiar ma. Semuanya kita kembalikan dengan pemilik segalanya" jawab ku


"Mama sudah bosan dengan jawaban kamu"


"Devan apa kamu sudah cek dengan dokter kandungan?" tanya mama dengan tuan Devan


"Ma, yang di katakan Sanas itu benar. Lagian kita menikah belum sampai satu tahun" ucap tuan Devan


"Kamu itu selalu bela istri kamu!!"


"Bukannya Devan bela Sanas ma, tapi yang di katakan Sanas itu memang benar adanya ma" jawab Devan


"Terserah la, pokoknya mama mau cucu kalau tidak ceraikan saja istri kamu itu!!" Ucapan mama membuat tubuhku melemas, terasa tulang-tulang ku akan rontok, dan tubuh ku langsung bergetar kencang.

__ADS_1


"Mama....." bentak tuan Devan


"Devan kamu!!" bentak mama


"Apa ma?"


"Kamu berani melawan mama?"


"Bukannya Devan melawan mama. Coba mama di posisi Sanas, apa yang mama rasakana saat ini" jawab tuan Devan sambil memegang erat tangan ku


"Mama tidak mau tahu, dalam tahun ini kalian harus memberi mama Cucu!!" ucap mama penuh tekanan lalu pergi meninggalkan ku bersama tuan Devan. Tuan Devan langsung menuntut tubuh ku menuju mobil.


"Bang kita mau ke mana?" tanya ku


"Kita ke dokter kandungan" ucap tuan Devan dingin.


"Selamat siang pak Devan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap dokter itu


"Iya dok. Tolong periksa istri saya dan saya" jawab tuan Devan


"Baik la"


"Untuk Nona mari ikuti saya"


"Baik dok" aku pun mengikuti langkah kaki dokter itu, Setelah tiba di ruangan khusus aku juga tidak tahu ruangan apa namanya. Tubuh ku di baringkan di atas ranjang, dan beberapa alat medis yang di gunakan dokter itu untuk mengecek tubuh ku, entahlah aku tidak paham. Tidak lama setelah itu pemeriksaan aku pun selesai dan sekarang giliran tuan Devan. Semua sudah di cek dengan dokter, tuan Devan pun di panggil ke ruangan khusus sedangkan aku menunggu di kursi tunggu di karenakan aku tidak boleh ikut masuk. Tidak lama aku menunggu tuan Devan pun keluar dari ruangan itu dengan memasang wajah dingin sedingin es batu.

__ADS_1


"Bang bagaimana hasilnya?" tanya ku antusias sambil mendekati tuan Devan


"Ayo pulang" ajak tuan Devan sambil menyeret tangan ku


"Bang pelan-pelan" ucap ku ketakutan. Karena tuan Devan mengemudi mobil seperti kesetaan, ia tidak peduli kiri, kanan yang lebih menakutkan lagi lampu merah di terobosnya saja. Aku sangat terkejut ketika kami tiba di kediaman tuan Devan, tuan Devan langsung menyeret tubuh ku sekencang mungkin hingga membuat ku terjatuh. Setelah aku tiba di kamar tuan Devan, tuan Devan pun langsung membantingkan tubuh ku di atas ranjang.


"Bang ada apa?" tanya ku gemeteran


"Ada apa kata mu!!!!" bentak tuan Devan membuat ku semakin bingung


"Apa salah ku bang??"


"Kamu tanya apa salah mu?" tanya tuan Devan menatap ku seperti mau menelan ku hidup-hidup


"Ini salah mu!!" tuan Devan memberi ku pil. Tubuh ku melemas, tulang-tulang ku terasa runtuh, kepala ku tiba-tiba berdenyut ketika menerima pil itu.


"Apa maksud ini semua....?" Tanya tuan Devan penuh amarah sambi melempar pil-pil itu.


"Hikks,,,hikkss,, Maafin aku bang. Aku sudah membohongi mu selama ini. Aku lakukan itu semua demi aku dan anak ku nanti bang" ucap ku penuh dengan isak tangis tanpa melihat ke arah tuan Devan.


"Maksud kamu apa demi kamu dan anak mu? Jangan-jangan kamu sengaja tidak mau mempunyai anak dari ku. Agar kamu bisa bebas dengan laki-laki lain"


"Plakkkk....." tamparan keras mendarat di pipi mulus tuan Devan.


"Jaga ucapan mu tuan Devan terhormat. Andaikan kamu menjadi aku di saat itu mungkin kamu akan melakukan hal yang sama dengan ku. Mempunyai suami yang tidak pernah menganggap ku ada, mempunyai suami yang tidak akan pernah mencintai ku, mempunyai suami yang selalu bercumbu di depan mata ku sendiri, mempunyai suami yang hanya menggap ku sebuah boneka. Yang lebih menyakitkan mempunyai suami hanya sebatas kertas putih yang bertanda tangan. Apa kamu mau mempunyai anak dari laki-laki seperti itu!!!! Apa kamu mau mempunyai anak yang tidak pernah diinginkan dari ayahnya dan apa kamu mau menjadi seorang istri yang tidak pernah dapat kasih sayang. Jawab tuan Devan!!! jawabb"

__ADS_1


"Aku tidak sanggup tuan Devan jika suatu hari aku hamil dan kau akan mencampakkan ku seperti boneka. Maka, dari itu aku berjaga-jaga sebelum terlambat. Jika kau mencampakkan ku dengan ke adaan ku sendiri setidaknya tidak ada beban untukku dan keluarga ku, aku masih sanggup menjalani hidup penuh kepahitan ini, tidak jika aku mempunyai anak" ucap ku dengan lantang. Sedangkan tuan Devan terdiam seribu bahasa ketika mendengar ucapan ku, lalu pergi meninggalkan ku yang tengah menangis.


__ADS_2