Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kesedihan Devin dan keluarga


__ADS_3

"Bela.. "Teriak Bobi. Bukanya Bela menghentikan langkahnya justru ia semakin kencang. Karena Bela masih malu bertemu dengan Bobi akibat cintak di tolak.


"Bela tunggu. ."


Mati gue, batin Bela


"Hai lo lihat tu Bela, tumben dia menghindar dari Bobi." ucap Ima ketika melihat Bela jalan terburu-buru


"Iya ya, kenapa?"


"Entah lah, wanita aneh"


"Bobi. ." teriak Ima


"Ada apa?"


"Devin mana?" tanya Ima


"Mana gue tahu, emang gue bapaknya" ucap Bobi.


"Ya kalau saja lo tahu. Lo kan sahabatnya" kesal Ima


"Beb Bobi" sapa Intan dengan manja


"Ini satu lagi kenapa?" kesal Bobi melihat dua sejoli ini.


"Kamu kok gitu sama aku." ucap Intan. Bobi tidak menghirau ucapan Intan justru ia meninggalkan Intan bersama Ima.


"Apa sih kurang gue? Sampai Bobi cuekin gue?" kesal Intan


"Lo gak ada yang kurang Ntan. Hanya saja Bobi belum Membuka hatinya sama lo" ucap Ima.

__ADS_1


"Sampai kapan gue harus nunggu!"


"Lo yang sabar ya"


"Hemmzz"


Di tempat lainn...


"Dek bangun," isak tangis Devin memandang sang kembaran yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama kakak. Kamu tahu sendiri dek kalau tidak ada kamu siapa yang bantu bautin tugas kakak, siapa yang nasehati kakak dan siapa juga tempat kakak bebagi cerita. Ayolah dek kakak mohon bangun. Kakak janji kakak tidak akan nakal lagi, kakak janji kakak bakal rajin belajar. Agar kita bisa belajar sama-sama" Devin tak sanggup melihat saudara kembarnya yang berbaring lemah tak sadarkan diri. Rasanya ingin Devin gantikan posisinya bersama Devi, tapi sayang itu tidak bisa.


"Devin," panggil bunda


"Iya bun"


"Sini peluk bunda" Devin pun menghampiri sang bunda yang tengah duduk di sebelah Devi. Bunda langsung memeluk Devan lalu mencium kening Devan dengan lembut. Bunda bersama Devin tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening melihat kondisi Devi yang semakin melemah.


"Kita do'a kan semoga adek cepat puli kembali, agar dia bisa bersama-sama kita lagi. Kakak harus kuat ya jangan nangis terus kalau kakak nangis terus siapa yang nguatkan bunda. Bunda sayang kalian berdua, bunda rela nyawa bunda di gantikan demi untuk kalian nak"


"Bagaimana keadaan Diva?" tanya ayah baru tiba


"Ayah.. " teriak devin ketika mendengar suara ayah lalu memeluk sang ayah dengan isak tangis.


"Kakak tidak boleh menangis" ucap Devan menghapus cairan bening yang membasahi wajah tampan sang anak.


"Percayahlah sama yang maha kuasa bahwa Devi akan baik-baik saja" sebisa mungkin ayah bersikap tegar di hadapan istri dan anak-anaknya. Padahal di dalamnya sudah banjir seperti sungai melihat keadaan putri tercinta lemah tidak berdaya.


"Iya yah" Ayah bersama Devin pun menghampiri Devi yang tengah berbaring lemah tidak sadarkan diri


"Devi yang kuat nak melawannya, ayah yakin kalau Devi bisa karena anak ayah wanita yang kuat, bukan wanita lemah. Yang harus Devi tahu ayah, bunda bersama kakak sayang Devi. Maka dari itu Devi janji ya sama ayah kalau Devi bisa melewatinya semua agar kita bisa bersama-sama lagi. Ayah, bunda bersama kakak akan selalu ada untuk Devi kami semua sayang adek." sebisa mungkin ayah bersikap tegar agar tidak mengeluarkan cairan bening tapi sayang ayah tidak bisa menahannya. Tanpa mereka sadari Devi mengeluarkan sedikit cairan bening melalui sudut kelopak bola matanya. Mungkin Devi hanya bisa mendengar ucapan sang ayah tanpa bisa berucap.

__ADS_1


"Ayah lihat adek mengeluarkan cairan bening" ucap Devin bahagia setidaknya walaupun belum sadar Devi sudah bisa mendengar apa yang dikatakan.


"Alhamdulillah. Kita do'a semoga Devi cepat pulih agar bisa berkumpul dengan kita lagi" ucap ayah lalu mencium lembut kening Devi yang tengah berbaring lemah.


Di tempat lain..


Bobi menghentikan sepeda motornya di sebuah halaman yang tidak terlalu luas. Ia pun memarkirkan sepeda motor kesayangannya di bawah pohon mangga yang rimbun. Bobi melepsakan helem yang ia gunakan dan meletakkannya di atas sepeda motor. Setelah itu Bobi menuji si pemilik rumah.


"Assalamualaikum" ucap bobi


"Devin.. Devinn.. " teriak Bobi, entah sudah berapa kali Bobi mengetuk pintu ruumah Devin tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya Bobi memutuskan duduk di bawa pohon mangga berharap semoga ada jawaban dari Devin.


"Cari siapa dek?" tanya tetangga


"Pemilik rumah ini kemana ya bu, soalnya sudah berapa kali saya ketuk tidak ada jawabannya"


"Kamu temannya Devin?" Bobi pun mengangguk


"Kamu tidak tahu kalau saudaranya mas Devin masuk rumah sakit, sudah tiga hari belum pulang."


"Sakit apa bu?"


"Kalau soal penyakit apa ibu juga belum tahu. Yang pastinya sudah tiga hari belum sadarkan diri"


"Ow iya buk kalau boleh tahu rumah sakit mana?"


"Ibu kurang tahu juga mas,"


"Oh ya buk. Makasih infonya" ucap Bobi


Jadi itu alasan lo tidak masuk sekolah. Apa iya Devi saudaranya Devin, makanya mereka sama-sama tidak masuk sekolah, itu tidak mungkin. batin Bobi

__ADS_1


Ketika Bobi ingin memastikan siapa saudara Devin, ibu tadi sudah meninggalkannya.


Terlambat


__ADS_2