
"Sanas... " Teriakan mama
"Ada apa ma? " tanya Dara mendengar teriakan mama
"Kakak ipar mu Dar! " teriak mama
"Ada apa dengan kakak ipar? " Dara pun menghampiri mama, sedangkan Sanas sudah di gendong oleh papa.
"Ma, kakak ipar kenapa? " tanya Dara panik karena melihat Sanas tidak sadarkan diri dalam gendongan papa.
"Jangan banyak tanya? Ayo kita susul papa!" Mama pun menarik lengan tangan Dara yang tengah mematung.
"Mama... " teriak papa karena mama bersama Dara tak kunjung tiba.
"Iya pa" teriak mama
Papa pun mengendarai mobil dengan kecepan di atas standar. Papa tidak peduli dengan pengendara sekitar, semuanya papa terobos tanpa terkecuali lampu merah. Sedangkan Sanas di dalam pelukan sang mama mertua dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bibir pucat, tubuh pun semakin melemas. Detak jantung bayi pun hilang timbul. Hingga membuat semua yang ada di sana merasa panik nan cemas, apa lagi Tuan Devan tidak bisa di hubungi.
"Pa, Cepat kan lagi bawa mobilnya!" perintah Dara karena tidak tiba-tiba di rumah sakit. Papa tidak menjawab ucapan Dara, karena papa sudah mengendarai dengan kecepatan ful. Tidak lama setelah itu mereka pun tiba di sebuah rumah sakit terbesar di kota ini. Papa pun langsung menggendong tubuh Sanas, membawa Sanas kedalam ruangan rumah sakit, sedangkan Dara memarkirkan mobil.
"Dok, cepat atasi anak saya!" perintah papa dengan salah satu dokter rumah sakit itu
"Bapak tenang dulu! Kami akan melakukan yang terbaik untuk anak bapak." Papa pun menyerahkan Sanas dengan salah satu dokter rumah sakit. Sedangkan Dara bersama mama menghampiri papa yang tengah menunggu di depan pintu ruangan.
"Pa, dimana Sanas?" tanya mama mertua. Papa tidak menjawab pertanyaan mama
"Pa, di mana kak Sanas?" tanya Dara. Papa tidak menjawab pertanyaan Dara. Papa hanya menggunakan isyrat melalui bibir. Dara pun mengerti apa maksud dari papa. Dara pun menuju kamar ruangan Sanas, ketika Dara ingin membuka pintu ruangan. Dokter pun tiba melarang Dara untuk masuk melihat keadaan Sanas.
"Maaf buk, tunggu di depan saja!" perintah dokter
"Tapi dok, saya mau melihat keadaan kakak saya" rengek Dara.. Dokter itu pun tidak menghiraukan ucapan Dara, ia mendorong tubuh Dara keluar agar tidak masuk kedalam ruangan.
"Dok. Aku mohon aku mau masuk" Dengan cepat dokter menutup pintu ruangan.
__ADS_1
"Dokter..." teriak Dara
"Ma, bagaimana dengan bang Devan. Apa bisa di hubungi?" tanya Dara
"Belum Dar. Itu lah mama pusing" ucap mama bingung
"Coba hubungi kak Revan ma!"
'Sama saja tidak bisa di hubungi," jelas mama
"Pasti bang Devan marah besar jika tahu keadaan kakak ipar seperti sekarang. Aku takut ma jika bang Devan marah ma" ucap Dara ketakukan membayangkan wajah Tuan Devan jika sedang marah..
"Kamu tenang dulu. Kita berdo'a saja semoga kakak ipar mu dalam keadaan baik-baik saja."
"Iya ma"
Di tempat lain...
"Iya Dev" jawab seketaris Revan
"Cepatan dikit napa!" kesal Tuan Devan karena baginya sekretaris Revan lama siapnya. Padahal dia sendiri yang lama
"Iya Tuan" ucap Sekretaris Revan, menghampiri Tuan Devan
"Lama sekali" marah Tuan Devan, sekretaris Revan tidak menjawab ucapan Tuan Devan. Karena dia tahu jika di jawab bakal panjang urusannya lebih baik diam saja. Tuan Devan nampak tidak kesabaran menuju di kediamannya. Bagaimna tidak sabar sudah lama tidak bertemu dengan istri tercinta.
"Kamu bisa nyetir gak sih," omel Tuan Devan. Karena baginya seketaris Revan mengemudi dengan kecepatan santai.
"Tuan selama ini siapa yang bawa mobil intuk Tuan? " sindir sekretaris Revan
"Ya kamu! Masa saya!"
"Jadi, saya bisa nyetir atau tidak Tuan? "
__ADS_1
"Diam kamu! Kalau tidak mau gaji saya potong" ancam Tuan Devan
"Baik Tuan Devan"
Kurang lebih Tuan Devan bersama sekretaris Revan menggunakan waktu tiga jam dalam perjalan menuju di kediaman Tuan Devan. Setelah tiba di kediamannya Tuan Devan berlari menuju rumah tanpa menghiraukan sekretaris Revan lagi. Tuan Devan mencari keberadaan sang istri, setiap sudut ruangan sudah Tuan Devan masuki. Tapi, tidak ada bayang-bayang akan keberadaan sang istri.
"Sayang... Kamu dimana?" teriak Tuan Devan panik
"Sayang, abang pulang" lagi-lagi Tuan Devan teriak
"Sayang bercandanya tidak lucu" ucap Tuan Devan
"bik!" panggil Tuan Devan kebetulan bibik lewat di hadapan Tuan Devan
"Iya Tuan."
"Nyonya Sanas dimana bik?"
"Itu nyonya"
"Iya. Nyonya dimana?" bentak Tuan Devan
"Itu nyonya di bawa ke rumah sakit"
"Rumah sakit? Nyonya sakit apa bik?"
"Kalau soal itu bibik tidak tahu Tuan" bohong bibik
Tuan Devan Devan pun langsung menuju rumah sakit dengan kecepatan yang tinggi.
bersambung....
"Terimaksih yang sudah setia membaca karya author. Jangan lupa like, komen dan vote nya. Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya.
__ADS_1