Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Nazar ku


__ADS_3

Hahahaha . Kamu pikir aku bodoh Intan. Mau jadi budak kamu, mau jadi mata-mata untuk kamu. Hahah itu tidak akan pernah terjadi Intan yang cantik" ejek Bela


"Awas kamu, ya!" kesal Intan


"Hai Devi harus kamu tahu ya, teman kamu ini tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia itu jahat, sudah mau mencelakai kamu. Lebih baik kamu jauhi saja, dia tidak pantas untuk di jadikan teman" ucap Intan.


"Aku tidak percaya itu, karena bagi ku Bela adalah teman terbaik ku. Jika dia ingin mencelakai, dia pasti sudah mencelakai ku. Tapi buktinya apa dia tidak pernah menyakiti ku apa lagi mencelakai ku." Bela Devi


"Kalian berdua itu memang cocok. Satu munafik satunya lagi bodoh" ucap Intan dengan senyum mengejek


"Ada urusan sama lho"


"Menyebalkan" Intan pun pergi meninggalkan Devi bersama Bela dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak kesal sudah senang kalau ada teman untuk menjatuhkan Devi. Agar muda mendapatkan cintanya Bobi, tapi sayang harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan.


"Maaf aku ya Dev, selama ini aku terkena hasut Intan. Mulai sekarang aku janji, aku tidak akan kena hasut orang lain. Karena itu bisa merugikan diri ku sendiri"


"Iya. Nama nya juga manusia kadang ada khilaf" ucap Devi.


"Bel, mulai sekarang aku minta sama kamu jangan pernah mengingat dimana masa kita tidak berdamai. Anggap saja itu tidak pernah terjadi, ok" ucap Devi. Devi tidak mau mengingat masa itu, jika di ingat akan membuat kita lebih sakit.


"Siap" Bela memberi tanda hormat tanda ia setuju dengan pendapat Devi.


"Ayo kekantin!" Ajak Rio


"Pergi saja sendiri"


"Hemmzz.. hari ini aku yang bandar" ucap Rio


"Serius?" tanya dua sahabat itu tidak yakin selama ini mana pernah Rio menaktir.


"Apa wajah ku seperti bercanda?" tanya Rio


"Tumben-tumbennya?"


"Itu nazar ku."


"Nazar apaan?"


"Iya nazar aku. Jika kalian berdamai lagi aku akan menaktir kalian berdua."


"Sampai segitunya"


"Iya. Karena aku tidak mau melihat kalian saling diam. Melihat kalian saling diam itu ibarat anak di tinggal ibu, suasana jadi sunyi." ucap Rio sungguh


"Maaf ya," lagi-lagi Bela meminta maaf merasa bersalah


"Sudah ah minta maaf, ya." ucap Devi


......


"Kamu kenapa Tan?" tanya Ima melihat wajah sahabatnya kusam, seperti baju belum di setrika saja.


"Itu si anak gembel" kesal Intan membayangkan wajah Bela, yang mana sudah berjanji dengannya untuk menjatuh kan Devi justru sekarang baikan lagi dengan Devi seperti tidak pernah ada masalah anatara mereka berdua.


"Kenapa dengan anak itu? Bukannya sekarang kalian sohib?" tanya Ima aneh. Karena setahu Ima mereka sudah menyusun rencana yang pas, kenapa tiba-tiba jadi begini.

__ADS_1


"Dia bohong"


"Maksudnya? Aku tidak paham" sulit bagi Ima mencerna ucapan Intan


"Masa itu saja tidak paham." Kesal Intan


"Salah kamu sendiri kenapa juga bilang pakai setengah-setengah" Bela Ima


"Itu si Bela berteman lagi dengan Devi. Teryata selama ini dia bohongi kita, mereka tidak bermusuhan. Masih belum paham?"


"Iya. Kalau itu baru aku paham. Berani juga tu anak kecil sama kita, dia belum tahu siapa kita" ucap Ima tidak terima.


"Aku ada ide" ucap Ima


"Apaan?" Ima pun membisikkan sesuatu di kuping Intan. Dengan wajah berbinar Intan menerima ide dari Ima


"Tumben pintar" ledek Intan. Karena selama ini Ima lolah kalau di suruh mikir tapi sekarang tanpa di suruh Ima sudah dapat ide yang tepat menurut Intan


"Sekarang lebih baik kita kekantin, aku sudah lapar" ucap Ima yang sudah membayangkan bakso dan mi ayam.


"IM, coba kamu lihat itu siapa"


"Yang mana?" tanya Ima bingung karena banyak anak-anak yang ngantari nunggu bakso


"Itu, yang bersama Devin" tunjuk Intan kearah Devin bersama Raya yang tengah mengobrol, entah apa yang mereka obrol yang pastinya tampak serasi


"Itu bukannya" Ima mengingat-ingatkan wajah wanita itu yang tidak asing di penglihatannya.


"Siapa?"


"Masa si Devin mau dekat-dekat sama anak tukang bakso. Kamu tahu sendiri Devin tu anak orang kaya jadi mana mungkin dia mau sama anak tukang bakso, mungkin kamu salah orang kali"


"Enggak. Itu betlul anak Bibik bakso." ucap Ima yakin kalau tebakannya tidak salah.


"Dari pada kamu pusing mikirin tu cewek lebih baik kamu datangi kan."


"Ide yang bagus" tanpa mikir panjang Ima langsung menghampiri Devin yang tengah mengobrol bersama Raya


"Mana Bobi," batin Intan sambil mencari keberadaan Bobi dengan menggunakan ekor bola matanya.


"Ehemm, maaf ganggu" ucap Ima sambil berdiri di samping Bobi layaknya sepasang kekasih


"Gak kok" ucap Raya dengan ramah.


"Dev, kamu sudah pesan?" tanya Ima sok manja


"Belum" jawab Devin cuek


"Kalau gitu biar aku pesan sekalian buat kamu, ya"


"Tidak usah" tolak Devin


"Kenapa? Nanti kamu lapar" ucap Ima merasa kuatir


"Kalau aku lapar itu juga bukan urusan kamu. Perut-perut aku yang merasakan bukan perut kamu" cetus Devin

__ADS_1


"Iya aku tahu. Pokoknya kamu jangan nolak! Titik tidak pakai koma" tegas Ima


"Kamu anak yang jaual bakso ini, kan?" tanya Ima sinis


"Iya mbak."


"Kenapa kamu masih berdiri disini? Kamu tidak dengar apa kalau aku bakso. Buatin aku dua mangkok, tidak pakai lama"


"Ayo cepat!" kesal Ima karena Raya masih melirik kearah Devin


"Baik mbak"


"Dev, aku tinggal dulu" ucap Raya


"Ray, tunggu aku bantu kamu ya"


"Apa-apaan si Dev, mau bantu segala. Kamu harus temani aku!" Ima menarik lengan Devin agar duduk bersamanya.


"Tidak apa Dev, kamu temani saja mbak nya. Kasihan" ucap Raya. Ya walaupun hati Raya merasa sedih melihat Devin bersama wanita lain, tapi Raya tetap tegar seolah-olah ia tidak ada menyimpan perasaan untuk Devin.


"Tapi, Ray" ucap Devin


"Tidak apa-apa"


"Dev, kamu kenapa sih. Mbak nya saja tidak masalah" ucap Ima


"Dev," panggil Ima lembut


"Hemzz" jawab Devin tanpa mengalih pandangannya dari Raya


"Dev, aku yang sedang bicara sama kamu itu, bukan anak tukang bakso itu." Kesal Ima, wajar saja ya Ima kesal, kita yang bicara tatapan ke orang lain seolah-olah tidak di anggap.


"Ada apa?" tanya Devin membelokkan tubuhnya kearah Ima


"Kamu ada hubungan apa sama anak tukang bakso itu?" tanya Ima


"Bukan urusan kamu!"


"Jelas urusan aku" ucap Ima


Tidak menggunakan waktu lama, bakso pun tiba. Raya meletakkan semangkok bakso di hadapan Ima dan Devin.


"Bagaimana sih lama kali" ucap Ima


"Maaf mbak. Yang beli bukan mbak sendiri" jawab Raya


"Ima.!" ucap Devin tidak suka melihat Ima menindas Raya


"Benarkan Dev, apa ada yang salah dengan ucapan ku?"


"Dev mau kemana? Bakso nya belum di makan" teriak Ima


"Makan saja sendiri" ucap Devin meninggalkan Ima


"Awas kamu, ya" batin Ima

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2