
Seharian menghabiskan waktu bersama Tuan Devan di kantor. Rasanya aku tidak mau terulang lagi ikut bersama Tuan Devan ke kantor. Karena Tuan Devan tidak mengenal tempat jika ia ingin melakukan pendakian gunung kembarnya. Tidak menggunakan waktu lama aku bersama Tuan Devan pun tiba di kediaman Tuan Devan. Aku berharap semoga. Mama dan Via sudah kembali, teryata keninginan ku tidak sesuai dengan harapan ku. Mama bersama Via duduk santai di teras rumah menunggu kepulangan Tuan Devan bersama ku, yang lebih tepatnya kepulangan Tuan Devan.
"Assalammuakum" ucap ku ramah
"Waalikumsalam" jawab mama sinis
"Ma, mbak" sapa ku. Sedangkan Tuan Devan langsung menari tangan ku ketika aku ingin menyalami mama mertua ku.
"Bang, aku mau?" ucapan ku langsung di potong oleh Tuan Devan
"Tidak usah, jika membuat kami tersakiti!" ucap Tuan Devan dengan nada sedikit tinggi.
"Abang mau mandi atau istrahat dulu?" tanya ku.
"Mandi bareng" ucap Tuan Devan senyum jahilnya.
"Abang!!" teriak ku lalu pergi meninggalkan Tuan Devan yang sedang duduk di atas sofa. Aku langsung membersihkan tubuh ku yang terasa lengket, sedangkan Tuan Devan masih sibuk dengan leptopnya, entah apa saja yang di ketik oleh Tuan Devan hingga membuatnya tak berkedip dari leptopnya dan tangannya terus bergerak lincah.
"Abang mandi sana!" perintah ku
__ADS_1
"Sebentar lagi yank, tanggung" ucap Tuan Devan tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya, 5 menit" ucap ku
"Bang mau makan apa? Biar aku masakin" ucap ku
"Telur ceplok cabe ijo saja yang, jangan lupa tumisan kangkung!"
"Ok bos" aku pun pergi meninggalkan Tuan Devan, untuk membuat menu makan malam Tuan Devan. Ketika aku sedang asyik dengan menggoyangkan spatula ku di dalam wajan yang terisi minyak panas. Mama pun menghampiri ku bersama Via.
"Sanas!" panggil mama mertua ku
"Tinggalkan Devan, karena aku tidak mau punya menantu mandul seperti kamu" ucap mama mertua ku membuat hati ku terasa di sahit sembilu.
"Ma, kenapa mama selalu mengatakan ku mandul?" tanya ku
"Itu buktinya" ucap mama mertua tanpa memperduli perasaan ku
"Bodoh, lugu, kampungan di tambah mandul lagi. Apa sih yang Devan lihat dari kamu? Jangan-jangan Devan sudah kamu peleti ya. Sampai-sampai dia lupain aku karena kamu!" ucap Via menatap ku tajam, seperti ingin menelan ku hidup-hidup.
__ADS_1
"Aku tidak pernah pakai pelet, karena itu sudah termasuk dosa besar!" ucap ku.
"Mana ada maling mau ngaku," ucap Via tidak terima
"Sanas jika dalam satu bulan ini kamu belum ada tanda-tanda kehamilan. Lebih baik kamu pergi secara baik-baik saja dari kehidupan Devan. Karena aku sudah tidak mau kamu menjadi menantu ku lagi. Dan harus kamu tahu menantu kesayangan ku sudah kembali, aku pastikan Devan bersama Via bakal bersatu lagi, dan kamu bakal jadi gembel seumur hidup" ancam mama mertua ku, padahal dulu mama sangat menyangi ku sebelum kehadiran Via, entah obat apa yang di berikan Via dengan mama sehingga membuat mama bisa berubah seperti sekarang.
"Ma kita tidak bisa memaksa kehendak kita, semuanya sudah di atur Tuhan. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a" ucap Kaila
"Aku tidak butuh ceramah dari kamu!" Bentak mama
"Ayo sayang!" ajak mama merangkul tubuh Via
"Bay bay" ucap Via sambil melambai tangan dengan ku.
*Ya Tuhan bantu aku, aku tahu engkau maha segalanya. Berikan aku kekuatan menghadapi mama mertua ku dan Via. Semuanya ku pasrahkan dengan mu, karena aku yakin engkau pasti memberi ku yang terbaik untuk umat mu.
Bersambung*..
Terimakasih yang sudah setia membaca karya author. Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1