Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Sisi Lain Dari Devin


__ADS_3

Devin mengendarai sepeda motor kesayangannya dengan kecepatan sedang. Selama perjalan Devin terus bersiul riya sambil menyanyikan lagu cinta. Devin tidak menghiraukan dengan pengemudi lain yang ada di sekitarnya, yang ada di dalam pikiran Devin, tak sabar tiba di tempat tujuan. Tidak menggunakan waktu lama akhirnya Devin pun tiba di sebuah gerbang sekolah yang tidak terlalu mewah dan tidak terlalu jelek pastinya yang sedang-sedang saja. Devin menghentikan motor kesayangannya di pinggiran jalan sambil memainkan hanphon. Sepertinya Devin menghubungi seseorang..


"Sudah lama menunggu?" tanya Raya.


"Belum" jawab Devin, padahal sudah mau jadi ikan asin masih saja dikatakan tidak. Masih beruntung Devin karena trik matahari sudah hilang kalau tidak pasti tu kulit Devin sudah jadi ikan asin untuk santapan para kucing.


"Maaf ya" ucap Raya merasa tidak enak. Karena Raya tahu Devin membohonginya


"Tidak masalah, ayo naik" perintah Devin. Raya pun mengikuti perintah Devin.


"Ray," panggil Devin


"Kamu mau kemana?" tanya Devin


"Pulang. Memangnya kemana lagi"


"Kamu bisa temani aku sebentar gak?" tanya Devin.


"Kemana?"


"Temani aku minun es kelapa muda" .


"Ok, tapi jangan lama ya. Soalnya sudah sore nanti bude kuatir" ucap Raya


"Ok" dalam hati Devin sudah tak bisa berucap, alangkah bahagianya Devin saat ini bisa menikmati es kelapa muda bersama pujaan hati. Devin pun memghentikan sepeda motornya di parkiran motor yang terletak di kawasan pantai. Setelah Devin memarkirkan sepeda motornya, Raya pun ikut turun. Raya mengikuti langkah kaki Devin menuju pinggiran pantai.


"Ray, duduk dimana?"


"Terserah kamu saja Dev"


"Kok terserah aku. Kamu mau nya dimana?"


"Kalau aku mah tidak susah dimana saja jadi."


"Yang benar?" tanya Devin, Raya pun mengangguk


"Kita disana aja, mau?" Devin menunjuk salah satu bangku kosong yang terletak di bawa pohon rimbun


"Aku kan sudah bilang Dev, aku dimana saja selagi aku bisa duduk"

__ADS_1


"Sesimpel itu kah kamu?"


"Gak juga" Devin memberanikan diri untuk menggandeng tangan mungil milik Raya. Devin sangat beruntung hari ini karena tidak ada penolakan dari Raya. Entah Raya juga menyukai Devin apa karena Raya merasa tidak keenaan karena Devin sudah baik dengannya. Setelah tiba di bangku Devin memesan dua buah kelapa muda


"Ray, kamu mau pesan yang lain tidak?" tanya Devin


"Cukup ini saja"


"Ayo lah mbak pesan yang lain, jangan malu-malu karena itu merugikan diri kita sendiri" ucap pelayan


"Iya benar Ray, apa kata mas ini" sahut Devin


"Serius aku cukup ini saja" ucap Raya. Bukannya Raya malu atau apalah Raya anaknya memang sedikit makan, jadi tidak heran jika badannya mungil. Raya bersama Devin sama-sama menikmati suasa di pantai sore ini. Matahari mulai terbenam berarti sudah menandakan sore berganti malam.


"Dev, pulang yuk!" ajak Raya


"Pulang?" tanya Devin.


"Iya" jawab Raya. Berat rasanya Devin meninggalkan momen ini. Andaikan ia bisa memutarkan waktu, tapi sayang itu tidak ada yang bisa.


"Kamu kenapa?" tanya Raya heran karena Devin tampak murung.


Perasaan tadi dia baik-baij saja, kenapa sekarang dia bersikap dingin. ucap Raya dalam hati


"Ray," panggil Devin karena Raya masih setia berdiri di tengah pasir memikirkan sikap Devin yang tiba-tiba menjadi dingin. Karena Raya tak menyadari Devin memanggilnya, dengan terpaksa Devin menggendong tubuh mungil Raya.


"Dev, turuni" ucap Raya.


"Gak mau" jawab Devin


"Dev malu" ucap Raya. Wajar saja Raya malu karena setiap penghuni pantai meliriknya kearah mereka. Entah apa saja yang di katakan para penghuni pantai.


"Biarin" jawab Devin. Devin tidak menghiraukan tatapan orang-orang untuknya, karena bagi Devin ia tidak mengganggu orang-orang itu, jadi untuk apa memperdulikan yang tidak penting. Setelah tiba di parkiran barulah Devin menuruni Raya dari gedongannya.


"Dev gue malu" ucap Raya pelan karena orang-orang masih menatap mereka dengan berbagai macam tatapan.


"Bodoh amat, yang penting kita tidak mengganggunya Ray. Zaman sekarang kalau kita masih menghiraukan perkataan orang lain kita tidak akan maju. Karena kebanyakan orang hanya bisa berkata tanpa tahu yang sesungguhnya" ucap Devin. Mungkin Devin bisa berpikir seperti itu tapi tidak dengan Raya.


"Ayo Dev cepat" ucap Raya karena ia sudah tak sanggup menahan malu karena ulah Devin.

__ADS_1


"Siap buk bos" Devin mengendarai sepeda motor dengan kecepatan pelan. Devin berfikir jika dia mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang akan membuat kebersamaannya bersama Raya semakin cepat berlalu, maka dari itu Devin sengaja mengurangi kecepatan.


"Dev bisa ngebut dikit gak, kalau seperti ini kapan kita sampai" ucap Raya.


"Ray, bukannya aku tidak mau ngebut cuma aku takut" alasan Devin


"Takut kenapa?"


"Jika aku ngebut nanti, kita jatuh. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu" alasan Devin


"Hemmm"


"Kamu kenapa?" tanya Devin, melihat Raya merasa tidak tenang.


"Aku takut, nanti bude marah aku pulang telat" ucap Raya. Selama ini Raya tidak pernah pulang terlambat, baru kali ini jadi wajar saja Raya merasa cemas.


"Kamu tenang saja"


"Bagaimana aku bisa tenang" batin Raya


Kurang lebih menggunakan waktu 30 menit membuat Raya tiba di kediamannya, yang mana biasanya hanya menggunakan 15 menit. Devin menghentikan sepeda motornya lalu ikut Raya masuk kedalam rumah yang sudah tampak gelap karena hari sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Assalamualaikum" ucap Raya


"Waalaikumsalam" jawab Bibik sambil membuka pintu. Sedikit pun tidak ada wajah kuatir atau cemas di raut wajah Bibik. Raya pun menyalami Bibik yang di ikuti oleh Devin


"Sekarang kamu mandi dulu, lalu kita makan" ucap Bibik membuat Raya heran. Bagaiman bisa Bibik tidak menanyakan dia dari mana. Raya tidak ingin ambil pusing lebih baik ia mengikuti perintah Bibik. Tidak menggunakan waktu lama Raya sudah siap dengan penampilan rumahnya yang hanya menggunakan baju tidur.


"Bik kalau gitu Devin pamit pulang dulu, terimakasih Bibik sudah izini aku bawa Raya" ucap Devin membuat Raya bingung. Kapan Devin meminta izin kepada Bibik dan mengapa Devin tidak memberi tahu dengannya


"Tunggu" ucap Raya


"Kenapa?" tanya Devin bingung kenapa tiba-tiba Raya menghentikan langkahnya


"Kapan kamu minta izin kepada Bibik?" tanya Raya


"Soal itu kamu tidak perlu tahu. Pastinya aku tidak akan pernah membawa anak perawan orang, tanpa minta izin kepada orang tuanya" ucap Devin. Raya tidak menyangka jika Devin anaknya sangat bertanggung jawab, dimana yang selama ini Raya tahu Devin anaknya nakal. Wajar saja jika Raya berfikir seperti itu karena selama ini bisa di hitung dengan jari Devin masuk kelas mengikuti pelajaran.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2