
Bobi memejamkan matanya di bawah pohon rimbun yang terletak di bagain belakang taman sekolah. Entah apa yang sedang di pikirankan Bobi hanya Bobi dan author la yang tahu. Sedangkan Devin berkeliling sekolah mencari keberadaan si Bobi.
"Bro lo lihat Bobi tidak?" tanya Devin kepada Rio
"Enggak tu. Biasanya kalian selalu berdua" ucap Rio
"Kalau gue berdua sama Bobi napa juga gue tanya Bobi sama lo" kesal Devin. Rio hanya bisa cengengesan tidak jelas.
"Ya sudah gue tinggal dulu" pamit Devin dengan Rio yang tengah menikmati semangkok bakso. Devin pun coba menghubungi Bobi, tapi sayang mala di alihkan oleh Bobi.
"Sial! Di alihkan lagi" kesal Devan
Apa mungkin Bobi masih di dalam kelas tapi tidak mungkin la, batin Devin. Dengan terpaksa Devin melangkah kakinya menuju kelas Bobi. Jujur sebenarnya Devin paling malas masuk ke ruangan Bobi. Menurut Devin cewek-cewek di ruangan Bobi pada ganjen.
"Ehem," Devin berdhem hingga membuat para cewek-cewek menjadi salah tingkah.
"Mana Bobi?" tanya Devin
"Bobi tidak ada, yang ada nya Intan bersama geng" jawab Intan menghampiri Devin
"Gue gak cari lo" cetus Devin
"Iya gak apa."
"Dimana Devin?" lagi-lagi Devin bertanya
"Mana kita tahu"
"Ayang Devin babang Bobi nya tidak ada di kelas. Dari pada ayang pusing-pusing cari babang bobi mendingan sama tayang saja" ucap Lala membuat Devin merinding
"Mimpi lo" ucap Intan.
"Enggak. Lala serius kok"
"Kabur.. " Devin pun langsung lari ketika Lala ingin mendekatinya.
"Gara-gara lo Devin keluar!" kesal Ima sahabat Intan yang menyukai Devin
__ADS_1
"Kok gara-gara Lala?"
"Iya gara lo. Devin takut lihat muka lo jadinya dia kabur"
"Apa Lala sejelek itu?" tanya Lala pada dirinya sendiri
"Ni kaca!" Ima memberi kaca kepada Lala agar Lala berkaca
"Lo dari mana bro?" tanya Devin ketika berselisihan jalan dengan Bobi
"Lo cari gue?" tanya Bobi
"Iya."
"Ada apa?"
"Ya elah bro pakai nanya lagi ada apa? Biasa"
"Biasa apa nya?"
"Kak Devin.. " teriak Diva ketika melihat sang kakak yang ingin pulang
"Ada apa?"
"Kak antar adek pulang" manja Devi
"Tumben"
"Kata Bunda sopirnya pulang kampung. Istrinya sakit" jelas Diva
"Ayo lah. Bro gue tinggal dulu ya. Mau ngantar anak manja satu ini" pamit Devin sambil merangkul tubuh mungil Devi. Sebisa mungkin Bobi bersikap biasa-biasa saja melihat kedekatan Devi dengan Devin. Padahal didalam hatinya sudah menahan sesak yang amat dalam.
"Kak Bobi.. " panggil Bela ketika Bobi ingin mengendarai sepeda motor kesayangannya.
"Kenapa Bel?" tanya Bobi
"Kak, Bela boleh minta tolong gak?" tanya Bela ragu-ragu.
__ADS_1
"Kamu mau minta tolong apa Bel? Kalau kakak bisa bantu kakak bantu" jawab Bobi
"Bela bisa minta tolong antarin Bela gak kak. Soalnya Diva sudah pulang"
"Ow. Rumah kamu jalan mana?"
"Jalan cemangak kak"
"Ok. Naik la" tidak menunda-nunda lagi Bela langsung manaiki sepeda motor milik Bobi. Selama perjalanan hanya Bela yang sibuk bertanya sedangkan Bobi hanya menjawab setiap pertanyaan yang di luntarkan oleh Bela.
"Kak Bobi, kak Bobi pacaran ya sama Intan?" tanya Bela. Tanpa di sengaja Bobi langsung ngrem mendadak hingga Bela memeluk tubuh kekar Bobi.
"Maaf" ucap Bobi. Bela senang sekali karena ada kesempatan untuknya memeluk Bobi
"Tidak apa kak"
"Habisnya aku kaget dengan pertanyaan kamu bel"
"Ya aku kira kakak pacaran sama Intan, soalnya Intan selalu melarang aku dekat-dekat sama kakak"
"Kamu seperti tidak tahu Intan saja"
"Iya juga kak ya." tak terasa pun Bela tiba di kediamannya dengan perasaan senang. Bagaimana tidak senang bisa di antar dengan pujaan hati yang amat di cinta.
"Mampir kak" tawar Bela
"Terimakasih Bel. Lain kali saja" tolak Bobi secara halus. Bobi meninggalkan kediaman Bela. Setelah di perjalanan Bobi tidak sengaja melihat sebuah motor yang sangat ia kenal. Dan akhirnya Bobi memutuskan untuk berhenti melihat apa benar dengan orang yang sama pemilik motor itu. Ternyata dugaan Bobi tidak salah. Dimana Devin bersama Diva sedang menikamati dogan di pinggir pantai dengan canda gurau.
"Kak Dev sudah lama ya kita tidak seperti ini" ucap Diva
"Iya. Kakak jadi rindu dimana waktu kita bersama-sama"
"Iya kak. Kita foto yuk kak! Nanti kirim sama ayah dan bunda" Devi mengeluarkan pohonselnya lalu mengambil gambarnya dan Devin. Sedangkan Bobi melihat pemandangan itu membuat hatinya semakin hancur. Di satu sisi Devin adalah sahabatnya dan di sisi lain ia sangat menganggumi Diva dari pandangan pertama. Jujur sulit untuk Bobi berdamai dengan situasi ini.
Bersambung....
Terimakasih buat yang sudah setia membaca karya author. Author sangat butuh dukungan dari kakak semua. Jangan lupa like, komen dan vote agar author semangat nulisnya
__ADS_1