
Waktu terus berlalu tak terasa sudah satu minggu Tuan Devan berada di luar kota. Berarti sudah satu minggu juga aku tidak bertemu dengan Tuan Devan. Entah perasaan apa yang tengah aku rasakan di tinggal oleh Tuan Devan. Bagaimana tidak di tinggal oleh sang suami tercinta. Satu minggu serasa satu tahun, Sanas mah lebay. Ketika aku sibuk memikirkan Tuan Devan tiba-tiba saja hp ku berdering, dengan cepat aku mengambil hp ku berharap Tuan Devan menghububgi ku. Tapi sayang harapan ku tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan tangan bergetar, nafas terasa sesak aku membaca pesan masuk di kontak hp ku. Tanpa ku sadari cairan bening terus membasahi pipi ku, berbeda dengan perut yang terus bergerak. Sepertinya anak yang di dalam kandungan ku sedang menenagkan perasaan ku saat ini. Aku masih tidak yakin dengan pesan itu dan sebuah foto itu. Tapi, foto di dalam itu benar mirip dengan Tuan Devan. Dari rambut, tinggi badan, dan dari gaya berfotonya. Mirip sekali dengan Tuan Devan. Entah mengapa hati kecil ku masih belum percaya jika itu Tuan Devan, berbeda dengan logika ku, yang sangat yakin bahwa itu Tuan Devan. apa itu hanya sebuah editan atau benar, aku bingung sendiri.
"Kakak ipar kenapa? " tanya Dara baru tiba mendekati ku yang tengah duduk di kursi memikirkan Tuan Devan.
"Tidak apa-apa Dar" jawab ku tanpa melirik kearah Dara
"Kakak ipar jangan bohong" ucap Dara sambil memegang kedua pipi ku dengan lembut.
"Kakak tidak bohong. Beneran tidak ada apa-apa"
"Kakak ipar tidak bisa membohongi ku kak! Aku tahu kakak ada masalahkan?" lagi-lagi Dara bertanya dengan ku, ia tidak yakin dengan jawaban ku. Aku pun langsung memeluk tubuh Dara, menangis di dalam pelukan Dara.
"Kak kenapa menagis?" tanya Dara melepas pelukan ku
"Hiks,, hikss" tangisan ku semakin pecah ketika melihat mama mertua ku menghampiri ku
"Sayang ada apa?" tanya mama mertua mengusap pipi ku dengan lembut
"Hikss,,hikss bank Devan ma" ucap ku dengan isak tangis sambil memeluk tubuh mama mertua ku
"Ada apa dengan Devan?" tanya mama panik. Aku tidak menjawab pertanyaan mama. Dengan tangan bergetar aku langsung memberi hp ku dengan mama, mama pun menerima hp milikku dengan bingung.
__ADS_1
"Buka ma!" perintah ku dengan mama, karena aku melihat mama merasa bingung. Dengan ragu mama membuka layar hp ku.
"Tidak mungkin" ucap mama ketika melihat layar hp ku.
"Apa ma yang tidak mungkin?" tanya Dara panik melihat ekspresi mama
"Abang mu" ucap mama
"Ada apa dengan abang ma? " tanya Dara
"Coba kamu lihat ini!!" Mama pun memberi hp ku dengan Dara. Dengan cepat Dara menerima hp itu. Dara bersama mama memberi ekspresi yang sama.
"Ma, apa mama yakin itu bang Devan? " tanya Dara
"Bagaimana dengan kakak ipar? Apa kakak ipar yakin itu bang Devan? "
"Kakak tidak tahu Dar, kakak bingung"
"Kalau gitu coba kakak telfon dulu bang Devan! Tanya baik-baik sama bang Devan! "
"No nya tidak bisa di hubungi Dar. Dari kemaren malam no bang Devan tidak bisa di hubungi"
__ADS_1
"Kemana bang Devan," batin Dara
"Kakak ipar tenang dulu. Aku yakin ada yang mau merusak rumah tangga kakak dengan bang Devan, "
"Tapi, siapa Dar? " tanya ku
"Aku tidak tahu kak. Sekarang tenangkan dulu pikiran kakak, kasihan dengan kandungan kakak. Jika kakak banyak pikiran akan menganggu kesehatan kandungan kakak"
"Bagaimana bisa kakak tenang Dar? Jika no bang Devan tidak bisa di hubungi"
"Iya kak. Aku tahu," ucap Dara sedangkan mama mencoba menghubungi no Tuan Devan
"Bagaimana ma? Apa bisa di hubungi?" tanya ku
"Kamu tenang dulu ya sayang. Mama akan memita pak ahmad menyusul di tepat kerja Devan " rayu mama mertua
"Iya ma" ucap ku masih di dalam pelukan mama mertua ku.. Tanpa di sengaja aku tertidur didalam pangkuan mama mertuan ku.
bersambung..
Terimakasih yang sudah setia menunggu cerita author. Jangan lupa like, komen, dan vote nya kak.
__ADS_1
Maafin author ya, yang hilang timbul. Sebenarnya author mau up setiap hari, tapi keadaan dunia nyata tidak bisa di tinggalkan hingga membuat author susah beralusianasi