Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Pengganggu


__ADS_3

Kehidupan tidak ada yang tahu, apa yang akan terajdi pada hari esok. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana sebaik mungkin. Tetapi semua nya kita kembali dengan sang pencipta.


Tiga bulan sudah usia Baby Devin dan baby Diva, berarti sudah tiga bulan pula Sanas menyimpan pertanyaan untuk Tuan Devan yang menganggu pikirannya.


Sebaik nya aku tanya atau lebih baik pura-pura tidak tahu, batin Sanas


"Sayang," ucap Tuan Devan menghampiri Sanas yang tengah memandang kedua baby nya yang sedang terlelap.


"Ada apa bang?" tanya Sanas


"Kangen" Tuan Devan langsung mengecup bibir mungil milik Sanas. Entah mengapa Sanas enggan membalas kecupan dari Tuan Devan hingga membuat Tuan Devan merasa aneh dengan sang istri.


"Sayang ada apa?" tanya Tuan Devan karena melihat bola mata Sanas berkaca-kaca


"Tidak apa bang"


"Kamu jangan bohong,"


Sanas sudah tak sanggup menahan sesak yang selama ini ia pendam. Dan akhirnya Sanas menangis di dalam pelukan Tuan Devan. Tuan Devan pun merasa aneh dengan sikap sang istri, tiba-tiba saja menangis tanpa angin tanpa badai.


"Ada apa? Siapa yang menyakiti istri abang?" tanya Tuan Devan


"Abang sendiri" ucap Sanas enggan melihat kearah Tuan Devan


"Kok abang sayang?" tanya Tuan Devan bingung

__ADS_1


"Sayang jawab" ucap Tuan Devan sambil mengalihkan muka Sanas agar melihat kearahnya.


"Hiks,, hikss,," Sanas bukannya menjawab pertanyaan dari Tuan Devan justru ia menangis di dalam pelukan Tuan Devan


"Sayang lihat abang!" Tuan Devan mengangkat kepala Sanas agar menatapnya.


"Ini apa bang?" Sanas memberi sebuah pesan beserta foto kepada Tuan Devan. Tuan Devan yang menerima nya pun merasa bingung kenapa Sanas bisa mendapatkan foto itu


"Abang jawab! Jangan diam saja. Apa benar abang selingkuh?"


"Sayang lihat abang. Demi apa pun abang tidak pernah selingkuh dari kamu, abang juga tidak mengenalai wanita itu," ucap Tuan Devan menyakini Sanas


"Abang bohong kan?"


"Tidak sayang abang tidak bohong. Demi Tuhan abang tidak selingkuh,"


"Abang ingat. Jangan-jangan itu kerjaan orang yang sudah mencuri hp abang" tebak Tuan Devan


"Jawab sekali lagi bang! Apa benar abang tidak selingkuh?"


"Kamu boleh tanya dengan sekretaris Revan kalau kamu tidak percaya"


"Bisa jadi abang sudah sekongkol dengan sekretaris Revan, tidak berkemungkinan kalian kan sahabat"


"Kamu boleh sayang datangi dukun lalu santen abang. Jika abang bohong abang akan menerima tangguangannya semua" ucap Tuan Devan serius

__ADS_1


"Masih percaya saja sama dukun. Ingat Tuhan bang!" kesal Sanas


"Agar kamu percaya sama abang"


"Sekarang sayang sudah percaya kan sama abang?" tanya Tuan Devan


"Belum," ucap Sanas pergi meninggalkan Tuan Devan


"Sayang kamu harus percaya sama abang" Tuan Devan pun menyusul Sanas yang tengah berbaring bersama kedua baby nya. Sanas tak menyadari kedatangan Tuan Devan, yang berarti kesempatan bagus untuk Tuan Devan. Tanpa aba-aba Tuan Devan langsung.


"Muach, muach," Tuan Devan langsung mengunci bibir mungil Sanas hingga membuat Sanas tidak bisa menolak. Seperti biasa Tuan Devan senang sekali mendaki kedua gunung milik Sanas. Ketika ingin tiba di puncak gunung tiba-tiba saja ada penganggu yang membuat Tuan Devan menghentikan pendakiannya


"Oek, oek," tangisan baby Devin. Baby Devin jahil sekali sama ayah


"Bang minggir!" Sanas pun bangkit lalu menggendong baby Devin, jahilnya baby Devin ketika tiba di pangkuan Sanas ia justru tertawa menghadap sang ayah.


"Untung anak ayah, kalau tidak sudah ayah tabok ni pantat" omel Tuan Devan kepada baby Devin, bukannya membuat baby Devin menangis justru ia tersenyum dengan sang ayah hingga membuat Sanas gemas sendri melihat tingkah sang anak. Berbeda dengan baby Diva yang pendiam tidak banyak tingkah.


"Coba lah boy kamu seperti adik mu ini. Tidak banyak tingkah" ucap Tuan Devan kepada putra nya


"Oek, oek," belum lama Tuan Devan memujinya putrinya ini justru mengeluarkan suara emas nya. Dengan cepat Tuan Devan menggendong baby nya, baru tiba di gendongan Tuan Devan, Tuan Devan pun di mandikan dengan air terjun di buat oleh sang putri tercinta.


"Maka nya bang jangan suka jahil sama bunda nya. Ini belum seberapa sudah di balas sama anak-anak nya" ledek Sanas


"Anak ayah juga. Kalau tidak ada ayah mana bisa bunda cetak sendiri. Iya kan sayang?" kedua baby pun senyum-senyum ketika mendengar ucapan Tuan Devan. Seperti sudah mengerti saja.

__ADS_1


Bersambung....


Terimakasih ya yang sudah setia menunggu kisah Sanas. Salam kenal dari author buat kakak semua.


__ADS_2