
Hai kak pada kangen gak dengan Sanas dan Tuan Devan. Author bakal usahain up setiap hari. Ikuti terus ya kisah nya supaya author lebih bersemangat. Sebelum lanjut ke ceritanya author ucapkan terimakasih yang sudah setia menunggu kisah Sanas dan Tuan Devan.
7 bulan kemudian, dimana sekarang perut ku semakin membuncit di tambah dengan muka ku seperti bakpau. Hingga membuat Tuan Devan semakin gemes memainkan pipi gembul ku. Yang mana dulu aku kurus layaknya seperti sapu lidi. Alhamdulillah sekarang Tuan Devan sudah kembali normal seperti biasa. Tidak merasakan mual-mual dan kepala pusing. Walaupun sekali-kali ia mual melihat orang-orang memakai baju berwarna hitam.
"Sayang ..." panggil Tuan Devan
"Iya bang" ucap ku menghampiri Tuan Devan yang tengah duduk di teras rumah.
"Sini!" ucap Tuan Devan menepuk kursi di sebelahnya. Aku pun duduk disebelah Tuan Devan. Tuan Devan langsung memeluk tubuh ku ketika aku duduk di sebelahnya.
"Ada apa bang?" tanya ku heran dengan sikap Tuan Devan.
"Abang hanya ingin memeluk tubuh mungil istri abang"
"Tapi bang,"
"Tapi apa?" tanya Tuan Devan
"Aku sudah tidak gendut lagi" ucap ku, cengengesan hingga membuat Tuan Devan tersenyum manis.
"Iya iya, kalau gitu istri abang yang gendut" aku pura-pura merajuk dipanggil gendut oleh Tuan Devan.
"Kalau gitu istri abang tambah cantik saja" puji Tuan Devan. Aku tersenyum menaggapi ucapan Tuan Devan.
"Sayang."
__ADS_1
"Iya bang. Ada apa?" tanya ku
"Apa boleh abang keluar kota?"
"Ada urusan apa bang? Apakah itu penting?" tanya ku
"Biasa sayang urusan kantor. Penting, karena jika abang tidak menghadiri bisa saja di ganti oleh perusahaan lain"
"Kalau sekira penting, abang boleh pergi. Tapi harus ingat jaga mata jaga hati, istri dan anak abang menunggu kepulangan abang"
"Pasti istri ku tersayang. Tidak ada satu wanita pun yang bisa mengalahkan kamu. Karena kamu adalah wanita satu-satu nya yang abang sayang. Percayalah cinta abang hanya untuk diri mu seorang" ucap Tuan Devan memeluk tubuh ku, mengecup kening ku dengan lembut.
"Makasih ya bang. Sudah mencintai ku dengan tulus." Aku membalas pelukan Tuan Devan, tanpa ku sadari aku meneteskan cairan bening membasahi pipi ku.
"Kalau tidak ada apa-apa. Kenapa menangis?" lagi-lagi Tuan Devan bertanya dengan rasa penasaran.
"Adek tidak menyangka bang. Pernikahan adek bersama abang bisa sebahagia ini. Adek merasa menjadi wanita paling beruntung" ucap ku bahagia memandang manik mata Tuan Devan. Sehingga bola mata ku bersama Tuan Devan saling bertemu. Hingga membuat kami saling terdiam, dengan pikiran masing-masing.
"Ehem ..." Dara berdhem membuat ku bersama Tuan Devan tersadar dari lamunan.
"Ada apa Dar?" tanya Tuan Devan
" Aku mau ngajak kakak ipar jalan-jalan. Boleh ya bang."
"Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Ke mol bang."
"Kamu pergi sendiri saja! Kakak iparmu kandungannya sudah membesar, so pasti dia cepat lelah."
"Bang tidak apa-apa. Aku juga bosan di rumah terus" Bela ku. Karena dalam satu bulan ini aku tidak pernah keluar rumah kecuali ke taman belakang.
"Itu kan kakak ipar bosan bang. Kalau gitu abang saja yang mengantar kita!"
"Abang tidak bisa. Kalian pergi berdua saja, yang di temani oleh pak supir."
"Memangnya abang mau kemana?" tanya Dara karena tak biasa Tuan Devan mengizinkan ku pergi keluar rumah tanpa di dampangi oleh Tuan Devan.
"Nanti jam 1 siang, abang akan berangkat. Jaga kakak ipar mu dengan baik! Abang titip dengan mu!"
"Siap!"
"Abang berangkat!" pamit Tuan Devan lalu memeluk tubuh ku,
" Hati-hati bang" ucap ku melepaskan pelukan Tuan Devan dari tubuh mungil ku.
"Assalammualaikum" ucap Tuan Devan pergi meninggalkan ku bersama Dara
"Waalaikumsalam" setelah kepergian Tuan Devan aku bersama Dara pun bergegas menyiapkan diri untuk pergi ke mol. Aku sudah tak sabar tiba di area mol. Kerena sudah lama tidak kesana. Tidak menggunakan waktu lama aku bersama Tuan Devan pun tiba di sebuah mol terbesar di kota ini. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan setiap gerak gerik mereka..
.Bersambung. .. .
__ADS_1