Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kesadaran Mama Mertua.


__ADS_3

"Sakitnya belum jelas bu. Tapi," ucap dokter targantung seperti jemuran baju.


"Tapi, apa dok?" tanya ku


"Lebih baik pak Devan di bawa kedokter kandungan, supaya lebih jelas."


"Maksud dokter anak saya hamil?" tanya mama tidak percaya.


"Maka, dari itu bu. Saya anjurkan bawa saja pak Devan kedokter kandungan. Supaya lebih jelas!"


Tuan Devan pun di bawah keruangan Dokter kandungan. Dimana disana Dokter sudah menunggu kedatangan Tuan Devam bersama keluarga. Ibu menghampiri Dokter sedangkan aku memapah tubuh Tuan Devan.


"Dok, tolong periksa anak saya!" perintah mama


"Ibu tenang dulu,"


"Apa yang pak Devan rasakan?" tanya Dokter. Tuan Devan pun menceritakan semua permasalahan yang ia rasakan dengan sang Dokter. Sedangkan respon Dokter tersenyum lebar melirik kearah ku.


"Dokter, ada apa?" tanya ku merasa aneh melihat sikap Dokter itu.


"Sekarang giliran buk Sanas yang di periksa!"


"Saya Dok?" tanya ku, dalam pikiran ku apa dokter ini gila, jelas-jelas aku tidak sakit. Kenapa aku yang harus diperiksa.


"Iya bu Sanas,"


"Sanas!" panggil mama lalu memegang erat tangan ku, entah mengapa mama menjadi lembut kembali dengan ku. Sedangkan Via menatapku dengan kebencian.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu cemas, mama yakin tidak ada masalah apa-apa." Ucap mama memberi ku kekuatan.


"Iya ma. Cuma Sanas hanya merasa aneh. Kenapa Sanas harus di periksa? Jelas-jelas Sanaskan tidak sakit ma," mama tidak menjawab pertanyaan ku, mama tersenyum memapah tubuh ku menuju ranjang pasien. Aku berbaring di ranjang pasien, sedangkan Dokter memeriksa perut ku, menggerakkan sebuah alat di bagaian perut ku. Tidak lama pemeriksaan selesai, aku kembali duduk di kursi bersebelahan dengan Tuan Devan.


"Dok, apa yang terjadi?" tanya mama


"Bu Sanas, kapan terakhir ibu haid?" tanya Dokter. Aku mengingat bulan berapa terakhir aku kedatangan tamu


"Sekitar 2 bulan yang lalu, Dok." jawab ku. Dokter pun mangut-mangut menerima jawaban dari ku.


"Selamat ya bu Sanas dan Tuan Devan, sebentar lagi akan menjadi orang tua!" ucapan Dokter itu membuat ku tidak bisa berkata apa-apa. Yang ku nanti-nanti selama ini akhirnya di berikan juga oleh Tuhan. Aku percaya jika tuhan akan memberi kita sesuatu di waktu yang tepat. Jadi, jangan pernah berhenti memohon dan meminta ke pada sang pencipta, yang mana yang mempunyai segalanya.


"Dokter serius?" tanya mama mertua ku


"Iya bu," jawab dokter. Mama pun langsung memeluk tubuh ku, mencium setiap permuakaan wajah ku.


"Pak Devan sedang dalam masa sindrom kehamilan simpatik,"


"Maksudnya dok?"


"Pak Devan dalam masa ngidam. Di mana saat hormon pak Devan tidak stabil," jelas dokter.


"Kira-kira berapa lama? Dok"


"Tidak menentu pak. Ada yang sampai 3 bulan, ada juga yang 5 bulan, yang lebih parahnya lagi ada yang sampai lahiran" jelas Dokter itu.


"Jangan lama-lama ya nak, nyiksa papa," batin Devan

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" ajak mama. Aku berjalan beriring dengan Tuan Devan, sedangkan mama bersama Dara, tidak lupa dengan Via lebih awal dari kami. Karena mama mau mengurus administrasinya dulu. Tidak menggunakan waktu lama mama pun tiba dengan membawa pil Vitamin buat ku, tidak lupa dengan Tuan Devan. Dara menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Tidak menggunakan waktu lama, kami pun tiba di kediaman Tuan Devan. Dara membuka pintu untuk ku dan Tuan Devan. Aku memapah Tuan Devan yang di bantu oleh mama mertua ku.


"Sanas!" panggil mama lembut


"Iya ma." Jawab ku


"Maafin mama, selama ini mama sudah menuduh kamu yang tidak pantas mama katakan" ucap mama tulus.


"Ma, Sanas sudah maafin mama kok. Sanas mengerti mama pasti sangat menanti kehadiran seseorang cucu."


"Makasih Sanas, kamu memang wanita baik. Tidak salah Devan menikah dengan mu" puji mama mertua ku. Sedangkan Via merasa gerah mendengar ucapan mama mertua ku dengan ku.


"Mbak Via duduk!" ucap ku. Karena aku melihat mbak Via hanya berdiri menatap ku dengan kebencian.


"Gak perlu," jawab Via


"Ya sudah sana pergi!" usir Dara. Karena Dara sudah tahu siapa Via sebenarnya.


"Tante Via pulang dulu!" pamit Via.


"Iya." jawab mama tanpa melirik Via. Kalau boleh jujur aku kasihan melihat mbak Via, karena aku sudah merasakan di posisi itu. Dalam hidup kita tidak boleh membenci seseorang, walaupun orang itu membenci kita. Karena allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan yang kita tanam.


Bersambung...


Terimakasih yang sudah membaca karya author. Jangan lupa tinggalin jejaknya dengan cara like, komen, dan vote nya ya. Supaya author lebih semangat lagi.


Salam kecup dari author.

__ADS_1


Muachh😘😘


__ADS_2