Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Orang Aneh


__ADS_3

"Terus yang mana?" tanya Bibik bingung. Sedangkan Bobi sudah tak sanggup menahan tawanya, akibat salah sambung. Sedangkan Devin menjitak kepala nya sendiri, sudah panjang lebar bertanya, eh justru yang dimaksud bukan orang yang di tuju. Bibik pun semakin bingung di buat oleh Devin dan Bobi, dan akhirnya bibik memutuskan meninggalkan dua sejoli itu yang tengah tertawa dirinya sendiri.


"Bik dua anak itu kenapa?" tanya Raya baru tiba, keponakan bibik bakso


"Bibik juga tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka tertawa tidak jelas setelah menanyakan Desi" jelas Bibik


"Kenapa mereka nanyain kak Desi? Apa mereka mengenali kak Desi?" tanya Raya yang ikutan bingung melihat kedua sejoli itu, yang tak henti-henti tertawa.


"Entah lah Bibik tidak tahu. Kasih ini untuk mereka agar sadar" bibik memberi segelas air puti kepada Raya agar memberinya kepada dua sejoli itu yang tak henti dari tawa.


"Permisi mas, ini di minum" ucap Raya. Pasti nya membuat Devin menghentikan tawanya lalu mengucek kedua bola matanya, memastikan yang dia lihat itu tidak salah.


"Kamu!!" ucap Devin. Membuat Raya semakin bingung kenapa ni anak memperhatikan dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala, pastinya Raya merasa risih.


"Hai mas" Raya memberi recikan air di muka Devin, agar Devin sadar.


"Kenapa kamu siram aku?" tanya Devin, mukanya sudah basah karena di siram Raya


"Habisnya kamu lihatin aku seperti itu" kesal Raya.


"Mana anak mu?" tanya Devin, sedangkan Bobi hanya memperhatikan interaksi Devin bersama Raya orang yang selama ini di kagumi oleh Devin.


"Mas jangan asal bicara. Pacar saja gak ada apa lagi punya anak, dasar orang aneh" ucap Raya


"Jadi, waktu di mol itu bukan anak kamu" ucap Devin, membuat Raya bingung


"Di mol?" tanya Raya


"Iya. Kamu kan waktu mandi bola bersama anak kecil waktu itu" ucap Devin. Raya pun berusaha mengingatkan siapa pria yang ada di hadapannya ini, perasaan dia tidak pernah bertemu dengan orang ini, tapi kenapa dia tahu bahwa sore kemaren ia ke mol.


"Ow, kamu pria yang mengikuti kami waktu itu!" tebak Raya, yang di anggukan oleh Devin.


"Betul" ucap Devin bangga, entah apa yang membuat Devin bangga.


"Ya sudah tidak penting untuk di bahas" ucap Raya ingin meninggalkan Devin. Tapi dengan segap Devin menahan Raya untuk pergi


"Ada apa lagi mas?" kesal Raya. Buang-buang waktu saja pikir Raya


"Kita belum kenalan" ucap Devin dengan senyuman manis


"Tidak penting juga" jawab Raya, tanpa menghiraukan Devin yang tengah memberi senyuman.


"Kenalkan Devin" ucap Devin sambil mengulurkan tangannya, dengan terpaksa Raya menerima uluran tangan Devin. Dari pada nanti di pikirkan sombong, lagian tidak masalah hanya sekedar kenalan.

__ADS_1


"Raya," ucap Raya jutek


"Nama yang cantik secantik orangnya" puji Devin, sebenarnya Raya senang dapat pujian dari Devin, tapi tidak Raya nampakkan dari pada nanti Devin memikirkan dia terlalu gr.


"Iya. Setiap wanita itu dilahirkan dengan kata cantik."


"Sudah ah, aku mau bantu Bibik" ucap Raya.


"Nanti saja, biar saya yang bilang sama bibik" ucap Devin yang tidak di hiraukan oleh Raya.


"Cie.. cie" canda Bobi. Bobi sengaja tidak menghampiri Devin ketika sedang mengobrol dengan Raya. Karena Bobi tidak mau jadi penganggu sahabatnya sendiri. Karena cukup dia saja yang merasa selalu ada pengganggu ketika ingin menyampaikan perasaan.


"Apaan?"


"Sudah jadian?" tanya Bobi


"Jadian pala pu peang" ucap Devin.


"Yang gue tanya tu Lo sudah jadian sama tu cewek, bukan pala pu peang" kesal Bobi. Lain yang di tanya lain juga yang di jawab, siapa juga yang tidak kesal.


"Pertanyaan Lo itu tidak perlu untuk di jawab"


"Kenapa?"


"Apa yang harus gue pikir? Dasar Devin aneh" ucap Bobi dengan dirinya sendiri


"Devin tunggu.." teriak Bobi. Devin tidak menghiraukan teriakan Bobi, ia tetap melangkah mengikuti setiap arah langkah yang di bawa oleh kakinya.


"Bik mereka siapa sih?" tanya Raya kepada Bibik


"Itu nak Devin sama nak Bobi. Mereka lengganan Bibik, hampir setiap hari makan bakso disini. Memangnya kenapa?"


"Gak ada bik. Raya sedikit aneh saja melihat tingkah mereka"


"Iya. Tapi anaknya pada baik. Kalau beli bakso pasti di kasih uang lebih terus" cerita Bibik


"Ow. Ya sudah bik, Raya pamit dulu"


"Hati-hati" ucap Bibik. Raya pun meninggalkan Bibik


Waktu yang paling di nanti-nantikan setiap siswa pun tiba, yaitu waktu bel pulang berbunyi. Semua siswa sudah siap dengan perlatannya masing-masing termasuk Devi.


"Bel" panggil Devi karena dari tadi Bela masih setia diam tanpa banyak bicara, semua yang di dalam kelas pun merasa aneh ada apa dengan Bela yang mana biasanya Bela tidak pernah seprti ini.

__ADS_1


"Bel, pulang bareng yuk!" Ajak Devi


"Maaf Dev tidak bisa" tolak Bela


"Kenapa Bel?" tanya Devi


"Gue sudah ada janjian."


"Gue ikut Lo, ya" mohon Devi


"Maaf Dev tidak bisa. Gue sudah janji sama teman gue, lagian kalau Lo ikut gue Lo naik sama siapa?" Alasan Devi.


"Tapi Bel" ucap Devi memohon agar Bela ingin pulang bersamanya.


"Sudah lah Dev, tidak mestinya kan kita selalu pulang bareng" ucap Bela membuat Devi sedih. Bela tidak menghiraukan Devi yang tengah mematung merasa iba karena sikapnya. Bela terus melangkah kan kakinya menuju parkiran menunggu seseorang.


"Kasihann,," ucap Ima


"Kenapa sekarang di jauahin ya sama besty nya. Makanya jangan sok kecantikan" ucap Intan


"Bay,, bay.." sebelum meninggalkan Devi Intan sengaja mengibas rambut Devi. Seperti biasa Devi tetap diam di perlakukan Intan seperti itu, dengan alasan yang sama tidak ingin mencari keributan di sekolah.


"Dev, Lo gak apa-apa?" tanya Bobi


"Tidak kak"


"Kalau kamu di sakiti sama geng Intan, kamu bilang saja sama kakak. Biar kakak yang beri mereka perhitungan"


"Biarkan saja kak, mereka mau berbuat apa jika itu masih hal yang wajar" ucap Devi tidak ada rasa sedikitpun ingin membalas dendam.


"Bela mana? Biasanya kalian selalu berdua?"


"Bela sudah pulang duluan kak. Tadi katanya ada temannya yang jemput" cerita Devi


"Ya sudah kalau gitu kamu pulang sama kakak saja" tawar Bobi. Dalam hati Bobi sangat berharap semoga Devi menerima tawarannya.


"Makasih kak. Bukannya Devi nolak tapi sopir Devi sudah menuju kesini, mungkin sebentar lagi akan tiba"


"Ow. Ya sudah kalau gitu kakak temani kamu tunggu supir nya" berbagai alasan Bobi mencari kesempatan agar bisa bersama Devi.


"Terimakasih kak." Bobi pun mengangguk.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih yang sudah berekanan meluangkan waktunya untuk membaca karya author, yang masih banyak tipunya. Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak. Satu lagi jangan lupa di bagikan ya.


__ADS_2