
"Ma bagaimana apa ada kabar dari bang Devan?" tanya ku
"Kamu tenang dulu ya sayang, mama sudah meminta anak buah Devan menyusul ke tempat Devan bekerja"
"Mana bisa Sanas tenang ma. Sudah tiga hari bang Devan tidak ada kabarnya" ucap ku
"Iya mama tahu sayang perasaan kamu sekarang. Tapi, mama mintak kamu sabar dulu. Bisa jadi di sana tidak ada sinyalkan. Dan foto itu hanya sebuah editan yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian berdua. Kamu tahu sendirikan kalau banyak yang tidak menyukai Devan" nasehat mama dengan ku, aku sempat berfikir seperti yang mama katakan, tapi logika ku tidak bisa menerima dengan yang aku pikirkan.
"Iya ma, Sanas coba tenang" bohong ku. Bagaimana bisa aku tenang jika suami ku tak ada kabar beritanya.
Di tempat lain...
"Sial...! " ucap Seseorang menendang sebuah meja didalam ruangan kerjanya.
"Kamu harus tenang Dev! "
"Tenang kata mu! " bentak Tuan Devan sambil mencengkik leher seketaris Revan yang bukan lain seketarisnya sekaligus sahabatnya sendiri.
"Terus jika kamu seperti itu, masalah kamu bisa selesai! " bentak seketaris Revan, karena sudah kesal melihat sifat Tuan Devan marah-marah tidak jelas.
"Pokoknya hari ini pulang! " lagi-lagi Tuan Devan membentak seketaris Revan
__ADS_1
"Kamu gila Dev! Kamu tahu sendirikan, hari ini kita akan bertemu siapa? "
"Aku tidak peduli! Mau siapa yang datang. Aku mau pulang! "
"Dev, jangan egois" kesal Tuan Devan
"Diam kamu! Coba kamu di posisi aku. Sudah satu minggu sudah tidak bertemu istri, tidak bisa menghubungi istri. Mana istri ku sedang hami. Jangan egois kmu bilang? " tanya Tuan Devan penuh tekenan
"Iya Dev, aku tahu perasaan kamu. Tapi, kamu tahu sendirikan jika kita membatalkan pertemuan dengan kelaen kita satu ini." ucap Tuan Devan lembut, agar amarah Tuan Devan sedikit mereda
"Entahlah" Ucap Tuan Devan pergi meninggalkan seketaris Revan penuh amarah. Bagaimana Tuan Devan tidak seteres, sudah dua minggu tidak bisa menghubungi sang istri tercinta di Karenakan hp Tuan Devan hilang, beserta hp seketaris Revan. Di tambah dengan hasil perusahaan anak cabang di sini turun 50 persen.
Tuan Devan melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang terletak di belakang gedung kantor. Tuan Devan menyandarkan tubuhnya di bangku itu sambil melihat kearah langit. Sepertinya Tuan Devan memikrkan sesuatu, entahlah apa yang di fikirkan oleh Tuan Devan author tidak tahu. Ketika Tuan berada di dalam lamunannya, ada seorang wanita yang mendekati Tuan Devan, duduk disebelah Tuan Devan.
"Dev! " lagi-lagi wanita itu memanggil nama Tuan Devan, hingga membuat Tuan Devan sadar jika ada yang memanggil namanya.
"Ada apa? " tanya Tuan Devan dengan tatapan seorang pembunuh
"Tidak ada apa-apa. Apa saya boleh duduk? " tanya wanita itu
"Silakan! Saya tidak pernah melarang kamu untuk duduk!" lagi-lagi Tuan Devan memberi tatapan yang mengerikan
__ADS_1
"Santai Dev, tidak perlu marah-marah. Kenapa kamu sekarang jadi laki-laki arogan? Bukannya kamu dulu laki-laki penuh kelembutan apa lagi dengan seorang wanita? " ucap wanita itu sambil merangkul bahu Tuan Devan. Tuan Devan pun langsung menepis tangan wanita itu.
"Aku ingatkan dengan kamu jangan pernah menyentuh tubuh ku dengan tangan kotor mu itu! " bentak Tuan Devan pergi meninggalkan wanita itu
"Kamu bakal menyesal Dev! Sudah berani cueki aku! " teriak wanita itu. Devan tidak menghiraukan ucapan wanita itu, justru Tuan Devan lebih cepat meninggalkan tempat ini.
"Lihat saja kamu ya Dev, akan saya buktikan jika kamu bakal berlutut dengan aku" teriak wanita itu
Kembali ke Sanas
"Ma, apa sudah ada kabar Tuan Devan?" lagi-lagi Aku bertanya dengan mama mertua ku.
"Kamu tenang, Devan baik-baik saja. Anak buah Tuan Devan sudah menemui Devan" bohong mama mertua.
"Alhamdulillah ma. Oh ya ma, apa Sanas bisa menghubungi bang Devan?" tanya Sanas penuh harap
"Sinyal gak ada?" bohong mama.
" Baiklah ma, yang penting Bang Devan baik-baik saja"
"Kenapa perasaan ku tidak baik, apa mama sedang membohobgi ku, " bati Sanas
__ADS_1
Bersambung..
Terimanaksih yang sudah setia membaca karya author. Jangan lupa like, komen, dan Vote. Maaf ya author hilang timbul.