Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Lebih baik mendengar suara kucing terjepit.


__ADS_3

Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam. Tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ku saat ini. Sudah satu minggu aku tidak bertemu dengan tuan Devan setelah kejadian itu. Tuan Devan tidak pernah menghubungi ku dan aku juga tidak menghubungi tuan Devan. Rasanya aku ingin pergi mencari ketenangan, tapi ku tak tahu arah tujuan ku. Biasanya jika aku dalam keadaan seperti ini Novi lah tempat ku bercerita. Tapi, sayang sekarang aku sudah lama tak berjumpa dengannya. Akhirnya aku putuskan menyendiri di taman belakang di bawah pohon rimbun.


Di tempat lainn.....


Di dalam sebuah ruangan besar yang tertata rapi dengan berkas-berkas, yang di tambah dengan dua kursi satu meja, tidak lupa juga di sediakan sofa. Di sana tampak ada sosok laki-laki tampan nan gagah. Yang sedang melamun sambil menatap ke arah luar jendela. Laki-laki itu pun tampak kusam dan tak bersemangat.


"tokk....tokkk" ketukan pintu membuyarkan lamunan laki-laki itu, bukan lain tuan Devan.


"Tokkk..Tokkk. Tuan..."panggil seketaris Revan. Karena tak ada jawaban dari tuan Devan. Seketaris Revan pun langsung masuk kebetulan tidak di kuncikan.


"Tuan.." panggil seketaris Revan


"Ehemm" tuan Devan hanya menjawab berdhem tanpa memperduli kehadiran seketaris Revan.


"Tuan Hari ini kita" belum sempat seketaris Revan menyelsaikan ucapannya langsung di potong oleh tuan Devan


"Batalkan" ucap tuan Devan tegas


"Tapi tuan" jawab seketaris Revan bingung. Karena selama ini tuan Devan tidak pernah membatalkan yang namanya sebuah pertemuan dengan rekan bisnisnya.


"Kata saya batalkan tinggalkan batalkan!! jaga banyak tanya"


"Baik la tuan" jawab seketaris Revan.


"Permisi tuan" pamit seketaris Revan

__ADS_1


"Van tunggu" panggil tuan Devan


"Iya ada apa tuan?" tanya seketaris Revan


"Jangan panggil aku tuan. Sekarang lupakan masalah pekerjaan" ucap tuan Devan. Begitulah tuan Devan dan seketaris Revan jika mereka di laur pekerjaan mereka menjadi sahabat, tidak ada istilah bawahan dan atasan.


"Ada apa Dev?" tanya Seketaris Revan sambil mendekati tuan Devan


"Aku bingung Van, aku harus bagaimana?"


"Apa yang sudah terjadi?" tanya seketaris Revan.


"Ceritanya panjang. Aku harus bagaimana?"


"Jika kamu tidak memberi tahu ku, bagaimana aku bisa memberimu solusi Dev" ucap seketaris Revan. Akhirnya tuan Devan pun menceritakan semua masalahnya dengan Sanas


"Kalau menurut aku si Dev, wajar saja Sanas melakukan itu semua. Coba kamu di posisi Sanas di waktu itu, mungkin kamu melakukan hal yang sama"


"Tapi Van, aku sudah lembut dengannya. Aku juga sudah memberinya kasih sayang sepenuhnya. Sampai-samapi aku rela meninggalkan perusahaan ku demi menemaninya pulang ke kampung halamannya. Apa itu belum cukup untuk aku membuktikannya?"


"Dev, Dev. Aku tidak habis pikir dengan pikiran mu"


"Maksudmu apa?" tanya tuan Devan sedikit meninggi


"Kalau aku jadi Sanas, mungkin aku juga tidak yakin jika kamu bisa mencintai ku. Karena sikap mu selama ini. Lagian kalian hanya menikah di atas kertas saja. Mungkin itu membuat Sanas menjadi ketakutan, jika suatu hari dia hamil" ucap Tuan Devan

__ADS_1


"Apa suratnya sudah kamu robek?" tanya seketaris Revan. Tuan Devan tidak menjawab pertanyaan seketaris Revan, justru tuan Devan langsung bangkit dari kursinya sambil membawa tas, tidak lupa dengan kunci mobilya


"Aku duluan" pamit tuan Devan terburu-buru


"Devan mau ke mana kamu....?" teriak seketaris Revan, tuan Devan tidak menjawab pertanyaan seketaris Revan, mala ia menitipkan kantornya


"Van aku titip kantor" ucap Tuan Devan sambil berlari. Semua staf di kantor melirik kepergian tuan Devan dengan bertanya-tanya ada apa dengan bosnya.


"Ada apa dengan pak Devan? Tiba-tiba saja berlarian tidak jelas" ucap Salah satu staf


"Entah lah, perasaan dalam satu minggu ini. Tidak ada yang benar, apa yang kita kerjakan selalu di salahkan dengan pak Devan"


"Kamu benar. Mungkin pak Devan lagi PMS"


"Hahahaha...."Gelak tawa karyawan


"Sudah selesai ngerumpinya?" tanya seketaris Revan sambil mendekati beberapa staf itu


"Eh ada pak Revan." jawab Salah satu staf itu


"Balik kerja sana. Apa mau saya pecat"


"Jangan pak" jawab staf-staf itu pergi meninggalkan seketaris Revan..


"*Sebenarnya bukan kal*ian saja yang pusing dengan sikap tuan Devan, Saya yang lebih pusing. Lebih baik dengar suara kucing terjepit dari pada dengar ocehan tuan Devan" batin Seketaris Revan.

__ADS_1


Bersambung......


Terimakasih yang sudah setia membaca karya author. Jangan lupa tinggalin jejaknya dengan cara di like, komen dan Vote. Satu lagi jangan lupa di bagikan. Agar author lebih semangat nulisnya.


__ADS_2