
"kak" manja Devi
"Mau apa?" Tanya Devin, sudah tahu pasti saudara kembarnya itu ada sesuatu yang ia mau.
"Hehehe,, kak Devin tahu betul kalau Devi mau sesuatu" ucap Devi cengir kuda
"Iya lah kakak tahu, dari dalam perut kamu sudah sama kakak" jawab Devin
"Kak hari ini temani Devi, ya" mohon Devi
"Kemana?"
"Devi mau beli sesuatu untuk Bela, karena hari ini Bela ulang tahun"
"Hemzz, malas ah"
"Ayolah kak, kali ini ajah"
"Ok, tapi" ucap Devin terjeda
"Tapi apa kak?" Tanya Devi penasaran
"Kamu harus bandar kakak sepuasnya"
"Ok. Tapi kakak jangan minta yang aneh-aneh, ya"
"Sip. Ya sudah sana ganti baju!" Perintah Devin
"Devi pakai baju ini saja kak"
"Tidak boleh!" Tegas Devin
"Ya kenapa kak? Ini kan masih layak masuk mol" ucap Devi tidak terima
"Layak si layak, apa kamu mau semua orang melihat paha karut(jelek) mu itu!" Sebenarnya pakain Devi tidak terlalu sexsi hanya sebatas luntut. Sebenarnya masih wajar-wajar saja di bawa kepasar, tapi karena sang kakak tidak mau melihat adeknya jadi tontonan laki-laki mata keranjang lebih baik ia mencegahnya.
"Benar Dev, kata kakak mu ganti baju sana! Pakai baju yang lebih sopan" omel bunda
"Perasaan masih banyak di luar sana yang lebih sexsi. Ya sudah lebih baik di ganti saja dari pada nanti ayat nya lebih panjang," tidak menggunakan waktu lama Devi sudah siap dengan penampilan barunya menggunakan rok panjang yang di padukan dengan kaos berlengan panjang, pastinya membuat bunda senang melihat penampilan sang putri tertutup seperti itu.
"Dek masih ada yang kurang" ucap bunda membuat langkah Devi terhenti
"Apa lagi Bun?"
"Andaikan adek menggunakan hijab, pasti lebih cantik"
"Hemzz bunda. Do'a kan saja bunda semoga adek cepat dapat hidayah" ucap Devi
"Aminn"
"Kita berangkat dulu Bun," Devin bersama Devi menyalami sang bunda. Tidak lupa sebelum meninggalkan bunda, bunda selalu mencium kening putra putrinya, itu lah kebiasan bunda yang tidak pernah ketinggalan.
__ADS_1
"Assalammualaikum bunda" ucap saudara kembar itu
"Waalaikumsalam" jawab bunda
Setelah berpamitan dengan sang bunda, Devin pun mengeluarkan sepeda motor kesayangannya yang di beli oleh sang ayah. Sedangkan Devi menunggu di depan gerbang.
"Ayo!" Devin mengendarai sepeda motor kesayangannya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Devi menikmati setiap jalanan yang ia tempuh bersama sang kakak. Tidak menggunakan waktu lama dua saudara itu pun tiba di sebuah terbesar di kota ini. Seperti biasa Devin memarkirkan sepeda motor kesayangannya. Setelah itu Devin menghampiri Devi yang tengah berdiri di depan pintu masuk mol.
"Ayo masuk!" Dua saudara itu pun jalan beriringan layaknya seperti sepasang kekasih. Banyak bola mata yang memperhatikan kedua saudara itu, membuat banyak anak remaja merasa iri melihat kekompakan dua saudara itu, yang mereka sangka sepasang kekasih, tidak tahu nya mereka adalah saudara kembar, jadi wajar saja mereka memiliki kekompakan yang sangat kuat.
"Kak yang mana?" Tanya Devi sambi memperlihatkan benda yang ia timang-timang untu memberikan sahabatnya hadia.
"Yang ini saja dek" Devin memelih sesuatu benda, dan akhirnya di setujui oleh Devi
"Berapa kak?" Tanya Devi
"175.000 ribu" ucap penjual
"Ini mbak" Devi memberi dua lember uang kertas yang bernilai 100.000 ribu rupiah.
"Mas tidak malu apa?" Tanya penjaga toko dengan Devin
"Malu kenapa?"
"Masah si cewek nya yang bayar, seharusnya mas lah yang bayar" ucap penjual toko
"Mana cewek saya?" Tanya Devin
"Lah mbak ini" ucap penjual toko sambil menunjuk Devi
"Maaf mas, habisnya mbak bersama mas nya sangat mirip dan kompak lagi" ucap pelayan tokoh itu merasa malu
"Ia lah kita mirip, cetakan nya saja sama" jawab Devin kesal
"Ayo kak!" Ajak Devi. Lebih baik Devi membawa sang kakak jauh dari pelayan tokoh itu, kalau tidak dalil panjang yang akan keluar.
"Sekali lagi ingat ya mbak, jangan pernah ikut campur urusan orang lain, apa lagi kalau tidak tahu yang sebenarnya" ucap Devin sebelum meninggalkan pelayan tokoh.
Devin menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita yang tengah menemani anak kecil yang tengah mandi bola di kawasan mol. Devi melihat sang kakak menghentikan langkahnya, terpaksa Devi juga menghentikan langkahnya. Melihat arah yang di tuju sang kakak. Jiwa kepo Devi pun keluar ingin mengetahui apa yang di lihat oleh sang kakak yang tidak berkedip.
"Kak" panggil Devi
"Kak, lihat apaan sih?" Kesal Devi, karena tak dapat jawaban dari sang kakak. Bukan hanya jawaban sedikit respon pun tidak ada yang di berikan oleh Devin, jadi wajar-wajar saja Devi kesal lalu berteriak di telinga Devin hingga membuat Devin terkejut.
"Kamu itu dek, ya.." kesal Devin
"Habisnya kakak tidak jawab-jawab Devi bertanya!"
"Kan kamu bisa ngomong pelan-pelan tidak usah berteriak segala" kesal Devin
"Heehehe, maaf kak. Oh iya kakak lihat apaan sih? Sampai tidak berkedip lagi" tanya Devi
__ADS_1
"Gak ada" bohong Devin
"Kakak bohong pasti. Mana mungkin tidak ada, entah berapa kali Devi teriak-teriak kakak. Tetap saja kakak melihat kearah wanita itu yang tengah menemani anaknya" ucap Devi
"Gak kok" elak Devin
"Terus kakak lihat apa?" Tanya Devi penuh curiga
"Kakak" ucap Devin terjeda karena mencari alasan yang pas
"Apa"
"Kakak hanya mengenang waktu masa kecil kita dulu, dimana setiap pekan ayah dan bunda selalu bawa kita ketempat ini" bohong Devin
"Tapi aku masih tidak percaya"
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya sama kakak mu sendiri. Terus kamu mau percaya sama siapa kalau tidak sama kakak?"
"Kenapa hati kecil ku masih yakin kalau kakak lihat wanita itu"
"Sotoy" ucap Devin meninggalkan Devi yang tengah mematung
"Kak tunggu..." Teriak Devi
"Devi" sapa seseorang membuat Devi menghentikan langkahnya
"Hemzz" ucap Devi dingin
"Kamu kemana saja?"
"Bukan urusan kamu" ucap Devi cuek
"Tentu urusan aku Dev. Aku sudah mencari kamu kemana saja tapi semua teman kamu tidak ada yang tahu kamu pindah kemana?" Ucap orang itu
"Apa peduli nya kamu?"
"Tentu aku peduli" ucap orang itu
"Dev, aku minta maaf. Aku menyesal"
"Lupakan saja" ucap Devi
"Dev, aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi" ucap orang itu, menarik lengan Devi
"Lepaskan" tegas Devi
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu memaafkan aku Dev" ucap orang itu menggenggam tangan Devi sangat erat, membuat Devi sulit untuk melepaskan genggaman itu.
"Kamu punya kuping tidak! Devi bilang apa" bentak seseorang baru tiba membuat Devi terkejut dari mana kemunculan orang itu, tiba-tiba saja muncul
"Kamu siapa!"
__ADS_1
"Kamu mau tahu siapa saya?" Ikuti terus kisah
Bersambung ..