Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kasihan Tuan Devan


__ADS_3

Hari terus berlalu tak terasa kandungan ku, sudah memasuki 3 bulan. Di mana sekarang perut ku sudah tampak sedikit membuncit. Untungnya selama 3 bulan ini, aku tidak merasa sedikit pun yang namanya mual, kepala pusing, dan sebagaimana. Aku seperti biasa saja cuma sedikit berat membawa perut ku dari biasanya. Tetapi, tidak dengan Tuan Devan. Di mana selama 3 bulan ini, Tuan Devan selalu memuntahkan isi perutnya, hingga membuat tubuhnya mejadi lebih kecil dari sebelumnya. Kalau boleh jujur aku kasihan melihatnya, jika berada di luar rumah. Karena ia tidak bisa melihat seseorang memakai baju berwarna hitam. Jika, melihat berwarna hitam di tubuh seseorang. Tidak tahu kenapa Tuan Devan merasa mual, mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


"Uwak, uwak," suara Tuan Devan mengeluarkan isi perutnya.


"Bang minum dulu!" ucap ku memberi sebotol mineral dengan Tuan Devan


"Sayang, tolong katakan dengan laki-laki itu gantikan bajunya! Berapa pun yang ia mau pasti akan ku beri," Tuan Devan menunjuk ke arah laki-laki paruh bayah itu, yang menggunakan baju berwarna hitam.


"Tapi, bang" ucap ku. Bagiamana mungkin aku memintak orang lain untuk membuka bajunya.


"Abang mohon sayang, abang sudah tidak sanggup lagi." Dengan perasaan was-was aku mendekati bapak itu.


"Permisi pak," ucap ku ramah


"Iya nak. Ada apa?" tanya bapak itu


"Apa boleh saya minta tolong dengan bapak"


"Kamu mau minta tolong apa? Apa yang bisa saya lakukan?"


"Tolong lepas baju bapak" ucap ku sungkan


"Lepas baju?" tanya bapak itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar

__ADS_1


"Iya pak. Tapi, bapak jangan berpikir yang aneh-aneh."


"Kenapa kamu meminta bapak membuka baju nak?"


"Itu suami saya pak, tidak bisa melihat warna hitam di tubuh seseorang" jelas ku sambil menunjuk kearah Tuan Devan. Dengan perlahan bapak itu membuka bajunya. Sebelum bapak itu membuka bajunya, terlebi dahulu aku memberi baju dengan bapak itu.


"Terimakasih pak. Oh iya pak ini untuk bapak" ucap ku memberi sebuah amplop dengan bapak itu.


"Ini apa nak?"


"Itu pemberian suami saya pak. Di terima ya pak"


"Terimakasih nak, semogah berkah di lancarkan rezekinya."


"Aminn..."


"Iya sayang."


"Kalau gitu kita pulang saja!" ajak ku


"Tapi, sayang ... " ucap Tuan Devan terbata


"Tapi apa bang?"

__ADS_1


"Abang belum beli ciloknya"


"Nanti saja bang, biar aku saja yang belinya. Kalau nanti abang yang beli bisa-bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang memakai baju berwarna hitam"


"Tapi sayang,"


"Gak ada tapi-tapian" ucap ku. Aku bersama Tuan Devan pun menuju kearah parkiran mobil. Di mana disana Dara sudah menunggu.


"Mana kak ciloknya?" tanya Dara. Karena sudah tak sabar memakan cilok.


"Gak ada" jawab Tuan Devan kesal


"Kenapa? Bukannya itu buka" tunjuk Dara menunjuk kearah warung cilok itu. Tuan Devan tidak menjawab pertanyaan Dara mala ia langsung masuk kedalam mobil.


"Kakak ipar, ada apa dengan bang Devan?" tanya Dara


"Kakak yang minta bang Devan, untuk masuk kedalam mobil. Biar kakak saja yang belinya"


"Kenapa kak?"


"Seperti biasa Dar," ucap ku menceritakan semuanya dengan Dara


"Kalau aku jadi kakak, aku pasti melakukan hal yang sama dengan kakak. Dari pada kita tambah repot"

__ADS_1


"Ayo!" ajak ku dengan Dara pergi membeli cilok, sedangkan Tuan Devan menunggu di dalam.mobil.


Bersambung...


__ADS_2