Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Hanya mimpi


__ADS_3

Seiringnya waktu terus berlalu, membuat perasaan Devin semakin dalam dengan seorang wanita yang ia kagumi. Selama hidupnya Devin tidak pernah mengaggumi seorang wanita kecuali sang bunda. Devin berusaha keras tidak ingin membayangkan wajah imut wanita itu, justru bayangan itu semakin mendekati Devin, hingga sulit untuk Devin memejamkan matanya. Devin bangkit dari tempat tidurnya mencari ketenangan hati. Dan akhirnya Devin memutuskan mengambil sebuah pena dan kertas untuk meluapkan isi hatinya kedalam selembar kertas itu. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 00.00 wib. Devin sudah tak sanggup melawan kantuknya hingga ia tertidur di atas meja yang di temani dengan selembar kertas.


"Aku suka kamu" teriak Devin


"Aku juga suka kamu" jawab wanita itu dengan senyum manisnya membuat hati Devin melele seperti es batu yang terkena siraman air panas.


"Apa aku tidak dengar" ucap Devin pura-pura tidak mendengar padahal dalam hatinya sudah berbunga-bunga seperti di taman.


"Aku sayang kamu Devin Putra Pertama Devan" ucap wanita itu dengan suara lantang nya. Hingga membuat jantung Devin berdetak semakin kencang, untung saja masih bisa di kontrol kalau tidak bisa melompat tu jantung.


"Sini, peluk aku" ucap wanita itu. Dengan senang hati Devin menghampiri wanita yang selama ini yang selalu terbayang dalam ingatannya. Semakin Devin mendekat wanita itu pun semakin menjauh, hingga membuat Devin sulit untuk memeluknya. Ya bukan namanya Devin jika ia tidak bisa menangkap seseorang. Ketika Devin memeluk wanita itu membuat Devin tersadar bahwa ia


"Brak.. brak.." suara tubuh kekar Devin yang menimpa keramik. Dengan perasaan kesal Devin membuka bola matanya, berusaha untuk berdiri akibat terjatuh dari kursi.


"Devin, kamu tidak apa-apa?" Tanya bunda. Ketika bunda melewati kamar Devin bunda tak sengaja mendengar suara benda terjatuh yang berasal dari kamar Devin.


"Tidak Bun" bohong Devin, padahal pinggang rasanya sudah mau copot.


"Oh iya bunyi apa tadi?" Tanya bunda


"Oh itu, bunyi kursi jatuh Bun"


"Kok bisa jatuh?"


"Tadi Devin tidak sengaja menabrak kusri ketika Devin ingin ke kamar mandi" bohong Devin, tidak mungkinkan ia mengatakan sejujurnya bahwa ia yang jatuh akibat mimpi wanita pujaan hati. Bisa-bisa nanti di ketawai bunda habis-habissan.


"Kamu tidak apa-apa kan?"


"Tidak Bun"


"Ya sudah sekarang kamu mandi nanti temani bunda ke pasar"


"Devi kan ada Bun"


"Hari ini Devi tidak bisa menemani bunda"


"Kenapa Bun?"


"Devi ada acara sama teman-temannya"


"AW sakit juga" ucap Devin sambil meraba-raba tangannya yang terkena timpahan kursi. Sial teryata aku hanya mimpi padahal aku sudah sangat berharap jika itu kenyataan, upat Devin dalam hatinya


Devin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah itu ia bersiap-siap menemani bunda kepasar.


"Bunda" panggil Devin


"Ada apa kak?" Tanya bunda


"Ayok!"


"Kemana?"


"Kata bunda minta di temani kepasar" kesal Devin, bagaimana tidak kesal sudah payah siap-siap justru bunda yang lupa


"Ow nanti saja kak. Bunda masih banyak pekerjaan" tolak bunda


" Yaelah bunda kalau Devin tahu tadi, bunda belum mau berangkat lebih baik Devin ngorok dulu"

__ADS_1


"Hehehe, sekarang kamu serapan dulu!"


"Oh ya Bun, Devi mana?" Tanya Devin karena tidak melihat keberadaan Devi, selama ia berdiri di sini biasanya Devi selalu bantu bunda ke dapur kalau hari libur, ini tumben Devi gak ada.


"Makanya bangun jangan siang," omel bunda


"Mumpung hari libur Bun"


"Kemana Devi Bun?"


"Devi joging"


"Sama siapa? Tumben" biasanya mana mau Devi di ajak joging alasannya selalu capek.


"Temannya"


"Ow. Ayah kemana Bun?"


"Biasa ayah kalau hari libur kemana?"


"Ya sudah Bun kalau gitu aku mau lanjutin tidur lagi. Nanti kalau ibu mau kepasar banguni saja"


"Hemzz"


Di tempat lain..


Di sebuah taman tampak lah tiga anak remaja yang tengah mengelilingi taman. Ketiga anak itu sudah di basahi oleh keringat.


"Dev ini" Bobi memberi sebotol Aqua oleh Devi, tidak lupa pula Bobi membeli untuk Bela.


"Yang Bela ada kak?" Tanya Devi karena merasa tidak enak jika Bobi tidak membeli untuk Bela.


"Terimakasih" ucap Bela


"Dev, sini kakak yang bukain" Bobi melihat Devi merasa kesulitan membuka tutup botol, maka dari itu Bobi berinisiatif membuka tutup botol minuman Devi. Sedangkan Bela melihat itu merasa kesal, karena Bobi tidak terlalu memberi perhatian untuknya.


"Dev, gue kesana dulu, ya" pamit Bela


"Kemana Bel? Gue ikut"


"Kalau Lo ikut gue, yang nemani kak Bobi siapa? Gue mau ke toilet bentar"


"Ya sudah kalau gitu. Hati-hati Bel" ucap Bela seperti mau berpisah jauh saja. Bela tersenyum menanggapi ucapan Devi.


"Kamu itu lucu, ya" ucap Bobi


"Lucu kenapa kak?" Tanya Devi


"Iya lucu saja, Bela hanya mau ke toilet saja. Kami sudah seperti Bela mau pergi jauh" ucap Bobi


"Hehehe" tawa Devi


"Dev, tolong jangan tersenyum" ucap Bobi karena tak sanggup melihat senyuman manis dari bibir mungil Devi


"Kenapa kak? Siapa melarang?" Tanya Devi heran kenapa tidak boleh tersenyum


"Ada"

__ADS_1


"Siapa kak? Devi mau nemui orang itu, kenapa dia melarang-larang Devi terseyum. Dia yang kasih Devi makan juga tidak jadi tidak ada hak dia larang-larang Devi" kesal Devi


"Hahahha"


"Lo kenapa kakak tertawa?"


"Habisnya kamu langsung emosi ajah"


"Bagaimana Devi tidak emosi kalau tersenyum di larang. Senyum itu kan sebagian dari iman kak"


"Kalau kakak yang melarang? Apa kamu masih tetap marah?"


"Jelas! Kenapa juga kakak melarang!"


"Habisnya kalau kamu tersenyum membuat jantung kakak serasa mau copot" ucap Bobi serius, tapi sayang di bawa main-main oleh Devi


"Hahaha.. kak Bobi lebay"


"Serius Dev, sebenarnya kakak itu"


"Hemzz" ucap Bela baru tiba. Belum sempat Bobi mengungkap perasaanya ada-ada saja penghalang.


"Pulang yuk!" Ajak Bela


"Nanti saja Bel, Lo mau kemana buru-buru" ucap Bobi tidak rela melepaskan kebersamaannya dengan Devi


"Ya gak kemana-mana kak, hanya sedikit capek" bohong Bela, sebenarnya hati yang capek bukan tubuh nya.


"Ya sudah kalau gitu kamu pulang saja sendiri. Kakak masih mau di taman bersama Devi" ucap Bobi


"Ow, ya sudah kalau gitu aku pulang dulu!" Pamit Bela


"Bel, kamu tidak apa kan pulang sendirian" ucap Devi merasa tidak keenaan. Karena tadi perginya bertiga ini justru Bela pulang sendirian walaupun mereka beda arah.


"Tidak apa Dev, kamu santai saja" ucap Bela


"Kamu tidak marah, kan?"


"Hahaha, kenapa juga aku marah. Kan aku sendiri yang mau pulang"


"Bay, bay" Bela pun melambaikan tangannya


"Kak,"


"Kenapa?"


"Aku merasa bersalah dengan Bela?"


"Kenapa juga?"


"Aku takut nanti Bela salah paham dengan ku. Nanti di berpikir kalau kita ada hubungan" ucap Devi seperti tahu apa yang ada di pikiran Bela


"Itu hanya pikiran kamu saja karena kamu merasa tidak keenaan, melihat Bela pulang sendirian"


"Iya ya kak,"


"Ayo kak sekarang mari kita jalan lagi!" Ajak Devi

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2