Salah Alamat Berujung Nikah

Salah Alamat Berujung Nikah
Jejak Tuan Devan


__ADS_3

Sanas sudah boleh kembali ke rumah yang artinya Sanas sudah setabil kembali. Tuan Devan mengurus admistarsi sedang Sanas bersama mama beres-beres. Tidak menggunakan waktu lama Tuan Devan pun tiba membawa dua botol air mineral.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Tuan Devan


"Sudah," Devan membawa semua perlengkapan sedangkan Mama bersama papa membawa kedua cucu mereka. Selama di perjalanan Tuan Devan mengemudi sangat pelan bisa dikatakan pertama kalinya Tuan Devan mengemudi seperti ini.


"Kak Devan bisa ngebut dikit gak sih," omel Dara.


"Gak."


"Sini biar Dara saja yang bawa, kapan tibanya ma kalau seperti ini,"


"Sabar kenapa?" omel Devan.


Dengan kesabaran akhirnya mereka pun tiba di kediamannya. Lisa di papah oleh Tuan Devan sedangkan kedua baby di gendong oleh mama dan papa. Mama meletakkan baby boy kedalam box nya yang sudah di sediakan oleh bibik begitu sebaliknya dengan papa.


"Oh ya bang kita belum buat nama untuk anak-anak kita,"


"Tenang sayang semuanya sudah abang siapkan,"


"Siapa bang?" tanya Dara sudah tidak sabar


"Kamu ini sabar dikit napa!"


"Hehe, " Dara pun hanya bisa meberi cengiran


"Untuk baby boy ayah kasih nama Devin putra pratama Devan sedangkan baby girl Diva putri pertama Devan. Bagaimana cocok tidak?"


"Sanas bagaimana menurut mu?" tanya mama


"Kalau Sanas ma terserah bang Devan saja,"


"Menurut Dara sangat cocok karena semuanya berawal dari huruf D sama seperti maminya,"


"Iya lah,"

__ADS_1


"Berarti semua setuju?"


"Ok,"


"Oek oek," tangis baby Diva


"Anak ayah kenapa menagis, cemburu ya karena ayah gendong kakak," bukannya diam baby Diva semakin kencang mengeluarkan suara cantiknya


"Sekarang giliran kakak ya, masuk di dalam bok ayah mau gendong adek dulu," Tuan Devan meletakkan baby Devin kedalam bok, tapi sayang belum sampai di bok baby Devin menagis lebih kencang dari baby Diva hingga membuat Tuan Devan bingung harus menggendong yang mana


"Ayo donk sayang gantian sama adiknya, apa kakak tidak kasihan melihat adek?" tanya Tuan Devan kepada baby Devin. Baby Devin tersenyum. Lagi-lagi ketika Tuan Devan ingin meletakkan baby Devin kedalam bok tetap saja baby Devin menangis melebihi suara baby diva


"Kenapa bang?" tanya ku karena melihat Kedua baby menangis


"Ini si kakak tidak mau ngalah sama adiknya," kadu Tuan Devan kepada ku layaknya seperti anak kecil mengadu kapada ibunya


"Abang itu tidak bisa merayunya,"


"Enggak. Dasar si kakak keras kepala,"


"Kenapa wajar sayang? Itu tidak di bolehkan,"


"Wajarlah kalau dia ikut ayahnya yang keras kepala," Tuan Devan tidak bisa berkata apa-apa lagi karena yang di katakan Sanas ada benarnya.


"Itu kan diam," canda ku


"Bang hari ini giliran abang ya jagain kedua baby,"


"Abang sendiri?"


"Iya. Soalnya aku bersama Dara mau membeli perlengkapan untuk kedua baby."


"Kenapa tidak Dara sendiri saja,"


"Dara mana mengerti bang, kalau soal pakaian dewasa mungkin Dara mengerti."

__ADS_1


"Nanti kalau dia lapar bagaimana?"


"Abang tenang saja. Tu didalam lemari pedingin sudah saya siapkan," tidak ada alasan untuk Tuan Devan menolak.


"Nanti kalau dia menangis serentak bagaimana?" Tuan Devan membayangkan jika kedua baby nya menangis, ia bingung harus melakuakan apa.


"Abang banyak alasan, di rumah ini ada bibik. Nanti bibik yang akan membantu"


"Kakak ipar ayok!" ajak Dara


"Jaga yang benar bang," aku bersama Dara pun meninggalkan kedua baby bersama Tuan Devan.


"Anak ayah bobok dulu yuk!" Tuan Devan mengayuni kedua bok baby nya.


"Pret,"


"Suara apa itu. Jangan-jangan kalian," Pertama Tuan Devan membuka popok baby Diva dan hasilnya sesuai yang diharapkan Tuan Devan. Entah mengapa perasaan Tuan Devan tidak baik ketika ingin membuka popok baby Devin


"Uak uak," entah berapa kali Tuan Devan memanggil uak ketika membuka popok baby Devin. Dimana baby Devin sudah mengeluarkan martabak yang terlezat. Hingga terkena semua paha dan baju. Jujur kalau bukan anak sendiri mana sanggup Tuan Devan membersihkan martabak itu. Sepertinya baby Devin harus dimandikan karena kalau tidak bau martabak itu akan lengket di tubuh baby Devin. Sedangkan baby Devin senyum-senyum melihat sang ayah kerepotan. Masih kecil sudah jahil dengan ayah. Untungnya baby Diva tidak banyak tingkah hanya sekali-kali menagis setelah di kasih dot diam kembali.


Sedangkan Lisa bersama Dara mengelilingi mol mecari keperluan baby Devin dan baby Diva.


"Yang mana Dar?"


"Sepertinya nya yang ini kak," aku pun mengambil pilihan Dara, setelah keperluan kedua baby sudah terpenuhi tidak lupa kami mencari bensin untuk perut.


"Kak kita makan disana saja yuk!" aku pun mengikuti keinginan Dara. Ketika aku melihat phonsel ku sudah 100 kali panggilan dari Tuan Devan.


"Ada apa kak?" tanya Dara ketika melihat ku geleng-geleng kepala


"Ini," aku pun memberi tahu Dara.


"Biarkan saja kak, sehari ini bang Devan,"


"Kasihan juga Dar," aku pun mengunyah dengan lahap membayangkan kedua baby ku. Rasanya tak sabar lagi ingin pulang melihat keadaan buah hati ku.

__ADS_1


Terimakasih ya yang sudah setia membaca karya author. salam kecup dari author.


__ADS_2