
Tuhan selalu memberi obat di setiap penyakit. Senyuman di setiap air mata. Berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap Do'a. Dari itu aku yakin jika kita selalu bersama sang pencipta tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Itu lah kekuasaan Tuhan ia sangat mudah membelok-balikakkan hati kita. Jadi, jangan pernah menyerah dan teruslah berdo'a.
"Abang, "panggil ku
"Iya sayang. Ada apa?" tanya Tuan Devan sambil meletakkan leptop dari pangkuannya ke atas meja.
"Abang sibuk ya?," tanya ku
"Sedikit. Memangnya kenapa sayang?"
"Adek mau minta antar"
"Sayang abang mau ke mana?"
"Ke pasar bang. Stok dapur kita sudah habis semua"
"Ayok!" ajak Tuan Devan, langsung bangkit dari kursi
"Yang benar bang!"
"Iya sayang. Apa abang pernah main-main?" tanya Tuan Devan. Aku pun menggeleng tanda jawaban ku.
Seperti biasa Tuan Devan melaju mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak lama di perjalanan kami pun tiba di sebuah pasar. Tuan Devan memarkirkan mobil. Ketika aku ingin keluar mobil, Tuan Devan menahan pergelangan tangan ku
"Ada apa bang?," tanya ku
"Abang ikut"
"Yakin abang mau ikut? Becek lo bang di tambah bau lagi" ucap Ku
"Tidak masalah"
"Tumben abang mau masuk pasar? Biasanya elergi" canda Ku
"Itu dulu sekarang sudah gak"
"Ayok!" ajak Ku.
Aku yakin sebenarnya Tuan Devan sudah tak tahan dengan bermacam bau aroma di dalam pasar. Di tambah dengan Tuan Devan selalu di goda sama mak-mak berdaster. Hingga membuat Tuan Devan pusing sendiri
"Sayang masih lama?" tanya Tuan Devan berbisik
"Sabar bang. Kalau tidak abang duluan sana!"
"Abang tidak mau jalan sendiri." tolak Tuan Devan
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau. Jangan rewel seperti anak kecil" Kalau boleh jujur aku lebih nyaman jika Tuan Devan di dalam mobil saja. Kalau seperti ini membuat Ku tidak konsentrasi
"Iya abang diam" jawab tuan Devan sambil mengikuti Ku, sebenarnya aku kasihan melihat Tuan Devan. Tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur
"Buk ini berapa?" tanya Ku sambil mengambil daun sawi
"1kg 7000 saja mbak"
"5000 saja ya buk" tawar ku
"Gak dapat dek, modalnya saja lebih"
"Bungkus saja 10 kg buk!" perintah Tuan Devan
"Abang itu kebanyaan. Siapa yang mau makannya coba?"
"Buk 2 kg saja ya!"
"Ya gimana si dek! Ibu sudah susah payah nimbanginnya"
"Ya sudah buk. Timbangan saja lagi 2 kg! Yang ini tetap saya beli"
"Baiklah dek"
"Abang!!" ucap Ku tanpa di hiarau oleh tuan Devan
"74 ribu dek" ucap Ibu itu sambil memberi dua kantong plastik dengan Tuan Devan.
"Kembaliannya ambil saja buk, dan yang 10 kg ini untuk ibu." Tuan Devan memberi uang 100 ribu dengan ibu itu
"Makasih dek. Oh ya dek kamu lihat itu kakak kamu baik, tidak seperti kamu. Pelit!!" ucap ibu itu dengan ku
"Iya bu. Terimaksih nasehatnya" jawab ku sambil tersenyum
"Adek ibu boleh minta no mu?" tanya ibu itu
"Maaf buk. Untuk apa ya?"
"Ibu mau ngenalin kamu sama anak ibu. Sekarang anak ibu masih kuliah kedokteran. Kamu mau kan?" bangga ibu itu
"Aku sudah menikah bu. Dan ini istri ku" ucap Tuan Devan sambil merangkul tubuh ku
"Oh...." jawab ibu itu dengan memasang wajah kesal
"Cie.. Yang di tawarin jadi anak menantu" goda ku.
__ADS_1
"Apa kamu mau abang menikah lagi sayang?"
"Kalau abang mau. Ya, silahkan!"
"Yakinn?" Aku tidak menjawab pertanyaan Tuan Devan. Aku pergi meninggalakannya begitu saja tanpa menghiraukannya
"Sayang tunggu.... Abang bercanda kok. Mana mungkin abang bisa kehilangan kamu" teriak Tuan Devan.
"Eh mbak kasihan tu suaminya. Nanti suaminya di ambil orang lagi" ucap ibu-ibu itu
"Eh mbak wajah pas-pasan belagu lagi.Di tinggalin beneran nanti baru tahu rasa lo mbak" ucap salah satu pengunjung pasar yang menggunakan baju kurang bahan.
"Eh abang sendiri saja ni? Sini aku temani" ucap seorang wanita sexsi.
"Makasih tante. Tapi maaf aku tidak mau" ucap tuan Devan
"Sayang tolong mas!!" teriak Tuan Devan. Hingga membuat ku cemas, dengan cepat aku membelokkan tubuh ke melihat apa yang sudah terjadi dengan Tuan Devan sampai-sampai ia berteriak sekencang itu
"Ada apa bang?" tanya ku, aku terkejut ketika seorang wanita tua yang barpakain sexsi merangkul tubuh kekar Tuan Devan.
"Bu. Jangan ganggu suami saya!" bentak ku
"Haha.. haha. Dia ini suami ku yang sudah lama tidak pulang. Sekarang ia sudah pulang membawa uang banyak untuk ku! Kamu jangan ganggu-ganggu suami ku!" marah ibu itu lalu mau mencangkar muka ku
"Wanita penggoda kamu! Aku benci kamu! Kamu harus terima pembalasan ku!" ucap wanita itu sambil menarik rambut ku. Tuan Devan tidak tinggal diam, ia menarik ibu itu agar melepaskan rambut ku
"Ibu lepasin dia! Kalau tidak ibu saya masukin dalam penjara!" bentak Tuan Devan
"Sayang kamu kenapa selalu membela wanita itu? Dia yang sudah menghancur rumah tangga kita" ucap ibu itu sambil bergayut manja
Ya tuhan bantu aku, dosa apa yang sudah aku perbuat. Sampai bertemu dengan ibu gila ini
"Bu, aku ini bukan suami ibu" ucap Tuan Devan
"Sayang kamu kok bicara seperti itu" Manja ibu itu
"Mama!" teriak seseorang
"Maaf mas. ini mama saya"
"Iya. Dia kenapa?"
"Mama saya Deppresi kak. Karena di tinggal papa selingkuh" cerita orang itu
"Yang sabar. Jaga mamanya baik-baik. Kalau butuh bantuan hubungi saja kakak" ucap Tuan Devan sambil memberi kartu namanya
__ADS_1
"Terimakasih kak"
bersambung....