Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
2 Minggu Serasa 2 Tahun.


__ADS_3

Teryata Tuan Devan membawa ku ke dalam kamar miliknya. Setelah tiba di kamar Tuan Devan langsung memeluk tubuh mungil ku. Pastinya aku terkejut sekali, bagaimana tidak orang yang aku nanti-nanti kepulangannya akhirnya menemui ku, memeluk tubuh ku kembali. Rasanya pelukan itu tak ingin ku lepaskan. Tuan Devan melepaskan pelukannya, mentap manik bola mata ku penuh kerinduan, aku pun seperti itu. Lama aku bersama Tuan Devan saling terdiam, melepaskan rasa rindu yang amat dalam.


"Sayang, maafin abang" ucap Tuan Devan, mengusap kepala ku lembut.


"Abang kemana saja?" tanya ku yang sudah di penuhi cairan bening.


"Maafin abang, tidak ada maksud abang meninggalkan sayang. Abang sengaja pura-pura marah sama sayang, abang mau lihat permainan mama dan Via"


"Jadi, abang percaya sama adek?"


"Jelas, hanya orang bodoh bisa di bohongi. Karena abang bukan orang bodoh, jadi tidak bisa bohongi abang,"


"Maksud abang?"


"Mungkin mereka kira Abang ini bodoh. Yang bisa di bohongi dengan cara mengedit foto seperti itu. Dari pertama ia kirim foto itu bersama abang, abang sudah tahu jika itu editan," jelas Tuan Devan geram mengingat wajah Via bersama mama


"Bang, kenapa mama membenci ku? Apa salah ku Bang?"

__ADS_1


"Sebenarnya mama tidak pernah membenci kamu sayang. Mama terkena hasut oleh Via. Mama sebenarnya sangat menyangi mu. Kamu ingat kan bagaimana perlakuan mama waktu dulu dengan mu, ia sangat menyangi mu"


"Iya bang. Maka, dari itu adek heran, kenapa mama bisa membenci adek"


"Kamu sabar ya, abang yakin nanti mama akan sadar. Mama akan kembali seperti mama yang kamu kenal dulu" ucap Devan mengusap lembut sang istri yang sangat ia cintai, bagi Devan Sanas itu harta yang paling berharga baginya, ia rela kehilangan hartanya asalka bersama Sanas.


"Iya bang, adek tidak menyangka jika abang akan kembali menemui adek lagi,"


"Mana bisa abang jauh-jauh dari kamu sayang! 2 minggu rasa 2 tahun, tidak bertemu dengan mu" ucap Tuan Devan genit, aku sudah tahu maksud Tuan Devan yang tersenyum manis dengan ku.


"Sayang, abang ...!" ucap Tuan Devan terjeda.


"Sayang sebentar saja" mohon tuan Devan memasang wajah melemas.


"Gak! Mandi dulu!" ucap ku


"Baiklah, tapi sudah mandi nanti langsung ya"

__ADS_1


"Ehemm,"


"Iya sayang, apa gak kasihan selama 2 minggu abang berpuasa"


"Siapa juga suruh pergi!!"


"Iya, maaf" ucap Tuan Devan mengecup kening ku. Ketika Tuan Devan mulai menurunkan ciumannya, aku pun langsung mendorong tubuh Tuan Devan, berlari meninggalkan Tuan Devan. Sedangkan Tuan Devan harus merasakan kemarahan si adek kecil yang tidak mendapat kepuasan.


Aku menuju kedapur membuatkan Tuan Devan secangkir kopi. Ku letakkan kopi satu sendok dan gula satu sendok, kebetulan Tuan Devan tidak suka yang terlalu manis. hanya menggunakan waktu dua menit kopi Tuan Devan sudah siap untuk di hirupkan. Aku membawa kopi buatan ku ke kamar, tidak lupa aku membawa roti. Aku tidak sengaja mendengar ucapan mama bersama Via di ruang tamu, membuat dada ku menjadi sesak. Sebisa mungkin aku melupakan ucapan mama bersama Via. Aku terus melangkah kan kaki ku menuju kamar Tuan Devan. Setelah tiba di kamar aku meletakkan kopi di atas meja, menyiapkan pakaian untuk Tuan Devan. Tidak lama setelah itu Tuan Devan keluar dari kamar mandi, yang hanya menggunakan handuk yang berlilit di pinggang. Tuan Devan semyum jahil ke arah ku. Pasti pikiran ***** Tuan Devan sudah melonjak.


"Sayang, sini!" pangil Tuan Devan


"Apa bang?" aku mendekati Tuan Devan yang berada di pinggir ranjang, aku pun duduk di sebelah Tuan Devan. Tuan Devan tidak banyak bicara, ia langsung melakukan aksinya yang sudah lama tertunda. Seperti biasa mulai dari kecupan kecil hingga tiba di permukaan dua gunung kembar. Bukan cuma sekedar kecupan Tuan Devan melakukan aksi panasnya penuh gairah. Tuan Devan semakin ganas mendaki puncak gunung milik ku, ketika sedikit lagi tiba di puncak kenikmatan, ada-ada saja penggangu.


"Ceklek" pintu terbuka


Bersambung...

__ADS_1


Terimaksih yang sudah membaca karya author jangan lupa tinggalin jejak nya ya. Dengan cara like, komen, dan Vote. Agar author lebih semangat. Jika, kakak berniat juga bisa baca karya author di lapak kuning kak. (Penantian Kaila).


__ADS_2