Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Kecemasan Tuan Devan


__ADS_3

Tidak menggunakan waktu lama Tuan Devan pun tiba di rumah sakit dimana tempat sang istri dirawat. Ketika Tuan Devan menuju ruang persalinan ia tak sengaja bertemu mama dan Dara. Kebetulan mama bersama Dara ingin kekantin membeli makanan untuknya bersama papa.


"Mama dimana Sanas?" Tuan Devan langsung menanyakan keberadaan istri tercintanya.


"Devan kamu tenang dulu?" ucap mama karena melihat Tuan Devan tergesa-tergesa


"Bagaimana aku bisa tenang ma, jika istri ku sedang di rawat"


"Iya. Tapi kamu juga tidak bisa seperti ini."


"Sekarang dimana Sanas?"


"Sanas sedang di rawat,"


"Ruangan mana ma?"


"Melati kamar 32 lantai 1. Di sana ada papa kamu temui saja papa. Mama bersama Dara kekantin dulu. Apa kamu sudah makan?"


"Mana mungkin aku selera makan ma jika aku belum melihat keadaan istri ku,"


Tuan Devan meninggalkan mama bersama Dara menuju ruangan yang di katakan mama. Di mana disana ia melihat sang papa sedang duduk di kursi tunggu. Tuan Devan pun menghampiri sang papa.


"Pa, bagaimana keadaan Sanas?" tanya Tuan Devan mendekati papa


"Devan akhirnya kamu pulang," papa tampak senang melihat kedatangan Devan setidaknya ada penguat untuk Sanas.


"Pa bagaimana keadaan Sanas?"


"Kamu duduk dulu," Tuan Devan pun mengikuti perintah papa

__ADS_1


"Kita berdo'a saja semoga Sanas dan bayi kalian baik-baik saja."


"Amin. Pa aku mau masuk melihat keadaan istri Devan pa"


"Sebaiknya kita tunggu disini saja. Semuanya kita serahkan kepada para ahlinya"


"Tapi pa,"


"Kamu tenang dulu. yakinlah Sanas akan baik-baik saja. Papa yakin Sanas akan bisa melewati semuanya karena Sanas itu anak yang kuat," nasehat papa. Mama bersama Dara pun tiba dengan membawa makanan untuk mereka karena kemaren belum ada yang makan.


"Pa mari kita makan!"


"Devan,"


"Makan saja kalian, aku tidak selera,"


"Kamu tidak boleh seperti itu. Nanti jika kamu tidak makan siapa yang akan menjaga Sanas" karena mendengar ucapan seperti itu terpaksa Tuan Devan ikut makan bersama keluarganya. Hanya dua sendok yang masuk kedalam mulut Tuan Devan setelah itu ia tidak berselera lagi


"Ma, biarkan saja," ucap papa akan mengerti perasaan Devan saat ini


Ketika mereka sedang berbincang entah apa yang mereka katakan. Dokter pun keluar


"Dok bagaimana keadaan istri saya?" Tuan Devan langsung berdiri menghampiri Dokter itu menanyakan keadaan sang istri


"Kalian semua tenang dulu, kami akan melakukan yang terbaik untuk ibu Sanas"


"Saya tidak mau tahu dok, selamatkan anak dan istri saya!"


"Iya pak, kami akan melakukannya yang terbaik."

__ADS_1


"Ingat dok jika sampai istri dan anak saya tidak selamat. Jangan harap rumah sakit ini bisa berdiri lagi!" ancam Tuan Devan


"Tuan tenang dulu dan banyak-banyak berdo'a semoga istri dan calon anak bapak baik-baik saja,"


"Dokter kenapa keluar? Rawat istri saya dok,"


"Iya pak. Saya harap bapak bisa tenang dulu agar saya bisa konsentrasi menangani istri bapak. Jika bapak seperti ini bagaimana saya bisa fokus menangani istri bapak,"


"Dokter mengancam saya?"


"Devan! Kamu ikuti saja perintah dokter karena dia yang lebih tahu dari kita!" papa pun menarik lengan Devan ketika Devan ingin masuk melihat Sanas.


"Papa bairkan Devan masuk, Devan ingin berada disamaping Sanas. Sekarang itu Sanas membutuhkan Devan pa!" Devan terus mengeluarkan air matanya menangis didalam pelukan sang papa. Mama tak tega melihat putranya menangis seperti ini karena selama ini mama tidak pernah melihat Devan sesedih seperti sekarang ini. Mama pun ikut menetaskan air mata mengingat betapa kejamnya dengan Sanas.


"Tuhan hamba tahu hamba bukanlah makhluk yang sempurna, hamba tahu hamba banyak berbuat dosa. Tapi hamba mohon Tuhan selamatkanlah istri dan anak hamba. Engkau boleh menghukum hamba asalkan engkau selamatkan istri dan anak hamba. Tuhan dengarkan lah permohonan hamba mu ini," Tuan Devan mengatakan kalimat seperti itu penuh dengan isak tangis sambil bersujud didepan pintu ruangan Sanas. Mama pun mengangkat tubuh Tuan Devan membawanya ke kursi tunggu. Tidak ada penolakan dari Tuan Devan pun mengikuti apa yang di lakukan oleh mama. Ketika mereka dalam keadaan saling berpelukan, dokter pun menemui Tuan Devan bersama keluarganya.


"Keluarga Sanas,"


"Iya dok," jawab mama


"Kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada bapak dan ibu. Kami sebagai dokter sudah melakukan yang terbaik. Tapi semuanya kita serahkan pada maha kuasa. Sekali lagi kami mohon maaf,"


"Dokter kamu jangan bercanda, saya tidak butuh candaan kamu dok!" bentak Tuan Devan penuh amarah untung saja ada papa jika tidak Dokter itu pun akan leyap di buat oleh Tuan Devan saat itu.


"Mohom maaf, bapak dan ibu silahkan masuk!" Dokter itu pun dalam keadaan cemas.


Kira-kira Sanas selamat atau tidak ya?


Tolong di komenin kak ya n jangan lupa di bagikannya.

__ADS_1


terimakasih salam rindu dari author


bersambung...


__ADS_2