Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kebahagian Keluarga Tuan Devan


__ADS_3

Kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi untuk hari kita esok. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, berusaha dan tak henti untuk berdo'a. Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang di berikan TUHAN untuk kita, pasti semua akan terasa indah. Ya begitulah dengan kehidupan Tuan Devan. Dimana hari ini putrinya kembali kedalam pelukannya.


"Ma" ucap Devi sambil meraba tangan lembut sang mama yang berada diatas tubuhnya yang tengah berbaring. Dengan rasa kantuk sang mama membuka kedua bola matanya melihat apa benar yang ia dengar suara yang paling dinanti-nanti selama 1 Minggu ini.


"Sayang" ucap mama lalu memeluk tubuh Devi yang tengah berbaring di atas ranjang dengan kondisi lemah.


"Ma, Adek kenapa?" Tanya Devi


"Adek tidak apa-apa" jawab mama. Tidak mungkin mama akan mengatakan yang sesungguhnya kepada Devi, karena itu akan membuatnya semakin sakit.


"Ma, dimana ayah dan kak Devin?" Tanya Devi karena tak melihat keberadaan dua orang yang ia sayang.


"Ayah bersama kak Devin" ucap mama terhenti karena tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya


"Ma dimana mereka?" Tanya Devi kembali karena mama menghentikan ucapannya


"Beli makanan" bohong mama.


"Ma, kenapa ya Devi merasa lama sudah tidak bertemu keluarga dan teman-teman Devi. Devi merindukan kalian semua" ucap Devi sedih ketika terbayang dimana masa ia melawan masa kritisnya.


"Mama juga rindu kamu sayang," ucap mama lalu mencium kening Devi dengan lembut.


"Assalammualaikum" ucap ayah bersama kak Devin


"Ayah, kakak" ucap Devi penuh kebahgian yang terpancar di wajah cantiknya.


"Sayang," ayah dan Devin langsung memeluk Devi,.tanpa di inginkan cairan bening membasahi wajah tampan keduanya


"Ayah dan kakak, kenapa menagis?" Tanya Devi mulai curiga apa yang terjadi dengan dirinya


"Tidak ada sayang,"


"Jangan bohong ya"


"Apa selama ini ayah pernah membohongi adek?" Tanya ayah. Dengan cepat Devi menggelengkan kepalanya, karena selama ini Devan selalu menepati janji jika ia berjanji dengan putra putrinya, maka dari itu sang buat hati selalu mengatakan kalau ayah manusia paling jujur.


"Ayah, Devi sudah capek berbaring. Rasanya pantat Devi sudah tepos. Ayo kita pulang!" Rengek Devi


"Iya sayang kita akan pulang. Kalau gitu ayah bayar semua admistrasinya dulu" bunda memberes semua peralatan yang akan di bawa pulang sedangkan ayah bersama Devin menuju tempat admistrasi pembayaran. Tidak memakan waktu lama ayah dan Devin pun tiba


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya ayah


"Sudah dong yah" ucap Devi penuh kebahagian. Hati ayah semakin hancur melihat senyuman yang tidak pernah pudar di wajah cantik sang putri.


"Ayah, kenapa memandang Devi seperti itu?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ayah melihat Devi seperti Devi akan pergi jauh saja, yang tidak akan kembali" ucap Devi


"Hahahaha.." Devin sengaja tertawa terbahak agar Devi tidak memikirkan yang tidak-tidak karena melihat kedua ekspresi orang tua mereka yang tidak bisa menutupi kesedihan yang di alami.


"kenapa Kak?" Tanya bunda


"Lucu saja dengan ucapan mu dek" bohong Devin


"Ya sudah sekarang marih kita berangkat!" Ajak ayah. Ayah dan Devin membawa semua perlengkapan sedangkan ibu memapah tubuh Devi agar tidak jatuh. Ayah mengendarai kecepatan mobil dengan kecepatan sedang. Selama di perjalan Devi tertidur di pangkuan bunda. Kurang lebih menggunakan waktu 30 menit, mereka pun tiba di kediamannya. Ayah yang melihat Devi tertidur lelap di pangkuan bunda tak tega untuk membangunkan nya dan akhirnya ayah menggendong tubuh mungil Devi. Ayah meletakkan Devi diatas ranjangnya sangat berhati-hati agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang putri.


"Ayah kenapa tidak bangunin adek?" Ucap Devi ketika ayah meletakkannya di atas ranjang.


"Tidak apa sayang, lagian ayah sudah lama tidak menggendong putri cantik ayah satu ini."


"Terimakasih yah"


"Kak Devin.." teriak Diva karena tidak melihat sang kakak


"Bah .." entah dari mana tiba-tiba saja Devin muncul dengan kelucuannya, hingga membuat Diva tersenyum manis melihat tingkah sang kakak.


"Assalammualaikum" ucap bunda. Bunda membawa satu buah toples yang berisi cemilan


"Apa itu?" Tanya ketiganya dengan kompak


"Ayo tebak apa" canda bunda


"Bukan itu ayah, itu keripik pisang" ucap Devin


"Tetap salah" ucap bunda


"Itu keripik ubi kalau tidak keripik sukun" tebak Devi


"Benar sekali" ucap bunda lalu mencium kening Devi karena jawaban Devi benar.


"Horee.. jadi ini punya Devi kan bunda?" Bunda pun mengangguk


"Bagi dong dek," rayu Devin


"Gak mau" Devi sengaja berpura-pura tidak mau berbagi kepada yang lain.


"Adek pelit," kesal Devin melihat Devi sangat menikmati keripik sukun kesukaannya.


"Hahahah.. kak Devin lucu kalau lagi kesal. Hidung nya ngembang-ngembang" ledek Devi membuat Devin mnjadi kesal.


"Enak saja. Sini!" Devin merampas toples keripik dari genggaman Diva, layaknya seperti anak kecil yang saling berebutan mainan.


"Sudah, mari kita makan bersama-sama" ajak ayah. Mereka pun menikmati keripik sukun buatan bunda dengan lahap bersama-sama. Karena author ngidamnya keripik sukun jadi author masukin saja keripik sukun kedalam cerita ini. Jadi curhat deh authornya.

__ADS_1


Suara burung-burung berkicauan mulai terdengar, daun-daunnan pun mulai berguguran dan cahaya pun mulai memasuki melalui cela-cela ruangan. Berati menandakan waktu sudah siang. Devi terjaga dari tidurnya yang lelap karena terganggu dari Sinaran yang menebus hordeng kamarnya. Devi mencari sebuah benda pipih yang selalu ia bawa kemana ia pergi. Akhirnya Devi menemukan benda itu. Ketika Devi menghidupkan benda itu, sudah tak terhitung pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari sahabat serta teman-teman yang lain, menanyakan kabar. Devi tersenyum membaca semua pesan yang masuk di handphonenya.


"Gadis bunda sudah bangun" bunda mendekati Devi yang tengah membaca pesan


"Iya bunda"


"Ada apa sayang? Kelihatannya Devi bahagia sekali?"


"Tidak ada bunda, Devi hanya lucu membaca pesan-pesan yang masuk."


"Dari siapa itu?"


"Teman Bun"


"Teman apa teman"


"Teman hati Bun" ucap Devin baru tiba entah dari mana asalnya tiba-tiba saja ia sudah berada di belakang bunda


"Kamu ini ya kak, suka memnbuat bunda kaget kalau bunda jantungan nanti bagaimana?" Tanya bunda sambil menjewer kuping Devin.


"Maaf Bun, kakak janji tidak mengulanginya lagi" mohon Devin karena jeweran bunda sangat perih, mendingan di pukuk dari merasakan jeweran sang bunda


"Hahahaha" tawa Devi bahagia


"Senang!" Kesal Devin


"Iya. Makanya jangan nakal"


"Bun, Devin serius Lo"


"Apa?"


"Itu si Devi"


"Ada apa dengan ku?" Tanya Devi


"Kalau Devi punya pacar..." ucap Devin lalu meninggalkan bunda bersama Devi. Devin sudah membayangkan jika ia di jewer kembali dengan bunda.


"Gak ada bunda, jangan percaya sama kak Devin. Justru yang punya pacar itu kak Devin bunda"


"Kalau adek punya pacar juga tidak masalah bagi bunda, asalkan adek tetap fokus sama sekolahnya."


Bersambung....


Terimakasih yang sudah setia membaca karya author. Semoga puasa kita berjalan dengan lancar. Aminn...


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya kak.

__ADS_1


"


__ADS_2